Mencari Tokoh Baru Minangkabau di Pentas Nasional, Sebuah Peringatan Atas Glorifikasi Sejarah


Jumat, 17 Juli 2020 - 14:21:16 WIB
Mencari Tokoh Baru Minangkabau di Pentas Nasional, Sebuah Peringatan Atas Glorifikasi Sejarah Hafiz Noer, Penulis Partikelir. Ist

HARIANHALUAN.COM - Oleh: Hafiz Noer, Penulis Partikelir

Masyarakat Minangkabau sadar betul bahwa para pendahulunya adalah founding fathers dari negara kita tercinta ini. Di era kemerdekaan, deretan nama seperti Mohamad Hatta Mohamad Natsir, Rasuna Said, dan Rohana Kudus adalah sedikit dari banyak tokoh Minangkabau yang telah memberikan kontribusi positif bagi kemerdekaan Indonesia.

Dengan kecerdasan para tokoh tersebut di bidangnya masing-masing, serta semangat pergerakan yang ditebarkan ke masyarakat, mereka telah berhasil merebut hati masyarakat Minangkabau dan lebih-lebih memberikan dampak yang signifikan bagi Indonesia secara luas.

Namun, glorifikasi atas sejarah ini sering kali dielu-elukan oleh masyarakat Minangkabau. Hal ini justru melupakan satu bagian penting yang sudah seharusnya kita cari: dimanakah kini tokoh Minangkabau di pentas nasional?

Tanah Minangkabau sebagai pusat pendidikan dan pergerakan pra-kemerdekaan

Patutlah berbangga hati bahwa pada masa pergerakan, Sumatra Barat (Sumbar) sudah menjadi pusat dari pendidikan modern yang tidak hanya mengajarkan ilmu agama, namun juga menggabungkannya dengan ilmu-ilmu duniawi lainnya.

Indonesisch-Nederlandsche School (INS) Kayutanam yang didirikan oleh Engku Mohammad Sjafei mendobrak stigma lulusan sekolah kolonial yang hanya mencetak pegawai pemerintahan. Sjafei memikirkan esensi bahwa sekolah tidak berhenti hanya sebatas di “bangku sekolah” saja. INS Kayutanam juga mengajarkan murid dengan kurikulum yang inovatif, seperti kesenian dan musik. Sastrawan A.A. Navis adalah jebolan INS Kayutanam.

Contoh lain yang paling signifikan adalah perguruan Sumatra Thawalib di Padang Panjang buah pemikiran dari, salah satunya, Haji Abdul Karim Amrullah (ayahanda dari Buya Hamka).

Sumatra Thawalib melawan kebiasaan pendidikan sistem tradisional. Kurikulum sekolah yang awalnya hanya mengajarkan Bahasa Arab, ilmu fikih, serta tafsir quran, dimoderasi dengan kemampuan soft-skill. Kepiawaian dalam berdebat, berpikir kritis, bertutur kata, serta berorganisasi turut diajarkan. Bahkan berbagai haluan idelogi turut diajarkan sebagai bentuk kebebasan akademik di sekolah.

Berbekal fondasi keislaman yang mengakar, keilmuan yang kokoh, kecakapan soft-skill, serta akses pendidikan inilah yang membuat tokoh Minangkabau disegani atas kapasitasnya.

Namun keberhasilan sejarah ini sudah seharusnya menjadi refleksi diri bagi masyarakat Minangkabau, alih-alih menjadi bumerang. Sudah saatnya kita move on dan membekali diri di bidang masing-masing guna menebar kebermanfaatan di level nasional.

Politik Bermoral Agama ala Buya Hamka

Sejatinya tiap orang mempraktikkan politik dalam kehidupan sehari-hari, namun tidak kita sadari itu adalah bagian dari politik. Membuat keputusan, bercengkerama dengan masyarakat, menentukan sikap, adalah bentuk dari politik dalam kehidupan sehari-hari. Tentu untuk memulai kegiatan itu semua, dibutuhkan modal keilmuan yang kuat agar kita sebagai manusia tidaklah “kosong”.

Masyarakat Minangkabau wajib hukumnya untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek), sebagai cerminan seorang Muslim. Penguasaan Iptek membuat kita berpikir jauh ke depan dan out of the box.

Namun menurut Buya Hamka, ilmu tanpa iman bagaikan lentera di tangan pencuri. Oleh karena itu penguasaan ilmu harus dipadukan dengan kekokohan iman. Dalam Alquran dijelaskan bahwa salah satu fungsi manusia adalah sebagai khalifah di muka bumi untuk menjaga hablumminannas yang didasari oleh perilaku jujur, amanah, adil, tanggung jawab dan seterusnya.

Hamka mengajak kita untuk berpolitik dalam koridor moral agama. Apabila ada perbedaan hendaknya diselesaikan dengan musyawarah, mampu menjaga hawa nafsu, pun juga berperilaku jujur dan amanah dalam menjalankan tugas.

Perilaku ini hendaknya harus didukung dengan kematangan dan konsistensi dalam menjalankannya. Intinya adalah individu harus konsisten menegakkan kebenaran—satu kata dan perbuatan.

Tokoh, Takah, Tageh

Sebagai masyarakat Sumbar, patutlah disyukuri pula bahwa nilai-nilai keagamaan ini dapat dipadukan dengan persepsi kultural tentang sosok pemimpin yang ideal. Persepsi “takah”, “tageh”, dan “tokoh” (3T) yang pernah ditulis oleh Gubernur Sumbar Irwan Prayitno (2016) adalah modal penting bagi calon pemimpin.

Seseorang harus memiliki karisma (takah) atau kualitas kepribadian individu yang disertai dengan penuh semangat (tageh) dalam bermasyarakat. Modal karisma ini dapat diperoleh dengan menjalankan prinsip politik bermoral agama seperti yang telah disebutkan diatas. Selain itu seorang pemimpin juga harus memiliki keberpihakan yang jelas, yakni untuk kesejahteraan masyarakat.

Kombinasi keislaman dan nilai kultural ini dapat menghasilkan bukan sekedar pemimpin, namun juga tokoh yang memiliki kualitas keislaman dan penguasaan ilmu.

Mencari Tokoh Baru Minangkabau di Pentas Nasional

Sekarang, generasi milenial memiliki akses yang berlimpah. Akses terhadap informasi dan pendidikan tumpah ruah apabila kita bandingkan di masa pergerakan. Namun, menjadi tantangan bagi generasi kita untuk memanfaatkan sumber daya ini untuk kebaikan orang banyak.

Sebagai pencetak calon pemimpin bangsa, institusi pendidikan dan keagamaan harus bisa mengambil nilai positif dari era ini guna meningkatkan inovasi pengajaran.

Pemahaman terhadap agama hendaknya tidak hanya dijalankan ketika semasa sekolah mengikuti pesantren di masjid selama Ramadan, namun juga bisa memanfaatkan perkembangan teknologi guna menyampaikan nilai-nilai agama dan implementasi atas ilmu yang didapat dari sekolah.

Tentu hal ini bisa dimulai dengan membantu kaum mustadhafin di lingkungan sekitar kita.

Disinilah kemudian letak kesatupaduan moral agama, praktik politik, dan peran ilmu yang bermanfaat. Hingga pada akhirnya kita dapat menjadi manusia yang memiliki kualitas akademis, bernafaskan Islam, pengabdi, guna mewujudkan masyarakat adil dan makmur.

Dari konsep ini diharapkan lahir tokoh-tokoh baru Minangkabau yang dapat berkontribusi bagi bangsa ini. (**)

loading...
 Sumber : Relis /  Editor : Milna Miana
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Rabu, 10 Juni 2020 - 22:28:49 WIB

    Mencari Figur Kombinasi di Pilkada Tanah Datar

    Mencari Figur Kombinasi di Pilkada Tanah Datar Kabupaten ini dinamai Tanah Datar. Sebuah daerah yang sebenarnya bukan terdiri dari tanah yang datar semata. Tidak seperti hamparan gurun. Perbukitan dan lembah menjadi kontur wilayahnya. Luhak Nan Tuo penamaan lain dari kabu.

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]