Hubungan China dengan Negara ASEAN Makin Buruk, Ini Sebabnya


Jumat, 24 Juli 2020 - 09:35:55 WIB
Hubungan China dengan Negara ASEAN Makin Buruk, Ini Sebabnya Perairan laut china selatan

JAKARTA, HARIANHALUAN.COM - Klaim China di perairan Laut China Selatan "memakan korban". Belum lama ini industri energi lepas pantai penting Vietnam dirugikan karena tekanan Negeri Tirai Bambu.

Menurut laporan Asia Times, China mendesak Vietnam untuk penghentian ekspedisi pengeboran migas lepas pantai Rosneft Vietnam- petungan Vietnam dan Rusia- melalui perusahaan bernama semi-submersible (anjungan lepas pantai) Noble Corp.

Noble Corp sendiri berbasis di London. Sebelumnya, tulis media itu, perusahaan itu memang sudah mengumumkan membatalkan kontraknya untuk rig eksplorasi semi-submersible meski tak menyebutkan lokasi jelasnya.

Hal senada juga diberitakan BBC Vietnam. Dalam tulisannya, pemerintah Vietnam meminta BUMN migas PetroVietnam untuk membatalkan kontrak karena tekanan China.

Proyek ini sendiri dilakukan sejak 2018 di Lan Do, di mana masuk ke lokasi klaim "Sembilan Garis Imajiner" China. Konsep Sembilan Garis Imajiner ini membuat China menguasai 80% Laut China Selatan.

Sebelumnya, dalam laporan The Diplomat, setelah mendapat tekanan berlebihan dari China, Vietnam terpaksa membayar kompensasi sebesar US$ 1 miliar (Rp 14,6 triliun, asumsi Rp 14.621/US$) kepada dua perusahaan minyak internasional karena membatalkan kontrak mereka di perairan tersebut.

Media itu menulis perusahaan energi milik negara Vietnam PetroVietnam akan membayar uang kepada perusahaan Repsol Spanyol dan Mubadala dari Uni Emirat Arab sebagai "kompensasi". Keputusan tersebut merupakan harga yang mahal bagi Vietnam.

Sebuah sumber industri minyak regional mengatakan Vietnam membayar US$ 800 juta kepada Repsol dan Mubadala untuk hak-hak mereka di blok-blok itu. Termasuk US$ 200 juta sebagai kompensasi untuk semua investasi yang telah mereka lakukan dalam proses eksplorasi dan pengembangan.

Tekanan yang dilakukan China disebut makin keras ke sejumlah negara di Laut China Selatan belakangan ini. Juru bicara Departemen Luar Negeri AS memperkirakan China memblokir pengembangan sumber daya migas senilai US$ 2,5 triliun di Laut China Selatan.

Tak hanya Vietnam, China juga mengklaim laut Malaysia. Awal 2020, kapal minyak yang terafiliasi dengan Petronas dikabarkan CNN International dibuntuti kapal pengawas China, dekat pengeboran minyak BUMN Malaysia itu.

Sebenarnya konsep sembilan garis imaginer China sudah dibatalkan Mahkamah Arbitrase PBB. Namun China menolak hal tersebut.

Akibat klaim sepihak China atas wilayah Laut China Selatan, hubungan Negeri Tirai Bambu dengan negara anggota ASEAN memburuk. Setidaknya China bermasalah dengan Vietnam, Filipina, Brunei, Taiwan, dan Malaysia terkait dengan perairan tersebut.

Belum ada konfirmasi dari pemerintah China mengenai hal ini. (*)
 

loading...
 Sumber : CNBC Indonesia /  Editor : Rahma Nurjana
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]