Bubonic, Wabah yang Gemparkan China setelah Covid-19


Selasa, 07 Juli 2020 - 19:59:48 WIB
Bubonic, Wabah yang Gemparkan China setelah Covid-19 Ilustrasi

HARIANHALUAN.COM - Departemen Kesehatan Kota Bayannur, Mongolia pada Minggu (5/7) lalu mengkonfirmasi bahwa ada seorang peternak di wilayahnya yang terinfeksi wabah bubonic atau bisa disebut pes atau maut hitam.

Diberitakan cnnindonesia.com, wabah bubonic merupakan sebuah penyakit yang berasal dari bakteri Yersinia Pestis. Penyakit itu ditularkan oleh tikus yang terinfeksi melalui kutu ke manusia.

Pemerintah setempat dan China menerapkan sejumlah langkah untuk mencegah penyebaran wabah semakin masif, salah satunya warga dihimbau untuk tidak mengkonsumsi tikus seperti dilansir The New York Times.

Selain peternak tersebut, wabah bubonic juga menyerang seorang anak berusia 15 tahun di kota tersebut. Diketahui ia mengalami demam setelah makan marmut yang diburu oleh seekor anjing.

Sementara itu ada dua pasien wabah bubonic lainnya terdapat di provinsi Khovd, Mongolia. Kedua pasien itu disebut bersaudara dan mengidap wabah bubonic setelah memakan daging marmut. Setidaknya lima orang telah dinyatakan meninggal dunia akibat terinfeksi wabah bubonic sejak 2014 lalu.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), seseorang yang terinfeksi wabah pes akan mengalami demam, sakit kepala, kedinginan bahkan muncul kelenjar getah bening.

Bakteri berkembang biak di kelenjar getah bening terdekat dengan tempat bakteri masuk ke tubuh manusia. Biasanya, seseorang mengalami gejala-gejala tersebut antara dua atau enam hari setelah terinfeksi.

Penularan penyakit pes dari manusia ke manusia jarang terjadi. Wabah pes juga dapat mempengaruhi paru-paru sehingga menyebabkan batuk, nyeri dada, dan sulit bernapas seperti dikutip BBC.

Pengecekan penyakit Pes pada bagian paru-paru akan dilakukan melalui pengambilan sampel yang berasal dari lendir saluran pernapasan melalui metode bronkoskopi. Selain itu, bakteri yang terdapat di dalam wabah pes dapat masuk ke aliran darah dan menyebabkan kondisi yang disebut septikemia atau sepsis.

Septikemia adalah infeksi aliran darah yang cukup serius karena bisa menyebar ke seluruh bagian tubuh, bahkan bisa berujung pada kematian. Selain tikus, ada dua hewan peliharaan yang mesti diwaspadai yaitu kucing dan anjing yang bisa saja memakan tikus yang terinfeksi wabah pes.

Seseorang juga dapat terinfeksi wabah pes melalui luka di kulit jika ia melakukan kontak dekat dengan darah hewan yang terinfeksi.

Untuk mengobati pasien bubonic, dapat ditangani dengan antibiotik. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), tanpa pengobatan, penyakit ini dapat menyebabkan kematian hingga 60 persen.

Wabah bubonic pertama kali dimulai pada abad ke-14 atau sekitar tahun 1347 hingga 1351 di benua Eropa dan membunuh hampir dua per tiga populasi Eropa.

Komisi Kesehatan China telah melarang perburuan dan konsumsi hewan yang dapat membawa penyakit terutama marmut. Pihak berwenang China juga meminta setiap warga melaporkan jika melihat ada tikus atau hewan sejenis lainnya yang mati.

Wabah ini muncul ketika China masih belum selesai menghadapi ancaman pandemi virus corona (Covid-19).(*)

loading...
 Sumber : cnnindonesia /  Editor : Nova Anggraini
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]