Perguruan Thawalib dan Muhammadiyah


Kamis, 30 Juli 2020 - 10:52:20 WIB
Perguruan Thawalib dan Muhammadiyah Irwan Natsir

Oleh : Irwan Natsir

(Sekretaris Umum Yayasan Thawalib Padang Panjang)
 

LELAKI kelahiran 25 Februari 1958 itu, memasuki areal komplek Perguruan Thawalib yang terletak di Jalan Abd Hamid Hakim, kota Padang Panjang,  sehabis shalat Jumat. Setelah singah sejenak di ruangan kantor yayasan, maka langsung menuju aula Dr Abdul Karim Amarullah yang telah dipenuhi para santri Thawalib. 

Penyambutan kedatangan orang pertama di Pimpinan Pusat Muhammadiyah tersebut  dengan sederhana.

Jumat 6 September 2019, Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si untuk pertama kali berkunjung ke sekolah tempat alm Buya Hamka menimba ilmu agama. Maka, dalam kunjungan tersebut disediakan waktu untuk menyampaikan kuliah umumbagi  para santri dan majelis guru Thawalib.

Bagi  segenap Pengurus Yayasan Thawalib, kunjungan Ketua Umum PP Muhammadiyah tersebut bukan sekedar kunjungan biasa. Tapi sebuah kunjungan yang penuh makna historis, baik bagi Perguruan Thawalib maupun Muhammadiyah sendiri.

102 Tahun silam,  tiga hari tiga malam pimpinan Perguruan Thawalib Syekh Abdul Karim  Amarullah yang akrab dipanggil Inyiak Rasul atau Haji Rasul, jadi tamu Kiyai Ahmad Dahlan, pendiri organisasi Muhammadiyah di Kauman di Yogyakarta.

Kedatangan Inyiak Rasul tersebut, menyaksikan  langsung bagaimana kawannya memimpin pengajian Muhammadiyah yang kala itu baru berumur lima tahun. Bahagia betul dia melihat semangat Dahlan. Peti-peti bekas dijadikan bangku untuk belajar. 

Sempat pula dia melihat Ahmad Dahlan mengajar agama Islam di sekolah modern Kweekschool Gouvernement, yang belakangan jadi inspirasi buatnya membuat sistem pendidikan yang sama.

Masa itu Dahlan minta izin menyalin tulisan-tulisan Haji Rasul di majalah Al-Munir ke dalam bahasa Jawa untuk disebar-ajarkan kepada murid-muridnya. “Kyai Ahmad Dahlan di Yogyakarta adalah salah seorang langganan dan pembaca setia majalah Al-Munir yang terbit di Padang. Begitu cerita Raden Haji Hajid,” ungkap Hamka  dalam buku Muhammadiyah di Minangkabau.

Sementara itu Dahlan sudah pula banyak mendengar kisah baik tentang Sumatera Thawalib di Padang Panjang, sekolah Islam modern pertama di Hindia Belanda. Dalam perjumpaan itu, Dahlan mendengar langsung pengalaman Haji Rasul memimpin pengajian surau Jembatan Besi sejak 1901 hingga menjadi Sumatera Thawalib pada 1912. (Wendi Wanhar-Historia).

Kisah kunjungan Inyiak Rasul bertemu dengan Kiyai Ahmad Dahlan disampaikan kembali secara  langsung kepada Bapak Haedar Nashir. Ketika kisah tersebut diceritakan, beliau dengan serius menyimak dan mendengarkannya. Sebab, sebuah kisah penuh sejarah dan mengambarkan bagaimana hubungan Perguruan Thawalib dan Muhammadiyah sudah terjalin sejak 102 tahun lalu.
 
Hubungan

Kiyai Ahmad Dahlan memang belum pernah berkunjung ke Thawalib sampai beliau wafat. Namun, 6 September 2019,  secara spontanitas dalam agenda kunjungan Bapak Haedar Nashir ke Bukittinggi, ingin berkunjung ke Perguruan Thawalib.  Melalui Direktur Suara Muhammadiyah, Deni Asy’ari, MA yang juga alumni Perguruan Thawalib maka diatur jadwal kunjungan tersebut.

Seakan akan ditakdirkan dalam sejarah, kunjungan Bapak Haedar Nashir sepertinya membalas kunjungan Inyiak Rasul menemui Kiyai Ahmad Dahlan 102 tahun lalu. Kunjungan napak tilas sejarah yang sangat berharga.
Fakta sejarah ini mengambarkan bagaimana hubungan terbangun antara Thawalib dan Muhammadiyah. Hubungan yang memberikan pengaruh terhadap pengembangan pendidikan yang sedang dibangun di Thawalib pada waktu itu.

Pada 1918, setahun pasca lawatan Haji Rasul ke Jawa yakni bertemu dengan Kiyai Ahmad Dahlan, Sumatera Thawalib membangun gedung baru. Ruang-ruang kelas dilengkapi bangku dan meja, serupa dengan sekolah “modern” yang dikelola Belanda. Agaknya Haji Rasul terinspirasi ketika melihat Ahmad Dahlan mengajar agama Islam di Kweekschool Gouvernement di Yogyakarta.

Semenjak itu, menurut sejarawan Taufik Abdullah dalam School and Politics, The Kaum Muda Movement in West Sumatera 1927-1933, meski sebelumnya sudah ada kurikulum berjenjang kelas, kegiatan belajar mengajar di Sumatera Thawalib tidak lagi halaqah (duduk bersila; murid melingkar guru).

Dengan sistim pendidikan yang menggunakan ruangan kelas yang dilengkapi bangku dan meja, maka Perguruan Thawalib menjadi pelopor sekolah Islam  modern pada zaman Hindia Belanda waktu itu.
 
Kiprah Alumni

Bukan saja berdampak dan berpengaruh kepada pengembangan pendidikan, dalam perjalanan sejarah banyak alumni Perguruan Thawalib yang aktif dan berkiprah di Muhammadiyah. Salah seorangnya adalah Buya Hamka.

“Muhammadiyah dan Sumatera Thawalib memiliki kaitan erat terkait 
pembaharuan sistim pendidikan untuk meraih kemajuan umat. Lulusan Thawalib pun telah banyak berkontribusi bagi Persyarikatan Muhammadiyah seperti Buya Hamka, Buya AR Sutan Mansur yang pernah menjadi Ketua PP Muhammadiyah dan berbagai tokoh lain baik di Sumatera Barat maupun Indonesia,” kata Haedar Nashir dalam kuliah umumnya 6 September 2019 di Thawalib.

Memang diakui, sebagian alumni Thawalib banyak berkiprah di Muhammadiyah dalam berbagai level, mulai dari tingkat kecamatan, kabupaten/kota, provinsi sampai pusat.  Hal ini terjadi sampai saat ini.

Seakan akan ditakdir sejarah,  diantara Pengurus Yayasan Thawalib yakni H. Ali Usman Syuib adalah pimpinan Muhammadiyah Padang Panjang.  Bahkan, Buya Dr. Zulkarnaini, M.Ag yang kini sebagai Pimpinan Perguruan Thawalib adalah Ketua  Majelis Tarjid dan Tajdid Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Barat. Guru senior Thawalib Buya Abizar Lubis juga Ketua PDM Muhammadiyah Pabasko (Padang Panjang Batipuh X Koto).

Meski hubungan Thawalib dan Muhammadiyah sudah terbangun lama, namun perkembangan kedua institusi tersebut berbeda sejarah yang dialaminya. Muhammadiyah menjadi organisasi massa Islam terbesar di Indonesia dengan berbagai macam amalnya. Sedangkan Perguruan Thawalib berkiprah di dunia pendidikan Islam di kota Padang Panjang.

Saat ini, Muhammadiyah yang didirikan 8 Dzulhijjah 1330 H tengah memasuki usia 111 tahun.  Sebuah usia yang tidak jauh berbeda dengan Perguruan Thawalib yang kini berusia 109 tahun.

Di hari 111 tahun Muhammadiyah yang jatuh  pada 8 Dzhulhijjah 1441 H atau  29 Juli 2020, Yayasan Thawalib  menyampaikan rasa bangga terhadap organisasi  Islam yang telah membuktikan bhaktinya  untuk  republik ini yang penuh dengan integritas. (*)  

loading...
 Editor : Heldi Satria
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]