Kepala Jorong Prihatin, Banyak Siswa Putus Sekolah Karena Ekonomi dan Terlalu Lama Belajar Daring

- Jumat, 30 Juli 2021 | 10:24 WIB
ilustrasi dokumentasi kegiatan ekstrakurikuler bidang keagamaan murid SD.
ilustrasi dokumentasi kegiatan ekstrakurikuler bidang keagamaan murid SD.

PADANG ARO, HARIANHALUAN.COM - Sebagian pelajar di desa/nagari persiapan Lubuk Gadang Barat, Kecamatan Sangir Kabupaten Solok Selatan (Solsel) Sumatera Barat (Sumbar) memilih putus sekolah, alasannya karena faktor ekonomi dan bahkan terpengaruh belajar daring yang terlalu lama.

Baca Juga: Forkopimca Matur Tandatangani Pakta Integritas Penerapan Prokes

"Memang ada anak putus sekolah karena alasan ekonomi dan malas karena terpengaruh belajar daring selama pandemi. Proses belajar secara daring membuat mereka lebih banyak waktu libur," kata Bocye Muhammad, Kepala Jorong Karang Putiah Nagari Lubuk Gadang Barat, Kamis (30/7/2021).

Dia menyebutkan, selama pandemi Covid-19 ada sebanyak 5 orang pelajar putus sekolah disana. Dua orang pelajar setingkat SD, dua siswa SMP dan satu pelajar tingkat SMA.

Baca Juga: 45 Warga Padang Panjang Ikuti Vaksinasi Kedua di Silaing Atas

"Selain itu faktor lingkungan juga mempengaruhi sehingga malas sekolah, apalagi ada game online. Kadang ada juga yang berani melawan orangtuanya," tuturnya.

Dari lima orang anak yang putus sekolah itu, ada yang memilih bekerja di bengkel kendaraan. Umumnya yang putus sekolah pelajar laki-laki. "Ada juga pelajar yang tidak naik kelas dan malu pergi sekolah," sebutnya.

Boyce menyatakan di jorong itu ada sebanyak 286 Kepala Keluarga (KK) dimana 60 KK dengan kehidupan ekonomi yang pas-pasan.

Berbeda di Jorong Sapan Nagari Lubuk Gadang Barat, Kepala Jorong Handesta Pedri menyatakan faktor ekonomi sebagai alasan kuat banyaknya siswa putus sekolah di sini, akan tetapi pada umumnya saat ini sudah dalam usia remaja atau sudah berumur sekitar 20 tahun-an.

"Disini tidak ada terpengaruh lingkungan tapi karena faktor ekonomi. Jumlah maksimal yang putus sekolah itu kisaran 20 orang. Diantaranya, 5 orang siswa putus sekolah dalam massa pandemi dan sisanya putus sekolah jauh sebelum pandemi karena sudah banyak yang bekerja saat ini," katanya.

Handesta Pedri menyebutkan, lima orang siswa putus sekolah dalam kurun waktu pandemi itu umumnya pelajar tingkat SMP.

"Untuk antisipasi ini, Kita bersama pihak sekolah yang ada di Sapan mewacanakan pembelajaran secara non formal supaya mereka bisa belajar dan memiliki ijazah paket nantinya," terangnya.

Dia menambahkan, ada sekitar 182 KK di Jorong Sapan dan 30 KK diantaranya kategori masyarakat ekonomi lemah. (*)

Halaman:

Editor: Heldi Satria

Tags

Terkini

76.617 Pelajar Ikuti Kompetisi Sains Madrasah 2021

Sabtu, 23 Oktober 2021 | 16:50 WIB

Wakil Presiden: Santri Bagian Penting dari MES

Sabtu, 23 Oktober 2021 | 05:05 WIB

Puan: Santri Banyak Kontribusi untuk NKRI

Sabtu, 23 Oktober 2021 | 04:35 WIB
X