Ternyata 800 Juta Tahun Lalu Bumi dan Bulan Pernah Dihantam Hujan Asteroid


Jumat, 24 Juli 2020 - 08:48:53 WIB
Ternyata 800 Juta Tahun Lalu Bumi dan Bulan Pernah Dihantam Hujan Asteroid Ilustrasi

JAKARTA, HARIANHALUAN.COM - Ternyata hujan asteroid raksasa pernah menghantam Bumi dan Bulan 800 juta tahun yang lalu. Peristiwa ini menyebabkan musim dingin abadi terparah di planet kita.

Peristiwa yang baru diketahui ini melibatkan hujan asteroid dengan massa total mencapai 30 hingga 60 kali lebih besar dari asteroid yang menghantam Bumi dan menyebabkan kawah Chicxulub di Meksiko.

Kawah ini terbentuk ketika asteroid dengan diameter antara 10,9 dan 80,9 km menabrak Bumi 66 juta tahun yang lalu dan mengakibatkan musnahnya tiga perempat spesies hewan dan tumbuhan di Bumi, termasuk dinosaurus.

Dikutip detikINET dari CNN, Jumat (24/7/2020) dalam hujan asteroid ini, batu-batu angkasa yang menghantam Bumi ukurannya jauh lebih besar dibanding asteroid yang membuat dinosaurus punah 66 juta tahun yang lalu.

Hujan asteroid ini juga lebih besar dibandingkan hujan meteoroid yang terjadi 470 juta tahun yang lalu, yang memicu menurunnya ketinggian air laut dan mendorong munculnya keragaman hayati.

"Tidaklah aneh bahwa hujan asteroid 800 juta tahun yang lalu mungkin mungkin memicu zaman es, karena fluks massa total 800 juta tahun yang lalu adalah 10-100 kali lebih besar daripada efek hantaman di Chicxulub dan atau hujan meteoroid 470 juta tahun yang lalu," kata penulis utama studi dan dosen di Universitas Osaka, Kentaro Terada.

Hujan asteroid ini terjadi sebelum zaman Cryogenion antara 635 dan 720 juta tahun yang lalu, ketika Bumi masih diselimuti gurun es. Ini merupakan zaman di mana terjadi banyak perubahan lingkungan dan biologis.

Untuk mendapatkan temuan ini, ilmuwan menginvestigasi Bulan karena kawah hantaman asteroid di sana tidak tersentuh oleh erosi dan aktivitas geologis lainnya. Mereka meneliti 59 kawah bulan yang lebarnya mulai dari 20 km menggunakan wahana orbiter Kaguya milik Jepang.

Delapan dari 59 kawah tersebut rupanya terbentuk pada waktu yang bersamaan. Salah satunya kawah Copernicus yang memiliki diameter 93 km.

Kawah ini dulunya sempat diteliti oleh astronaut Apollo 12, yang membawa pulang sampel yang diduga dilontarkan saat kawah Copernicus terbentuk. Sampel tersebut diteliti setelah astronaut kembali ke Bumi pada 19 November 1969, dan NASA menduga usianya 800 juta tahun.

Kedelapan kawah ini kemungkinan terbentuk bersamaan ketika asteroid dengan diameter 100 km tiba-tiba menghantam Bumi dan Bulan. Ilmuwan memprediksi bahwa 40 hingga 50 triliun meteoroid menghantam Bumi dalam hujan asteroid ini.

Terada dan koleganya memperkirakan hujan asteroid ini menyebarkan 100 miliar ton fosfor di Bumi, 10 kali lebih banyak dari fosfor yang saat ini ada di lautan. Mereka mengindikasikan peristiwa ini mendorong pertumbuhan makhluk hidup di Bumi karena fosfor merupakan elemen penting dalam DNA dan membran sel.

Ilmuwan juga memperkirakan hujan asteroid ini disebabkan oleh asteroid Eulalia yang terbentuk 830 juta tahun yang lalu. Asteroid ini termasuk masih satu keluarga dengan asteroid Bennu dan Ryugu yang termasuk objek dekat Bumi.

Untuk penelitian berikutnya, Terada dan timnya akan meneliti sampel dari asteroid Bennu dan Ryugu. Saat ini misi OSIRIS-REx NASA sedang berupaya mengumpulkan sampel dari Bennu, dan misi Hayabusa2 milik Jepang telah mengumpulkan sampel dari Ryugu dan akan kembali ke Bumi pada Desember 2020.

"Rencana riset saya selanjutnya adalah menentukan usia dari sampel yang dikumpulkan dari asteroid Ryugu dan Bennu," kata Terada.

"Jika kita mendapatkan usia 800 tahun dari sampel Ryugu, saya akan sangat senang," pungkasnya, karena hal ini akan mendukung kaitan asteroid ini dengan peristiwa kosmik yang menghantam Bumi dan Bulan. (*)
 

 Sumber : detik.com /  Editor : Rahma Nurjana

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]