Menemukan Professional Minangkabau


Selasa, 28 Juli 2020 - 12:37:14 WIB
Menemukan Professional Minangkabau Profesional di Perusahaan Hulu Minyak dan Gas Bumi/Alumni SMA Taruna Nusantara, Hafif Assaf

Tulisan: Hafif Assaf

Profesional di Perusahaan Hulu Minyak dan Gas Bumi

 

HARIANHALUAN.COM - Dahulu, orang tua kita di kampung selalu memarahi kalau terlalu asik bermain video game. Bahkan setelah menjadi orang tua, kebiasaan tersebut tanpa sengaja terwariskan. Kadang, seorang istri "memiuah" pusar anaknya kalau sudah susah dilarang.

Kenyataan dunia hari ini sudah berbeda. Video game sudah dimainkan secara profesional. Secara profesional? Ya, bermain video game sudah seperti Ronaldo bermain bola, Sapardi Djoko Damono menulis syair, atau Faldo Maldini bermain politik. Yang terakhir, lupakan saja, saya cuma numpang panjat sosial agar tulisan ini banyak pembaca. Kata kuncinya, sesuatu yang remeh-temeh akan menjadi serius berkat satu kata, yakni profesional!

Juara Fortnite di Amerika Serikat, sebuah turnamen video game, mendapatkan hadiah sebesar $ 3 Juta atau kalau dirupiahkan berada pada angka 45 Milyar Rupiah. Sementara itu, Novak Djokovic 'hanya' mendapatkan sekitar 41 Milyar Rupiah ketika menjuarai Turnamen Tenis Wimbledon. Lebih jauh lagi di bawahnya, Tiger Woods memenangkan Turnamen Golf Masters, yang mana berhadiah 21 Milyar Rupiah.

Kata profesional membawa sesuatu yang dianggap sebagai gangguan menjadi sebuah jalan hidup. Saya tidak pernah mengambil jurusan perminyakan dan pertambangan. Kalau kepemimpinan, pemerintahan dan politik, saya banyak bahas semasa masih belajar di Magelang, Bandung dan Adelaide. Namun, jalan profesional membawa saya mengenal lebih jauh dunia asing yang tidak pernah saya sentuh sebelumnya.

Banyak orang berpikir bekerja di perusahaan minyak adalah sebuah jalan tercepat mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Namun setelah berkecimpung, masalahnya tidak sesederhana itu.

Dalam dunia profesional, setiap orang memang memiliki harga. Namun, apa yang menentukan harganya? Sejauh apa seseorang dapat mengatasi permasalahan. Ingat! Sebuah perusahaan bukan pemberi sumbangan. 

Sebuah perusahaan tidak akan pernah mengeluarkan uang satu sen pun bila tidak ada tanda-tanda keuntungan. Oleh karena itu, seorang profesional harus menawarkan yang terbaik dari apa yang dapat diberikannya. Dengan kata lain, tugas kita adalah memberikan tanda-tanda keuntungan. Di sini, kompetisi pun dimulai. Ceritanya menjadi tidak jauh berbeda dengan kompetisi video game tadi.

Hari ini, persaingan kita mendapatkan tempat di dunia profesional bukan lagi sesama anak bangsa. Jangankan kita yang masih negara muda, Amerika Serikat saja yang merupakan negara super power harus mengakui kekalahan dengan dokter-dokter India yang bereksodus untuk bertugas hingga daerah-daerah pedamalaman Arizona.

Ketika itu, orang Amerika lebih banyak memilih untuk berkarir di daerah-daerah perkotaan. Hasilnya setelah tiga puluh tahun, dunia kedokteran Amerika Serikat didominasi oleh orang-orang berwajah Asia Selatan. Tidak butuh waktu banyak menumbangkan kedigdayaan Amerika Serikat.

Tidak hanya itu, orang India juga menguasai dunia teknologi. Sudah mulai keturunan India duduk sebagai top level di perusahaan teknologi yang menjadi tulang punggung dunia hari ini. Ada istilah di antara kalangan pelaku teknologi, programmer india punya kualitas ITB, tetapi harganya setara lulusan SMK.

Orang Amerika Serikat pun mulai berpikir soal kesalahan pola asuh yang mengedepankan kebebasan bagi anak-anaknya. Sepuluh tahun belakangan, konsep "Tiger Parenting" menjadi begitu berkembang di sana. Orang-orang Amerika mulai meniru cara orang tua Asia dalam membesarkan anaknya, memberikan arah dengan ketegasan dan kontrol yang lebih besar. Agar apa? Etos dan semangat kuat terbentuk.

Dunia profesional hari ini adalah urusan nasionalisme. Kebanggaan sebuah bangsa sangat dipengaruhi oleh keberhasilan kalangan profesionalnya. Kita sering sekali senang membaca berita soal kartunis Indonesia yang berhasil bekerja di Marvel. Bahkan meski tidak kenal, kita bangga sekali rasanya mendengar ada orang Indonesia menjadi ilmuwan penting di NASA.

Waktu kecil di Kota Padang, orang tua saya suruh makan ikan yang banyak, agar pintar seperti Pak Habibie. Kawan saya asal Kupang juga pernah mendapatkan pesan yang sama. Mimpi orang tua yang melahirkan generasi saya adalah memiliki anak-anak yang menjadi tenaga profesional, bekerja berbasiskan pengetahuan, dan menyelesaikan berbagai persoalan.

Saatnya, profesional Ranah Minang bersatu. Memperkuat jejaring kita, agar dapat terus tolong menolong, agar lebih banyak berkontribusi bagi pembangunan kampung halaman kita yang sudah mulai tercecer semenjak Pandemi Covid.

Dahulu, orang tua kita berhasil mendirikan negara kita tercinta, Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sekarang saatnya, tugas kita melanjutkan untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang sudah diwasiatkan oleh Para Pendiri bangsa. (*)

loading...
 Sumber : rilis /  Editor : Heldi Satria
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]