Bersepeda Itu Kebutuhan atau Sekedar Life Style?


Jumat, 03 Juli 2020 - 08:09:01 WIB
Bersepeda Itu Kebutuhan atau Sekedar Life Style? Ilustrasi

HARIANHALUAN.COM - Trend bersepeda yang tengah naik daun di saat pandemi covid-19, kian disoroti pengaruhnya terhadap gaya hidup masyarakat dlaam tatanan sosial. Pengamat sosial, Alfan Miko mengatakan trend bersepeda yang tengah booming saat ini bisa menjadi sarana olahraga (kebutuhan) ataupun gaya hidup.

"Bersepeda berkembang sejak dulu karena merupakan sarana olah raga yang murah dan sehat. Ada bersepeda sebagai sarana olah raga, ada sepeda sebagai gaya hidup dan membentuk komunitas tertentu," jelasnya.

Dewasa ini, Miko menyebut ketika bersepeda berkembang menjadi life style (gaya hidup) maka maknanya bergeser menjadi status simbol sosial tertentu.

"Saat ini harga sepeda yang bisa mencapai puluhan bahkan ratusan juta membuat bersepeda berkembang menjadi life style yang makna nya bergeser menjadi status simbol tertentu," sebutnya.

Dengan pergesaran tersebut, berkembanglah kelompok-kelompok dan komunitas sepeda sehingga menjadi lahan bisnis yang sangat progresif dan menguntungkan termasuk di zaman Covid-19.

Menyambung hal tersebut, Pengamat ekonomi yang juga merupakan Direktur Eksekutif Economic Action (Econact), Ronny P. Sasmita mengatakan perlu tinjauan lebih lanjut mengenai trend bersepeda ini.

"Perlu di-croscheck faktanya dulu saya kira, apakah yang bersepeda adalah golongan masyarakat yang terdampak secara ekonomi dan memilih beli sepeda ketimbang kebutuhan lain. Saya kira, di perkotaan, budaya dadakan ini muncul di kalangan menengah kota yang secara ekonomi, tidak terlalu terdampak dan masih memiliki penghasilan," sebutnya.

Ia menegaskan, cukup percaya bahwa semua kalangan masyarakat, masih rasional dalam berbelanja terlebih ketika pandemi covid-19 yang sangat berdampak terhadap ekonomi.

"Pilihan pertama pasti mengamankan kebutuhan dasar terlebih dahulu. Jika kebutuhan dasar sudah terpenuhi, baru masuk ke kebutuhan sekunder lainnya, termasuk sepeda," jelasnya.

Menurut Ronny, yang menikmati bersepeda, dari sebelumnya tidak memiliki sepeda dan kemudian membelinya, adalah kalangan menengah perkotaan yang memang memiliki kelebihan pendapatan khusus untuk menyalurkan hobby atau mencoba hobby baru.

"Inflasi di barang sepeda tentu sudah terjadi karena permintaannya berlipat dan harganya mendadak naik tinggi. Hanya saja sepeda tidak punya kaitanya langsung dengan barang publik seperti kebutuhan pokok, transportasi publik, dan barang-barang yang diatur pemerintah seperti listrik dan gas misalnya. Jadi kenaikan harga dan permintaan sepeda, imbasnya sangat kecil ke harga-harga barang lain yang dibutuhkan publik," katanya.

Permintaan sepeda yang tinggi dan inden pemesanan sekitar 1 bulan menurut Ronny masih dianggap sebagai gejala penyaluran hobby saja yang bisa dilakukan karena banyak waktu luang akibat pembatasan sosial dan libur yang cukup panjang.

"Jadi peningkatan penjualan sepeda lebih kepada gejala temporer akibat pandemik. Saya menduga, bukan perubahan permanen dalam hal bagaimana mansyarakat melakukan mobilitas, terutama dengan jarak yang cukup jauh. Artinya, perkembangan ini belum berarti telah terjadi perubahan dalam pola transportasi masyarakat. Lonjakan ini hanya untuk beberapa bulan (temporer), sehingga apabila situasi mulai normal kembali, aktifitas mulai seperti sebelumnya, maka angka penjualannya akan kembali normal," ungkapnya. (*)

loading...
Reporter : Yessi Swita /  Editor : Heldi Satria
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]