Diksi New Normal Diubah Jadi 'Adaptasi Kebiasaan Baru', PKB: Istilah Asing Sulit Nyantol di Masyarakat


Ahad, 12 Juli 2020 - 07:21:01 WIB
Diksi New Normal Diubah Jadi 'Adaptasi Kebiasaan Baru', PKB: Istilah Asing Sulit Nyantol di Masyarakat Ketua DPP PKB Daniel Johan

JAKARTA, HARIANHALUAN.COM - PKB menilai diksi 'adaptasi kebiasaan baru' lebih tepat diterapkan di Indonesia ketimbang 'new normal'. PKB menyebut penggunaan istilah-istilah asing tidak tepat karena tidak semua masyarakat paham.

"Yang benar memang adaptasi kebiasaan baru jauh lebih mudah dipahami oleh masyarakat umum, bukan malah menggunakan istilah-istilah asing yang sulit nyantol di kesadaran masyarakat umum," kata Ketua DPP PKB, Daniel Johan kepada wartawan, Sabtu (11/7/2020).

Namun, Daniel juga menyoroti kata adaptasi dalam istilah 'adaptasi kebiasaan baru' yang dinilai terlalu intelek. Menurutnya, alangkah lebih baik pemerintah memilih kata yang lebih akrab terdengar di telinga masyarakat.

"Penting segera dikoreksi bila ada yang kurang tepat, ke depan hal-hal yang paling mudah dipahami masyarakat yang harus menjadi pendekatan pemerintah. Kalimat adaptasi juga terlalu 'intelek', bisa menggunakan istilah yang masyarakat lebih akrab seperti 'menyesuaikan dengan' atau 'hidup dengan'," ucap Daniel.

Sebelumnya diberitakan, juru bicara pemerintah untuk penanganan Corona (COVID-19), dr Achmad Yurianto, mengungkapkan ada diksi yang salah di kata 'new normal'. Dia menilai diksi yang benar adalah adaptasi kebiasaan baru.

"Diksi new normal itu sebenarnya di awal diksi itu segera kita ubah, waktu social distancing itu diksi yang salah, dikritik langsung kita ubah, new normal itu diksi yang salah, kemudian kita ubah adaptasi kebiasaan baru tapi echo-nya nggak pernah berhenti, bahkan di-amplify ke mana-mana, gaung tentang new normal itu ke mana-mana," ujar Yuri di launching buku 'Menghadang Corona' di Kompleks DPR, Senayan, Jakarta Pusat, Jumat (10/7).

Kenapa pemerintah mengganti kata new normal? Sebab, kata Yuri, jika tagline new normal dipakai, maka masyarakat akan fokus ke kata 'normal'-nya saja. Tidak pada 'new' atau pembaruannya.

"Kemudian yang dikedepankan bukan new-nya malah normalnya. New-nya itu jalan nggak tahu echo-nya, jadi belakangan, tok normal, ini yang nggak... Padahal ini sudah kita perbaiki, dengan adaptasi kebiasaan baru," jelas Yuri. (*)

loading...
 Sumber : detik.com /  Editor : Rahma Nurjana
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]