Studi: Banyak Pandemi Seperti Corona Bisa Terjadi di Masa Depan


Rabu, 08 Juli 2020 - 10:17:55 WIB
Studi: Banyak Pandemi Seperti Corona Bisa Terjadi di Masa Depan Pandemi seperti Corona mungkin lebih banyak terjadi di masa depan

JAKARTA, HARIANHALUAN.COM - Sebuah laporan studi menemukan kondisi yang membuat pandemi seperti Corona mungkin lebih banyak terjadi di masa depan. Seperti meningkatnya permintaan daging liar dan kerusakan lingkungan.

United Nations Environment Programme (UNEP) dan International Livestock Research Institute mengatakan virus Corona COVID-19 hanyalah yang terbaru dari semakin banyak penyakit termasuk Ebola yang menyebar dari hewan ke hewan.

Laporan berjudul 'Mencegah Pandemi Selanjutnya: Penyakit zoonosis dan cara memutus rantai penularan', menemukan bahwa peningkatan jumlah penyakit zoonosis disebabkan ketika patogen melompat dari hewan ke manusia. Hal ini didorong oleh perusakan lingkungan alam melalui degradasi lahan, eksploitasi satwa liar, ekstraksi sumber daya, dan perubahan iklim.

"Ilmu pengetahuannya jelas bahwa jika kita terus mengeksploitasi satwa liar dan menghancurkan ekosistem kita, maka kemungkinan akan ada penyakit yang terus-menerus berpindah dari hewan ke manusia di tahun-tahun mendatang," kata direktur eksekutif UNEP Inger Andersen.

"Pandemi menghancurkan kehidupan dan ekonomi kita, dan seperti yang telah kita lihat selama beberapa bulan terakhir, yang paling menderita adalah yang termiskin dan paling rentan. Untuk mencegah wabah di masa depan, kita harus lebih berhati-hati dalam melindungi lingkungan alami kita," lanjut Andersen.

Setiap tahun sekitar 2 juta orang, sebagian besar di negara berpenghasilan rendah dan menengah meninggal karena penyakit zoonosis yang terabaikan, demikian laporan tersebut.

Andersen mengatakan bahwa virus Corona COVID-19 mungkin yang terburuk untuk saat ini, tetapi itu bukan yang pertama atau yang terakhir. "Kita sudah tahu bahwa 60 persen dari penyakit menular yang diketahui pada manusia dan 75 persen dari semua penyakit menular yang muncul adalah zoonosis. Ebola, SARS (sindrom pernapasan akut parah), virus Zika, dan flu burung semuanya datang kepada manusia melalui hewan," katanya.

Dikutip dari SCMP, meningkatnya konsumsi hewan liar di Asia Timur, terutama di daratan China, mungkin meningkatkan risiko virus atau penyakit zoonosis yang melonjak dari hewan ke manusia, studi tersebut memperingatkan.

Dikatakan bahwa pada tahun 2006, hampir 20.000 usaha pembiakkan satwa liar dan pertanian telah didirikan di China. "Karena konsumen kaya cenderung lebih suka binatang yang ditangkap dari alam, daging dari peternakan ini sering dikonsumsi oleh kelas menengah China yang berkembang pesat," menurut laporan itu, yang diluncurkan di ibukota Kenya, Nairobi, Senin.

Laporan itu juga mengatakan bahwa pasar basah tradisional, di mana daging segar, ikan, dan lainnya yang mudah rusak dijual, dikaitkan dengan penyebaran SARS dan COVID-19.

"Ada konsensus bahwa pasar informal dapat berisiko secara epidemiologis, terutama yang menjual hewan peliharaan atau hewan liar hidup atau mati dan yang memiliki kebersihan yang buruk," kata laporan itu.

loading...
 Sumber : detik.com /  Editor : Rahma Nurjana
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Rabu, 15 Juli 2020 - 13:01:57 WIB

    Studi: Banyak Orang Terkena 'Broken Heart Syndrome' karena Pandemi Corona

    Studi: Banyak Orang Terkena 'Broken Heart Syndrome' karena Pandemi Corona HARIANHALUAN.COM - Sebuah studi baru yang dirilis oleh Journal of American Medical Association. Studi ini mengatakan bahwa makin banyak orang terkena 'broken heart syndrome' selama pandemi corona terjadi..
  • Senin, 15 Juni 2020 - 14:56:59 WIB

    Studi: Pasien Covid-19 Tanpa Gejala Bisa Alami Kerusakan Organ

    Studi: Pasien Covid-19 Tanpa Gejala Bisa Alami Kerusakan Organ HARIANHALUAN.COM - Analisis baru dari Scripps Research telah menemukan bahwa 30 hingga 40 persen pasien Corona tidak menunjukkan gejala, tetapi hal ini tidak berpengaruh pada dampak yang disebabkan oleh COVID-19. Ahli jantu.
  • Kamis, 23 April 2020 - 07:29:43 WIB

    Studi: Bayi Kelahiran Caesar Berisiko Obesitas dan Diabetes

    Studi: Bayi Kelahiran Caesar Berisiko Obesitas dan Diabetes JAKARTA, HARIANHALUAN.COM -- Proses persalinan caesar dikenal membawa konsekuensi yang berdampak panjang. Studi baru-baru ini menemukan proses kelahiran caesar meningkatkan risiko bayi mengalami obesitas dan diabetes tipe 2.
  • Ahad, 19 April 2020 - 18:57:27 WIB

    Hasil Studi: Faktor Biologis Buat Pria Rentan Terpapar Covid-19

    Hasil Studi: Faktor Biologis Buat Pria Rentan Terpapar Covid-19 HEALTH, HARIANHALUAN.COM -- Penelitian mengungkapkan bahwa virus corona lebih banyak diderita oleh anak laki-laki. Beberapa ahli memperingatkan bahwa laki-laki mungkin menjadi salah satu faktor kerentanan risiko Covid-19, sam.
  • Kamis, 02 April 2020 - 10:37:46 WIB

    Studi: Diare Diklaim Bisa Jadi Gejala Awal Covid-19

    Studi: Diare Diklaim Bisa Jadi Gejala Awal Covid-19 JAKARTA, HARIANHALUAN.COM - Studi terbaru menunjukkan, sebagian pasien positif infeksi virus corona (Covid-19) mengalami gejala awal berupa gangguan pencernaan, terutama diare..

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]