Benarkah Anak-Anak Lebih Kuat Hadapi Serangan Virus Corona COVID-19?


Jumat, 03 Juli 2020 - 11:46:51 WIB
Benarkah Anak-Anak Lebih Kuat Hadapi Serangan Virus Corona COVID-19? Ilustrasi

HARIANHALUAN.COM - Laporan DW Indonesia yang dikutip Jumat (3/7/2020) menyebut, dalam pandemi Corona jenis baru yang terjadi di Jerman misalnya, statistik menunjukkan, dari sekitar 9.000 kasus meninggal sejak pecahnya wabah, hanya tiga orang pasien di bawah usia 18 yang meninggal dunia.

Mengapa anak-anak lebih bisa menghadapi infeksi Virus Corona Sars-Cov-2, sejauh ini belum dipahami sepenuhnya oleh para ilmuwan. Dokter menduga, sistem tidak spesifik bawaan sudah efektif pada anak-anak. 

Sebagai proteksi terhadap patogen perdana, ibu memberikan proteksi sistem kekebalan tubuhnya pada janin dalam kandungan serta pada bayi saat dilahirkan secara alamiah melalui saluran vaginal. Setelah itu kekebalan makin terbentuk lewat pemberian air susu ibu.

Sistem pertahanan tubuh bawaan ini, termasuk sel pembunuh dan pembersih sampah, berupa sel darah putih yang menyerang patogen yang masuk ke dalam tubuh lewat mukosa membran kulit. 

Imunisasi pasif ini biasanya bertahan hingga anak memgembangkan sistem kekebalan tubuhnya sendiri. Anak-anak mulai mengembangkan sistem kekebalan tubuh khas pada kisaran usia 10 tahun. Tapi, bahkan setelah itu, sistem kekebalan tubuh bawaan masih bisa belajar sepanjang hidup, jika patogen baru muncul.

Virus Corona jenis baru SARS-Cov-2 juga punya pola infeksi unik. Berbeda dengan penyakit infeksi lainnya, yang biasanya menyebar cepat dalam populasi karena ditularkan oleh anak-anak yang disebut sebagai “spreader“, dalam kasus COVID-19, penyakit ini  tidak ditularkan oleh anak-anak. 

Riset ilmiah yang dilakukan pemerintah negara bagian Jerman Baden-Württemberg menunjukkan anak-anak bukan vektor penular Virus Corona jenis baru. Hasil riset ini, sekarang jadi landasan untuk kembali secepatnya dan secara komprehensif kegiatan normal di taman kanak-kanak dan sekolah. Syaratnya, standar higiene serta aturan jaga jarak tetap diperhatikan.

Walau begitu, tetap tidak jelas apakah anak yang terinfeksi Virus Corona sama berbahayanya dengan orang dewasa yang terinfeksi. Dalam penelitian lainnya, yang juga banyak didiskusikan, pakar virologi Christian Drosten dari rumah sakit Charité di Berlin menunjukkan, juga tenggorokan anak-anak memiliki virus yamg sama banyaknya dengan orang dewasa. Penelitian internasional lainnya, juga menarik kesimpulan yang sama.

Namun, keberadaan banyaknya virus dalam saluran pernafasan tidak membuktikan bahwa virus tersebut efeknya sama kuatnya. Karena anak-anak menunjukkan gejala lebih ringan, misalnya lebih sedikit batuk-batuk, hal itu bisa jadi menunjukkan mereka terinfeksi, tapi mereka menginfeksi lebih sedikit orang lainnya. Demikian pernyataan para dokter anak dan spesialis higiene yang dirilis oleh empat asosiasi medis terkemuka.

Walau begitu, tetap tidak jelas apakah anak yang terinfeksi virus corona sama berbahayanya dengan orang dewasa yang terinfeksi. Dalam penelitian lainnya, yang juga banyak didiskusikan, pakar virologi Christian Drosten dari rumah sakit Charité di Berlin menunjukkan, juga tenggorokan anak-anak memiliki virus yamg sama banyaknya dengan orang dewasa. Penelitian internasional lainnya, juga menarik kesimpulan yang sama.

Namun, keberadaan banyaknya virus dalam saluran pernafasan tidak membuktikan bahwa virus tersebut efeknya sama kuatnya. Karena anak-anak menunjukkan gejala lebih ringan, misalnya lebih sedikit batuk-batuk, hal itu bisa jadi menunjukkan mereka terinfeksi, tapi mereka menginfeksi lebih sedikit orang lainnya. Demikian pernyataan para dokter anak dan spesialis higiene yang dirilis oleh empat asosiasi medis terkemuka. (*)

loading...
 Sumber : Liputan6.com /  Editor : Heldi Satria
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Ahad, 02 Agustus 2020 - 19:27:18 WIB

    Benarkah Transplantasi Paru Jadi Pilihan Penyembuhan Pasien Covid-19?

    Benarkah Transplantasi Paru Jadi Pilihan Penyembuhan Pasien Covid-19? HARIANHALUAN.COM - Ankit Bharat, seorang ahli bedah toraks dan direktur bedah dari Northwestern Medicine Lung Transplant Program, mengatakan tidak ada pasien covid-19 yang akan hidup jika transplantasi pru-paru tidak dilakuka.
  • Senin, 27 Juli 2020 - 23:00:25 WIB

    Benarkah Thermo Gun Membahayakan Otak? Simak Penjelasan Guru Besar UGM Ini

    Benarkah Thermo Gun Membahayakan Otak? Simak Penjelasan Guru Besar UGM Ini HARIANHALUAN. COM - Guru Besar Departemen Neurologi FKKMK UGM, Prof. Samekto Wibowo mengatakan, informasi terkait thermo gun bisa membahayakan otak tidak benar. Terlebih, thermo gun sudah lama dipakai bidang medis dan tidak a.
  • Sabtu, 25 Juli 2020 - 12:01:38 WIB

    Benarkah CFD Rentan Tertular Covid-19, Mitos atau Fakta?

    Benarkah CFD Rentan Tertular Covid-19, Mitos atau Fakta? HARIANHALUAN.COM - Spesialis kedokteran olahraga yang juga direktur Slim & Health Sports Center Jakarta, dr Michael Triangto, SpKO menyebutkan, bahwa mengikuti CFD aman karena berada di udara terbuka sehingga tidak memungkink.
  • Sabtu, 25 Juli 2020 - 07:51:49 WIB

    Benarkah Berbicara Bisa Tularkan Corona?

    Benarkah Berbicara Bisa Tularkan Corona? HARIANHALUAN.COM - Para ilmuwan meyakini SARS-CoV-2, virus Corona penyebab COVID-19, bisa bertahan di udara dalam bentuk mikrodroplet yang keluar saat bernapas maupun berbicara. Yang belum bisa dipastikan adalah, apakah virus.
  • Ahad, 12 Juli 2020 - 20:23:36 WIB

    Benarkah Virus Corona juga Rusak Organ Vital selain Paru-paru?

    Benarkah Virus Corona juga Rusak Organ Vital selain Paru-paru? HARIANHALUAN.COM - Virus corona bukan hanya merusak fungsi paru-paru, tetapi juga organ vital lainnya seperti hati, jantung, otak, sistem saraf, kulit, hingga saluran pencernaan. Temuan terbaru ini dimuat laporan yang dilakuk.

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]