Apa Kata Ahli Kesehatan Soal Aturan Baru PPKM Darurat Boleh Makan di Tempat Selama 20 Menit?

- Jumat, 30 Juli 2021 | 08:13 WIB
Ilustrasi (Kredit visual: kontan.co.id)
Ilustrasi (Kredit visual: kontan.co.id)

HARIANHALUAN.COM - Pemerintah melakukan pelonggaran aturan PPKM Darurat level 4 dan 3. Warung makan atau warteg, pedagang kaki lima, lapak jajanan, dan sejenisnya boleh melayani makan di tempat dengan syarat maksimal tiga orang dengan durasi 20 menit. Kebijakan tersebut pun menuai pro dan kontra. Sebagian kalangan mengeluhkan bahwa waktu 20 menit untuk makan tidaklah cukup.

Baca Juga: Tingkat Kepercayaan Publik Menurun, Puan Maharani: Pemerintah Perlu Melakukan Transparansi Data Covid-19

Akan tetapi, pihak pemerintah bersikeras bahwa durasi tersebut sudah cukup untuk waktu makan. Bahkan, Wali Kota Bogor Bima Arya mengatakan sempat mencoba makan di tempat dalam 20 menit. Dia pun mengunjungi dan makan di warung pecel lele untuk mengetahui dengan pasti penerapan kebijakan tersebut.

Hasilnya, Bima mengaku bahwa waktu tersebut cukup untuk makan, tapi rasanya seperti kesiangan sahur dan imsak dengan sisa waktu 20 menit. Dia pun menyadari bahwa praktik dan pengawasan kebijakan ini tidak mudah.

“Tetapi ini untuk mengurangi risiko penularan ketika makan. Banyak yang tetap memilih membawa pulang makanannya. Lebih aman,” kata Bima.

Baca Juga: Maria Ozawa Akui Tertarik dengan Ariel NOAH

Lalu, seperti apa kebijakan makan 20 menit tersebut jika ditinjau dari segi kesehatan? Apalagi ada persepsi di masyarakat bahwa mengunyah yang sehat dianjurkan dilakukan sebanyak 32 kali. Mengenai durasi makan yang tepat, ahli kesehatan masyarakat dr. Tan Shot Yen mengatakan bahwa hal ini tidak bisa digeneralisasikan pada setiap orang. Lama waktu untuk makan, lanjut dia,

tergantung pada kondisi fisik seseorang serta jenis, kepadatan, dan porsi makanannya. Sementara itu, dr Tan memaparkan bahwa waktu mengunyah setiap orang pun berbedabeda, apalagi tekstur makanan juga beragam sehingga tidak bisa dipatok mengunyah harus 32 kali. Dia mencontohkan perbedaan antara mengunyah pisang dan kacang.

Tekstur pisang lebih mudah dikunyah, sedangkan kacang-kacangan atau daging perlu waktu lebih lama sampai bisa ditelan dan masuk ke lambung. Gagasan perlunya mengunyah makanan sebanyak 32 kali awalnya dicetuskan oleh seorang ahli gizi asal Amerika Serikat bernama Horace Fletcher. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa mengunyah seperti itu berkaitan dengan jumlah gigi manusia.

Halaman:

Editor: Heldi Satria

Sumber: kontan.co.id

Terkini

Ada Apa? Giring Ganesha Sebut Anies Baswedan Pembohong

Selasa, 21 September 2021 | 22:55 WIB

Satgas Sebut Pandemi Covid-19 di Indonesia Terkendali

Selasa, 21 September 2021 | 18:55 WIB

Mulyanto Sambut Baik Indonesia Go Nuclear

Selasa, 21 September 2021 | 14:55 WIB
X