Waduh, Covid-19 Ternyata Juga Berdampak pada Jantung Pasien Sembuh


Kamis, 30 Juli 2020 - 07:58:57 WIB
Waduh, Covid-19 Ternyata Juga Berdampak pada Jantung Pasien Sembuh Ilustrasi

HARIANHALUAN.COM - Tak hanya bisa merusak paru-paru, penyakit yang disebabkan virus covid-19 ternyata bisa merusak organ lainnya di dalam tubuh, termasuk jantung.

Berdasarkan dua penelitian terpisah, diterbitkan jurnalJAMA Cardiology pada Senin, memaparkan pencerahan baru bagaimana Covid-19 bisa memiliki dampak jangka panjang pada kesehatan jantung bagi mereka yang telah sembuh dari penyakit ini dan mungkin telah menyebabkan infeksi jantung bagi pasien yang meninggal dunia.

"Kami telah memahami selama beberapa bulan bahwa Covid-19 tak hanya infeksi pernapasan tapi infeksi multi-sistem," kata pakar penyakit jantung atau kardiolog, Dr. Nieca Goldberg, namun tak terlibat dalam penelitian, dikutip dari CNN, Rabu (28/7).

"Ada respons inflamasi akut, peningkatan pembekuan darah dan keterlibatan jantung. Dan keterlibatan jantung dapat disebabkan oleh keterlibatan langsung dari otot jantung oleh infeksi dan respon inflamasinya. Ini bisa disebabkan oleh pembekuan darah yang terbentuk, menyebabkan penyumbatan arteri," jelas Direktur Medis NYU Women's Heart Program dan penasihat NYU Langone Health di New York ini.

"Kadang-kadang orang memiliki detak jantung yang sangat cepat yang, dari waktu ke waktu, dapat melemahkan otot jantung, mengurangi fungsi otot jantung. Jadi ada beberapa cara selama infeksi ini yang dapat melibatkan jantung."

Inflamasi Jantung

Salah satu penelitian JAMA Cardiology menemukan, di antara 100 orang dewasa yang baru sembuh dari Covid-19, 78 persen menunjukkan beberapa tipe kelainan jantung dalam scan MRI dan 60 persen mengalami peradangan berkelanjutan di jantung.

Penelitian ini termasuk melibatkan pasien usia 45 tahun hingga 53 tahun yang berasal dari Universitas Rumah Sakit Frankfurt Covid-19 Registry di Jerman. Pasien dilibatkan dalam penelitian antara April dan Juni.

Sebagian besar pasien - 67 - pulih di rumah, dengan tingkat keparahan penyakit mereka mulai dari beberapa yang asimptomatik hingga memiliki gejala sedang. Para peneliti menggunakan pencitraan resonansi magnetik jantung, tes darah dan biopsi jaringan jantung. Data-data tersebut dibandingkan dengan kelompok 50 sukarelawan sehat dan 57 sukarelawan dengan beberapa kondisi kesehatan yang mendasari atau faktor risiko.

Data MRI mengungkapkan, orang yang terinfeksi virus memiliki semacam kelainan jantung terlepas dari kondisi yang sudah ada sebelumnya, tingkat keparahan atau infeksi mereka, waktu dari diagnosis awal mereka atau adanya gejala spesifik terkait jantung.

Goldberg mengatakan, kelainan terkait jantung yang paling umum pada pasien Covid-19 adalah peradangan miokard atau peradangan abnormal pada otot jantung, yang dapat melemahkannya. Jenis peradangan ini, juga disebut miokarditis, biasanya disebabkan oleh infeksi virus.

"Apa yang mereka sebutkan dalam penelitian ini adalah bahwa Anda dapat mengidentifikasi kelainan miokard atau kelainan jantung dengan pencitraan resonansi magnetik," ujar Goldberg.

Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan. Diperlukan lebih banyak penelitian untuk menentukan apakah temuan serupa akan muncul di antara kelompok pasien yang lebih besar, mereka yang lebih muda dari 18 tahun dan mereka yang saat ini berjuang melawan infeksi virus corona alih-alih baru pulih dari itu.

"Temuan ini menunjukkan perlunya penyelidikan berkelanjutan dari konsekuensi kardiovaskular jangka panjang Covid-19," tulis para peneliti.

Dalam studi JAMA Cardiology lainnya, analisis otopsi menemukan bahwa virus corona dapat diidentifikasi dalam jaringan jantung pasien Covid-19 yang meninggal.

Penelitian ini termasuk data dari 39 kasus otopsi dari Jerman antara 8 April dan 18 April. Para pasien, usia 78 tahun hingga 89 tahun, telah dites positif untuk Covid-19 dan para peneliti menganalisis jaringan jantung dari autopsi mereka.

Para peneliti menemukan,16 pasien memiliki virus di jaringan jantung mereka, tetapi tidak menunjukkan tanda-tanda peradangan mendadak yang tidak biasa di jantung atau miokarditis.

Sampel kasus otopsi kecil dan "usia lanjut pasien mungkin mempengaruhi hasilnya," catat para peneliti. Diperlukan lebih banyak penelitian apakah temuan serupa akan muncul di antara kelompok pasien yang lebih muda.

"Saya pikir kedua penelitian ini penting," kata Goldberg.

"Salah satunya menunjukkan bahwa scan MRI dapat membantu mendiagnosis cidera miokard yang terjadi karena Covid dan itu dikonfirmasi pada biopsi," katanya.

"Penelitian otopsi menunjukkan kepada kami sesuatu yang menarik - bahwa Anda dapat tertular virus tetapi bukan proses inflamasi akut. Jadi infeksi ini tidak mengikuti satu jalur."

Teka Teki Makin Kompleks

Kedua penelitian "menambah teka-teki yang semakin kompleks" ketika muncul virus corona, kata Dr. Dave Montgomery, pendiri ahli jantung di PREvent Clinic di Sandy Springs, Georgia, dalam surel pada Selasa.

"Secara keseluruhan penelitian mendukung bahwa SARS-CoV-2 tidak harus menyebabkan miokarditis klinis untuk menemukan virus dalam jumlah besar dan respons inflamasi pada jaringan miokard. Dengan kata lain, seseorang bisa tidak memiliki atau sedikit gejala kelainan jantung yang benar-benar menyebabkan kerusakan," jelas Montgomery, yang tidak terlibat dalam penelitian.

"Virus pada umumnya memiliki cara untuk mencapai organ yang cukup jauh dari tempat infeksi awal. SARS-CoV-2 tidak berbeda dalam hal ini," katanya.

"Yang berbeda adalah bahwa virus ini tampaknya mempengaruhi sel-sel jantung dan sel-sel di sekitarnya. Sejumlah penelitian ini menunjukkan bahwa jantung dapat terinfeksi tanpa tanda-tanda yang jelas. Secara pribadi, dalam praktik saya, kami telah melihat tanda-tanda peradangan yang serupa, termasuk efusi perikardial, atau cairan di sekitar kantung jantung."

Dr. Clyde Yancy dari Fakultas Kedokteran Feinberg Universitas Northwestern dan Dr. Gregg Fonarow dari Universitas California, Los Angeles, ikut menulis editorial yang menyertai dua penelitian baru dalam jurnal JAMA Cardiology pada Senin.

"Kami melihat penebalan saluran dan kami cenderung meningkatkan kekhawatiran baru dan sangat jelas bahwa kardiomiopati dan gagal jantung yang terkait dengan Covid-19 berpotensi berkembang seiring sejarah alami infeksi ini menjadi lebih jelas," tulis Yancy dan Fonarow dalam editorialnya.

"Kami berharap tidak menimbulkan kecemasan tambahan, melainkan mendorong para penyelidik lain untuk memeriksa dengan cermat data yang ada dan prospektif mengumpulkan dalam populasi lain untuk mengkonfirmasi atau membantah temuan ini," catat mereka. (*)

loading...
 Sumber : merdeka.com /  Editor : Heldi Satria
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]