Terasing di Tanah Kelahiran, Tuanku Imam Bonjol Tak Seharum Namanya


Kamis, 09 Juli 2020 - 23:27:39 WIB
Terasing di Tanah Kelahiran, Tuanku Imam Bonjol Tak Seharum Namanya Meriam "Bujang Palembang", saksi sejarah perjuangan kaum Paderi dibawah komando Pahlawan Nasional Tuanku Imam Bonjol.

HARIANHALUAN.COM - Siapa yang tidak kagum akan kemegahan nama sosok Pahlawan Nasional Tuanku Imam Bonjol, Panglima Perang Paderi yang diakhir perjuangannya tertangkap dan harus hidup di tanah pengasingan hingga akhir hayatnya. 

 

Oleh : Rully Firmansyah

Dikatakan seorang keturunan ke-enam Tuanku Imam Bonjol yang bermukim di kawasan Nagari Ganggo Hilia, Kecamatan Bonjol Kabupaten Pasaman, areal yang dulu dikenal sebagai pusat pertahanan kaum Paderi ketika melawan penjajah, Uci Lisbudiwati (62), Imam Bonjol terlahir dengan nama Muhammad Sahab seabad  yang lalu, kemudian diberi gelar Peto Syarif dan juga disapa dengan nama Malin Basa. 

"Sebutan Tuanku Imam Bonjol dilahirkan oleh kelompok Harimau Nan Salapan yang merupakan kumpulan para ulama besar di Tanah Minangkabau, penggagas gerakan pemurnian ajaran Islam yang mereka nilai sudah terkotori oleh prilaku kaum adat yang terpengaruh oleh tabiat para penjajah barat, " Kisahnya. 

Perlawanan gigih dengan niat luhur membela kebenaran dan menegakkan keadilan, menjadikan Imam Bonjol dipandang sebagai sosok yang menakutkan dan harus dilumpuhkan gebrakannya oleh musuh. 

Berbagai cara dan upaya dilakukan penjajah, salah satunya dengan mendatangkan sisa pasukan Pangeran Diponegoro dari Tanah Jawa, yang dipimpin oleh Kyai Sentot Alibasya yang kemudian justru menggabungkan kekuatan melawan penjajah setelah mengetahui Imam Bonjol adalah saudara seiman, sebangsa dan setanah air. 

Namun, sosoknya yang telah turut menorehkan tinta emas nilai-nilai kepahlawanan dalam sejarah panjang bangsa Indonesia menuju gemerlapnya kebebasan terlepas dari belenggu penjajahan bangsa asing di Bumi Pertiwi, ternyata tidak mendapatkan tempat layaknya seorang pahlawan kemerdekaan di tanah kelahirannya sendiri. 

Diungkapkan salah seorang tokoh muda daerah itu, Hendra Bagindo Ratu, Benteng Gunung Tak Jadi yang merupakan saksi sejarah kegigihan kaum Paderi mempertahankan keimanan dan marwah sebagai bangsa yang besar, saat ini tidak terawat baik dan nyaris diabaikan keberadaannya. 

"Berbeda perlakuan dengan peninggalan penjajah Belanda yang se-zaman kehadirannya sebagai salah satu pusat kekuatan mereka di Minangkabau, Benteng Fort de Kock di Kota Bukittinggi, yang hingga saat ini berdiri gagah dan indah yang menjadi salah satu ikon pariwisata kota itu, " Sesalnya. 

Bahkan menurutnya, areal bekas benteng kaum Paderi itu saat ini kerap dijadikan tempat berbuat asusila dan mabuk-mabukan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab, karena luput dari perhatian dan pengawasan pihak aparat berbagai tingkatan. 

Tikar, kondom bekas, lem dan sejumlah benda-benda diduga sisa perbuatan tidak senonoh dan perbuatan tercela lainnya, sudah lazim ditemukan di areal situs perjuangan yang sempat direnovasi namun kembali diabaikan pihak berwenang. 

Beruntung, salah satu meriam peninggalan ulama besar dan panglima perang Paderi itu masih tersisa dan terawat baik di sudut perkampungan masyarakat yang berada sekitar satu kilometer dari areal benteng. 

Konon, Meriam itu dilempar karena oleh Imam Bonjol sebagai bentuk kemurkaan dengan adanya pengkhianatan yang mengakibatkan posisi tentara dan bentengnya diketahui oleh musuh.

"Belanda menembakkan koin gulden emas sehingga pasukan berebutan dan posisi pertahanan Tuanku Imam Bonjol menjadi diketahui, " Kata keturunannya, Uci Lisbudiwati menambahkan. 

Kini, lanjutnya, meriam yang diduga buatan Inggris itu diletakkan dalam sebuah bangunan sederhana, setelah sempat dipindahkan namun semakin terbenam seperti ditarik bumi setiap ada upaya mengangkatnya. 

Pasca kehebohan tentang ditemukannya puluhan peluru meriam secara tidak sengaja oleh masyarakat setempat, baru-baru ini,  seolah menjadi mesin pengingat akan nilai-nilai kepahlawanan yang diwariskan Tuanku Imam Bonjol bagi bangsa ini khususnya rakyat Pasaman, Tanah Kelahirannya. 

Disanjung sebagai Pahlawan Nasional Kemerdekaan, sederet bintang penghargaan, makam yang megah di pengasingan beliau di pulau Sulawesi, dijadikan salah satu nama jalan utama di kota-kota seantero nusantara, ternyata tak membuat Tuanku Imam Bonjol dihargai sama di kampung halamannya. 

Kenyataan ini sempat diabadikan oleh salah seorang penyair berdarah Pasaman, Arby Tanjung, dalam puisinya berjudul "Katanya Di kampung Ku Ada Pahlawan", sebagai bentuk keresahannya dan bentuk protes keras bersama komunitas penulis di Pasaman, dengan ketidakpedulian pemerintah akan situs sejarah peperangan yang sangat melegenda penuh darah dan air mata para pejuang yang telah gugur sebagai bunga bangsa. 

Tuanku Imam Bonjol, ternyata tempat pengasingannya jauh lebih menghargai sosoknya dengan pantas dibandingkan tempat kelahiran yang ia bela mati-matian. 

Ingatan pun melayang pada sebuah kutipan salah satu tulisan peninggalannya, "Melawan Penjajah Buatku Tidak Masalah, Tapi Menyatukan Kaum Ku Telah Membuat Ku Terluka.  (*)

 

 

loading...
Reporter : Rully Firmansyah /  Editor : Heldi Satria
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]