Mulyanto: Pemerintah tak Usah Ngotot Datangkan Vaksin dalam Bentuk Bahan Baku

- Jumat, 30 Juli 2021 | 18:20 WIB
Mulyanto
Mulyanto

JAKARTA, HARIANHALUAN.COM - Menyambut antusiasme masyarakat mengikuti program vaksinasi nasional, anggota DPR dari PKS Mulyanto mendesak pemerintah untuk menghitung neraca vaksin secara cermat.

"Jangan sekedar menarget 5 juta dosis per hari. Faktanya hingga 28 Juli 2021, pemerintah hanya mampu menyuntikkan 800 ribu dosis per hari. Itu pun sudah dengan termehek-mehek," tegas Mulyanto, Jumat (30/7/2021).

Menurut Mulyanto, di satu sisi kepala daerah sudah banyak yang teriak kehabisan vaksin.  Sementara di sisi lain, Kementerian BUMN bilang ada sebanyak 12 juta dosis vaksin yang belum terpakai. 

"Ada dimana barang itu? Jangan sampai vaksin ini kadaluarsa. Perlu kejelasan," tegas Mulyanto mempertanyakan.

Sebagaimana disampaikan Menteri Kesehatan, pemerintah sudah mendatangkan 173.306.740 dosis vaksin. Sebanyak 64.13 juta dosis telah digunakan atau sekitar 37 persen. Dengan demikian stok vaksin tersedia sebesar 63 persen atau sebanyak 109 juta dosis.

Namun sayangnya, sebagian sedang dalam proses pengujian oleh BPOM.  Sementara sisanya sebagian besar masih dalam bentuk bahan baku (bulk) yang perlu proses lanjut oleh Bio Farma.

"Jadi kalau kita cermati angka-angka ini, maka ada dua titik krusial yang perlu mendapat perhatian pemerintah, karena akan menjadi titik kemandegan, yakni vaksin yang tersisa di daerah dan lambatnya proses pengolahan bahan baku vaksin menjadi vaksin jadi di Bio Farma," kritik Mulyanto.

Ditekankan, pemerintah tidak usah ngotot dengan mendatangkan vaksin dalam bentuk bahan baku.  Merek vaksin lain dalam bentuk jadi atau yang dapat diolah oleh BUMN lain perlu diperbanyak. Tentu saja dengan mempertimbangkan tingkat keamanan, kemanjuran, kehalalan dan keekonomian.

"Hitung-hitungan neraca vaksin ini penting agar kecepatan dan pemerataan sebaran vaksinasi semakin proporsional sesuai dengan kebutuhan dan dapat terus ditingkatkan,"

Untuk diketahui, dari sejumlah 173 juta vaksin impor yang tersedia, sebesar 85% didominasi oleh Vaksin Sinovac.  Baru setelah itu Vaksin Astra Zeneca sebesar 8.6 persen.  Sinopharm sebanyak 3.5 persen dan vaksin Moderna hanya 2.5 persen. Vaksin Pfizer masih nol persen. 

Halaman:

Editor: Nova Anggraini

Terkini

Ada Apa? Giring Ganesha Sebut Anies Baswedan Pembohong

Selasa, 21 September 2021 | 22:55 WIB

Satgas Sebut Pandemi Covid-19 di Indonesia Terkendali

Selasa, 21 September 2021 | 18:55 WIB

Mulyanto Sambut Baik Indonesia Go Nuclear

Selasa, 21 September 2021 | 14:55 WIB

Mulai November, 44 Ponsel Ini Diblokir WhatsApp

Selasa, 21 September 2021 | 09:15 WIB
X