Putri Putin Jadi Sukarelawan, Rusia Daftarkan Vaksin Covid-19 Pertama di Dunia


Rabu, 12 Agustus 2020 - 08:14:44 WIB
Putri Putin Jadi Sukarelawan, Rusia Daftarkan Vaksin Covid-19 Pertama di Dunia Ilustrasi

HARIANHALUAN.COM - Selasa (11/8) pagi Presiden Rusia, Vladimir Putin mengumumkan bahwa Rusia telah mendaftarkan vaksin pertama Covid-19 dunia. Dia mengatakan, dosis vaksin efektif membentuk kekebalan melawan patogen mematikan yang telah menyebar secara global.

"Sepanjang pengetahuan saya, sebuah vaksin untuk melawan infeksi virus corona telah didaftarkan pagi ini (di Rusia) untuk pertama kalinya di dunia," kata Putin kepada anggota pemerintah, dilansir Russian Today, Selasa (11/8).

"Saya berterima kasih kepada setiap orang yang bekerja untuk vaksin ini - momen yang sangat penting bagi dunia," lanjutnya.

Putin menegaskan, vaksinasi di Rusia hanya boleh dilakukan berdasarkan kesukarelaan, di mana tak boleh ada orang dipaksa imunisasi. Dia juga mengungkapkan, salah satu putrinya telah divaksin.

"Saya tahu itu bekerja dengan cukup efektif, membentuk kekebalan yang stabil, dan, saya ulangi, itu lolos semua pemeriksaan yang diperlukan," tambahnya.

Putin mengatakan, putrinya mengalami kenaikan suhu tubuh setelah ikut serta dalam uji coba, tetapi segera turun. "Salah satu putri saya mendapat vaksin. Dalam hal ini, dia mengambil bagian dalam percobaan. Setelah vaksinasi pertama, dia memiliki suhu tubuh 38, hari berikutnya - 37 dan itu saja."

Putin meminta Menteri Kesehatan, Mikhail Murashko menyiapkan rincian informasi terkait rencana imunisasi. Dia berharap vaksin Rusia akan disalurkan untuk umum pada Januari, tapi saat ini petugas medis dan guru menjadi prioritas.

"Kami akan memulai penggunaan vaksin sipil tahap demi tahap. Pertama dan terpenting, kami ingin menawarkan vaksinasi bagi mereka yang melakukan kontak dengan orang yang terinfeksi di tempat kerja. Ini adalah pekerja medis. Dan juga mereka yang bertanggung jawab atas kesehatan anak - guru," jelas Murashko.

Pekan lalu, Menteri Kesehatan menyatakan uji klinis awal dari vaksin yang dikembangkan oleh Gamelei Research Center di Moskow telah selesai.

Banyak pihak heran dengan cepatnya pengembangan vaksin Rusia, khususnya di Barat, di mana negara-negara seperti AS dan Inggris sedang mengerjakan vaksin mereka sendiri. Pada Senin, Bloomberg melaporkan, Asosiasi Organisasi Uji Klinis telah menulis surat kepada Murashko yang memperingatkan bahwa imunisasi sipil sebelum uji klinis selesai dapat membahayakan orang.

"Mengapa semua perusahaan mengikuti aturan, tetapi perusahaan Rusia tidak? Aturan untuk melakukan uji klinis mendarah daging. Mereka tidak bisa dilanggar," kata Direktur Eksekutif ACTO Svetlana Zavidova kepada kantor berita Amerika.

"Ini adalah Kotak Pandora dan kami tidak tahu apa yang akan terjadi pada orang yang disuntik dengan vaksin yang belum terbukti."

Namun, Vadim Tarasov, seorang ilmuwan ternama di Universitas Sechenov Moskow, tempat uji coba berlangsung, mengatakan bahwa negara itu memiliki langkah awal karena telah menghabiskan 20 tahun terakhir mengembangkan keterampilan di bidang ini dan mencoba memahami bagaimana virus menular.

Teknologi di balik vaksin Rusia didasarkan pada adenovirus, flu biasa. Dibuat secara artifisial, protein vaksin mereplikasi protein Covid-19 dan memicu "respons kekebalan yang mirip dengan yang disebabkan oleh virus corona itu sendiri," ungkap Tarasov.

Nikolay Briko, kepala ahli epidemiologi non-residen Kementerian Kesehatan Rusia, menyuarakan sentimen ini pada Selasa.

"Vaksin ini tidak dikembangkan dari awal, Pusat Penelitian Gamelei memiliki basis penelitian yang serius dan signifikan pada vaksin," katanya kepada kantor berita TASS. “Teknologi pengembangan vaksin semacam itu sudah sempurna. Jadi mungkin, prosesnya dipercepat karena vaksin itu tidak dibuat dari awal. Penting agar semua tahapan (penelitian vaksin) diikuti dan persyaratan internasionalnya ditaati. "
Tekad Rusia untuk mengembangkan vaksin dipicu oleh dampak buruk Covid-19 terhadap negara tersebut. Negara ini memiliki jumlah kasus tertinggi keempat di dunia - setelah AS, Brasil dan India - dengan kasus infeksi sebanyak 179.293. (*)

loading...
 Sumber : merdeka.com /  Editor : Heldi Satria

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]