Usaha Rinuak 'Bagonjong' Tetap Eksis di Tengah Pandemi Virus Corona


Selasa, 11 Agustus 2020 - 13:45:04 WIB
Usaha Rinuak 'Bagonjong' Tetap Eksis di Tengah Pandemi Virus Corona UMKM dengan merek dagang Bagonjong.

HARIANHALUAN.COM - Era pandemi virus corona yang melanda sejumlah daerah di Indonesia membuat para pelaku Usaha Kecil Mikro dan Menengah (UMKM) terpukul. Namun berbeda dengan pelaku UMKM di Kabupaten Agam ini yang justru tetap eksis memasarkan produk dan melakukan pengembangan bisnis.

Di tengah sapuan badai pandemi Covid-19, UMKM dengan merek dagang Bagonjong ini mampu mengolah sekitar lima kilogram dendeng rinuak setiap hari. Bahkan UMKM yang bergerak di bisnis olahan hewan endemik Danau Maninjau itu tetap eksis memenuhi kebutuhan pasar bisnis kuliner di dalam dan luar Sumatera Barat.

“Kalau dibilang tidak begitu terdampak, tidak seperti itu juga, tapi secara keseluruhan kami masih bisa berproduksi setiap hari dan memenuhi permintaan pasar,” ujar pemilik UMKM Bagonjong, Fitria Amrina, Senin (10/8/2020) kemaren.

Saat ini, kata dia, permintaan pasar terhadap dendeng rinuak masih terbilang tinggi. Hal itu dapat diketahui dari selalu habisnya stok dendeng rinuak yang tersedia di rumah produksi miliknya. “Alhamdulillah-nya, meski kami memproduksi setiap hari, tidak ada produk yang macet, selalu kehabisan stok,” katanya.

Dalam sehari, rata-rata Fitria mampu memproduksi 40 pcs dendeng rinuak berat 100 gram, dari olahan lima kilogram rinuak yang memakan waktu kurang lebih delapan jam. “Karena usaha ini masih berskala kecil, saya belum menyerap tenaga kerja, jumlah produksi tersebut terbilang kecil dibanding usaha sejenis yang lebih dulu eksis,” tutur ibu empat anak tersebut.

Dalam sekali penjualan, Fitria mematok tarif per 100 gram dendeng rinuak untuk pasaran lokal Kabupaten Agam sebesar Rp18.000. Tarif tersebut akan berubah untuk pasar di luar Kabupaten Agam. Ia mengakui di awal pandemi Covid-19, produksi dendeng rinuak yang di rintis sejak tiga tahun lalu mengalami pasang surut. Namun, terhitung sejak ramadan lalu, produksi dendengnya kembali menggeliat. “Puasa kemarin produksi kembali meningkat, jumlah produksinya pun terbilang tetap hingga hari ini,” sebutnya.

Saat pandemi Covid-19, ketersediaan bahan baku rinuak juga terbilang stabil. Saat ini, Ia masih memasok rinuak langsung dari nelayan di Danau Maninjau. Soal pemasaran, ia mengaku cenderung lebih melirik sistem online. Selain itu, ia juga memaksimalkan jaringan dagang yang sudah terbentuk. “Sekarang lebih kencang online, untuk pasaran lokal, kami juga memaksimalkan pendistribusian kepada enam orang ‘anak galeh’,” tuturnya.

Hingga saat ini, Kota Padang masih menjadi pasar yang paling banyak menyedot produksi dendeng rinuak olah UMKM Bagonjong. Selain itu, Ia juga memasok produk ke sejumlah provinsi tetangga. “Lebih sering dikirim ke Padang, tadi baru saja mengirim produk ke Padang. Besok, dendeng rinuak yang diproduksi hari ini akan dikirim ke Lahat, Palembang,” ulasnya.

Melihat laris manisnya bisnis dendeng rinuak di pasaran, dirinya berharap suatu saat Lubuk Basung bisa menjadi sentra penghasil dendeng rinuak. Ia juga merincikan, setidaknya di Lubuk Basung ada lima pelaku UMKM yang memproduksi dendeng rinuak dengan jumlah produksi yang cukup besar.

“Bahkan produksi UMKM tersebut jumlahnya jauh di atas produksi saya. Semoga suatu saat, daerah ini dikenal sebagai sentra usaha pengolahan dendeng rinuak yang menjadi makanan khas Lubuk Basung,” harapnya. (*)
 

loading...
Reporter : Metria Indeswara /  Sumber : Agam Media Center /  Editor : Nova Anggraini
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]