Benarkah Thermo Gun Bisa Merusak Otak? Ini Faktanya


Selasa, 21 Juli 2020 - 16:30:03 WIB
Benarkah Thermo Gun Bisa Merusak Otak? Ini Faktanya Dok ANTARA

HARIANHALUAN.COM – Masyarakat kembali dihebohkan dengan informasi bahwa thermo gun bisa merusak tubuh karena langsung ada berpapasan dengan otak manusia. Muncul spekulasii ini sontak membuat khawatir masyarakat. Sebab, diharuskan memeriksa suhu tubuh ketika berada di tempat umum.

Seperti diketahui, thermo gun atau yang kerap disebut termometer tembak kini menjadi alat pengukur suhu yang mampu mendeteksi gejala demam pada tubuh sehingga menjadi pendeteksi dini untuk COVID-19.

Namun, beberapa hari ini masyarakat diresahkan dengan viralnya video di media sosial yang menyatakan bahwa alat ini berbahaya karena dianggap menggunakan laser dan merusak otak. Apakah benar demikian?

Sehubungan dengan viralnya berita termometer tembak (thermo gun) yang dianggap membahayakan otak karena memancarkan laser, berikut pernyataan yang disusun oleh Departemen Fisika Kedokteran/Klaster Medical Technology IMERI Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia untuk meluruskan persepsi ini.

Inframerah

Thermo gun merupakan salah satu jenis termometer inframerah untuk mengukur temperatur tubuh yang umumnya di arahkan ke dahi. Alat ini menjadi andalan utama sebagai alat skrining COVID-19 dengan gejala demam, alat ini tersedia hampir di setiap pintu masuk tempat umum dan perkantoran. Pengunjung atau pegawai dengan temperatur di atas 37,5 derajat celcius dilarang masuk dan diminta untuk memeriksakan diri ke fasilitas layanan kesehatan. 

Pancaran radiasi

Berbeda dengan termometer raksa atau termometer digital yang menggunakan prinsip rambatan panas secara konduksi, termometer ini menggunakan prinsip rambatan panas melalui radiasi. Kisaran suhu tubuh manusia normal (36 - 37,5 derajat celcius) berada di dalam pancaran spektrum inframerah jika dilihat dari jangkauan radiasi elektromagnetik. Energi radiasi dari permukaan tubuh ditangkap dan kemudian diubah menjadi energi listrik dan ditampilkan dalam angka digital temperatur derajat celcius pada thermogun.

Termometer dahi dan telinga

Termometer inframerah yang tersedia di pasaran umumnya untuk mendeteksi temperatur gendang telinga (termometer telinga) atau temperatur dahi (termometer dahi). Termometer dahi lebih cocok untuk skrining gejala demam COVID-19 karena hanya perlu “ditembak” ke arah dahi tanpa perlu kontak atau bersentuhan langsung dengan kulit. Termometer ini mendeteksi temperatur arteri temporal pada dahi untuk mengestimasi suhu tubuh seseorang.

Jarak pengukuran

Hal yang perlu diperhatikan adalah akurasi pengukuran temperatur bergantung pada jarak dan sudut alat thermo gun terhadap objek yang diukur. Maka dari itu, jangan heran jika hasil pengukuran bisa berubah-ubah. Satu parameter penting yang menentukan tingkat akurasi pengukuran thermo gun adalah perbandingan jarak dengan luas titik pengukuran. Biasanya angka perbandingan ini adalah 12:1. Dengan kata lain, untuk mengukur suatu titik dengan luas 1 cm persegi, jarak pengukuran ideal adalah 12 cm.

Bukan penentu COVID-19

Pengukuran temperatur tubuh dengan thermo gun tidak bisa dijadikan acuan utama terkait apakah seseorang menderita COVID-19 atau tidak, karena pasien COVID-19 bisa muncul tanpa gejala demam. Kami berharap penggunaan thermo gun secara luas di tempat-tempat publik seperti pusat perbelanjaan, perkantoran, dan layanan transportasi publik disertai dengan SOP yang jelas. (*)

loading...
 Sumber : Viva.co.id /  Editor : Milna Miana

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Senin, 10 Agustus 2020 - 11:05:36 WIB

    Benarkah Microsoft Beli TikTok? Ini Penjelasan Bill Gates

    Benarkah Microsoft Beli TikTok? Ini Penjelasan Bill Gates HARIANHALUAN.COM - Pendiri Microsoft, Bill Gates menyebut potensi pembelian TikTok dengan Microsoft merupakan sebuah piala beracun. Gates mengatakan pembelian operasional TikTok di beberapa wilayah tak akan semudah dan sederh.
  • Kamis, 30 Juli 2020 - 19:49:56 WIB

    Benarkah Jamur Cladosporium Sphaerospermum Bisa 'Memakan' Radiasi? Ini Kata Peneliti

    Benarkah Jamur Cladosporium Sphaerospermum Bisa 'Memakan' Radiasi? Ini Kata Peneliti HARIANHALUAN.COM - Para peneliti dari Stanford University dan University of North Carolina menemukan bahwa jamur yang berhasil berkembang biak di dekat bekas reaktor nulir Chernobyl memiliki kemampuan untuk 'memakan' radiasi.
  • Jumat, 06 Maret 2020 - 16:24:08 WIB

    Benarkah Android Bisa Dijalankan di iPhone?

    Benarkah Android Bisa Dijalankan di iPhone? JAKARTA, HARIANHALUAN.COM - Tim peneliti di Project Sandcastle berhasil membuat iPhone 7 dan 7 Plus untuk menjalankan sistem operasi Android..
  • Rabu, 26 Februari 2020 - 06:28:49 WIB

    NASA Sebut Ada Alien di Planet Mars, Benarkah?

    NASA Sebut Ada Alien di Planet Mars, Benarkah? JAKARTA, HARIANHALUAN.COM -- Para ilmuwan sudah sejak lama mencari tanda-tanda kehidupan alien. Baru-baru ini, para ilmuwan berpikir bahwa kemungkinan ada kehidupan di Planet Merah Mars namun tersembunyi di gua bawah tanah..
  • Selasa, 26 November 2019 - 22:29:16 WIB

    Datsun Bakal Jadi Mobil Langka, Benarkah?

    Datsun Bakal Jadi Mobil Langka, Benarkah? JAKARTA, HARIANHALUAN.COM - Datsun dikabarkan menyerah di pasar otomotif Indonesia. Mulai Januari 2020, Nissan menghentikan produksi Datsun di Indonesia..

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]