Tik-Tok, dan Simulakra Kepemudaan


Kamis, 09 Juli 2020 - 22:33:59 WIB
Tik-Tok, dan Simulakra Kepemudaan Andreas Mazland

HARIANHALUAN.COM - Tik-Tok hari-hari ini di Indonesia, telah menjamur layaknya cendawan di musim penghujan. Hampir seluruh elemen masyarakat di Indonesia terlihat asyik-masyuk bermain Tik-Tok, baik tua, muda, remaja, hingga anak-anak. Ditengah-tengah isu kemiskinan, korupsi dan ketimpangan sosial di Republik Indonesia, ultra-hedonisme justru berkembang sangat pesat dalam diri generasi muda kita.

 

Oleh: Andreas Mazland

Menurut data Sensor Tower, aplikasi ini telah diunduh lebih dari 1 miliar kali di seluruh dunia, dan Tik-Tok mengklaim punya 20 juta lebih pengguna aktif di Indonesia. Aplikasi yang pada awal mulanya pernah diblokir oleh Kominfo dan dikutuki oleh tokoh-tokoh publik, sebagai aplikasi unfaedah, mulai memukul mundur argumen tokoh-tokoh publik tersebut. Bahkan mereka pun kini mulai aktif menggunakan Tik-Tok dalam upaya mendapatkan simpati dari kalangan milenial, sebagaimana yang dapat kita lihat di acara Mata Najwa beberapa waktu yang lalu.

Mulai digandrunginya Tik-Tok oleh para tokoh publik ini, tidak dapat dilepaskan dari peranan Kepala BPIP yang ingin mengsinergikan Pancasila dengan Tik-Tok, agar Pancasila dapat hadir ditengah-tengah kesibukan masyarakat Indonesia dengan seluruh fitur yang disedikan oleh Tik-Tok. Pada dasarnya hasrat negara untuk mengawinkan Tik-Tok dan Pancasila merupakan usulan yang cukup mengejutkan, mengingat banyak hal-hal negatif yang terdapat dalam Tik-Tok. Apalagi ditengah-tengah isu degradasi moral dikalangan kaum muda.

Apakah usulan tersebut adalah senjata terakhir untuk memberikan pemahaman pancasila pada generasi muda? Hal ini tentu saja memancing kegundahan kita, walaupun dampak yang diberikannya pada generasi milenial jauh dari kata positif, meski tidak pula dapat dikatakan seluruhnya negatif. Tapi apakah tidak ada jalan lain, untuk mengambil simpati generasi muda? Sampai-sampai tokoh publik dan lembaga yang mengaku, berhak mengatur norma-norma yang akan dijalankan generasi muda, agar tidak terlepas dari akar budayanya, menjilat ludah sendiri?
Generasi yang Terlepas dari Realitas Sosial.

Dalam diskusi, sekolah, rapat paripurna kepala daerah dan sebagainya, Tik-Tok benar-benar menjadi produk zaman yang amat berpengaruh. Walaupun hanya hipotesis, namun jika ditinjau secara kritis, dampak Tik-Tok tersebut justru secara perlahan-lahan, lebih banyak mulai mengikis moralitas generasi muda Indonesia. Hyper-Utopianistik bangsa ini, pada Tik-Tok, barangkali akan menjadi sesuatu yang fatal akibatnya di masa yang mendatang. Apabila lahir generasi apatis yang jauh dari realita sosial dan memiliki kesibukan yang berlebihan dalam dunia digital, maka itu adalah buah kelalaian kita bersama dalam memanfaatkan kemajuan teknologi.

Generasi muda kita saat ini, berada dalam tahap yang disebut oleh Jean Baudrillard (tokoh kebudayaan asal Prancis), yaitu Simulakra. Karena generasi muda kita dewasa ini tidak lagi menggunakan teknologi berdasarkan fungsi dan kebutuhannya, melainkan hanya sebatas simbol. Realitas yang ada hanyalah realitas palsu, dan kemudian menjadi komoditas bagi industri. Dunia hedonisme dan materialisme, tumbuh dengan sangat garang dan tidak terkendali.

Pada dasarnya, Jean-Jacques Rousseau dalam bukunya Discours Sur I’lne’gate telah lama meramalkan dampak buruk yang akan diberikan kemodernan, jauh sebelum dunia modern itu hadir di tanah Eropa. Rousseau adalah tokoh sentral pengkritik kemodernan yang paling getol pada masanya. Ia mengutuki adanya orang yang sangat santai, saat orang lain bekerja amat keras melawan hidup: manusia yang jauh dari realita sosial.

Pada hari ini dalam kenyataannya gotong royong mulai ditinggalkan, kepekaan sosial semakin tumpul. Kebudayaan kolektif yang pernah ada dalam keseharian generasi 90-an mulai terkikis dan digantikan oleh sifat individual yang berkembang biak dalam dunia teknologi industri 4.0. Haruskah nilai-nilai luhur pancasila yang lahir dari nilai-nilai komunal masyarakat Indonesia dipaksa mengikuti kemauan zaman yang tak jelas kemana arahnya?

Oleh karena itu, simbol-simbol sosial, dan bahasa-bahasa tanda akan memudarnya nilai-nilai adiluhung pancasila yang digali dari kebiasaan seluruh suku-bangsa yang mendiami Indonesia sejak dahulu kala, harus dicegah sedini mungkin. Karena, masa depan bangsa Indonesia ada di pundak generasi muda kita. Andai kata, karakter dan konstruk berpikir mereka telah cacat sebelum tongkat estafet itu diberikan, masa depan Indonesia bisa berada dalam zona merah.

Sebab, menurut Rousseau, segala penyakit sosial tersebut dibuat oleh diri kita sendiri, untuk itu kedepannya kitalah yang seharusnya mengendalikan teknologi, bukan sebaliknya. Kita patut belajar dari tokoh-tokoh besar teknologi yang berhasil mengatur regulasi pemakaian teknologi dalam lingkup keluarganya sendiri, sehingga dampak buruk teknologi dapat mereka redam. Paling tidak, sisi-sisi negatif dari Tik-Tok dan sebangsanya dapat diminimalisir sampai generasi muda kita paham betul dengan esensi sebenarnya dari kemajuan teknologi beserta seluruh atributnya, sehingga mereka dapat dilepaskan dengan hati yang tenang untuk menjadi pengembala zaman: bukan digembalai zaman.

Membangun generasi yang tangguh, adalah tanggung jawab pemerintah yang paling wajib untuk dipenuhi, sejak sebuah wilayah berdiri tegak sebagai negara yang berdaulat: baik melalui nilai-nilai adiluhung yang terdapat dalam setiap unsur pancasila, maupun mengadopsi pola-pola negara-negara maju dalam membangun karakter generasi mudanya. Dalam kitab suci Alquran, surat An-Nisa ayat 9, telah disebutkan dengan jelas tanpa bahasa simbol dan metafora, bahwa meninggalkan generasi muda dalam keadaan yang lemah, merupakan sebuah kesalahan besar. Maka dari itu, pembinaan generasi penerus harus dikonsep dengan sematang-matangnya, supaya pembinaan yang diberikan jelas dan terarah. (*)
 

loading...
 Editor : Heldi Satria
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]