Masjid Siti Manggopoh, Saksi Bisu Perlawanan 17 Pejuang Masa Penjajahan Belanda 1908 Silam


Rabu, 12 Agustus 2020 - 14:05:46 WIB
Masjid Siti Manggopoh, Saksi Bisu Perlawanan 17 Pejuang Masa Penjajahan Belanda 1908 Silam Masjid Siti Manggopoh, Agam.

HARIANHALUAN.COM - Terletak di Jorong Manggopoh, Nagari Manggopoh, Kecamatan Lubuk Basung, Kabupaten Agam, berdiri kokoh sebuah masjid yang menjadi saksi bisu perlawanan 17 orang masyarakat Manggopoh terhadap kebijakan perpajakan (belasting) zaman penjajahan Belanda. Masjid itu bernama Masjid Siti Manggopoh.

Awal dibangun sekitar tahun 1842 lalu, Masjid Siti Manggopoh masih beratap ijuk dan berdinding bambu. Sebelum bernama Masjid Siti Manggopoh, masyarakat setempat menyebut masjid itu dengan sebutan Masjid Gadang. “Boleh dibilang ini masjid satu-satunya dan tertua saat itu di Manggopoh, dibangun sekitar tahun 1842, masyarakat menyebutnya Masjid Gadang,” ujar H. Amiruddin, salah seorang cucu pasukan 17, Dullah Pakiah Sulaiman, Selasa (11/8/2020) kemaren.

Dahulunya, selain beribadah dan tempat bermusyawarah bagi niniak mamak tujuh suku di Manggopoh, masjid ini juga digunakan sebagai tempat latihan bela diri yang dipimpin oleh Hasik Bagindo Magek, suami Siti Manggopoh. Selain itu, masjid juga dijadikan tempat penyusunan strategi perang ketika melawan Belanda di bawah pimpinan Angku Padang.

Masjid Siti Manggopoh menjadi masjid tempat berkumpulnya pasukan 17 sebelum melangsungkan serangan ke Markas Belanda. Di masjid tersebut, pasukan 17 menyusun strategi dan siasat sebelum penyerangan Jumat malam, 15 Juni 1908. “Masjid ini menjadi tempat berkumpul terakhir, pasukan 17 beritikaf, mengenal diri, menguji kemampuan masing-masing,” ungkapnya.

Ke-17 orang yang berkumpul di masjid tersebut memang orang-orang yang terpilih. Pasalnya selain tangguh dari segi bela diri, mereka juga diceritakan memiliki ilmu kebatinan yang mumpuni. Sebelum menyergap Markas Belanda, di dalam masjid terjadi peristiwa kebatinan, di mana orang-orang yang akan pergi berperang ditentukan dengan prosesi mencabut pedang.

“Bagi yang bisa mencabut pedang, maka dia dilarang pergi berperang, karena itu pertanda akan gugur di medan perang. Dari 17 pasukan tersebut tidak ada satupun yang bisa mencabut pedang yang ditusuk ke tanah di dalam masjid,” tuturnya lagi.

Saat ini, halaman depan masjid menjadi kompleks makam 17 tokoh pejuang yang gugur dalam perang Blasting 1908 yang dikenal dengan perang Manggopoh. Masjid ini beratap tumpang tiga yang terbuat dari seng dengan bentuk banguna bujur sangkar. Ruang utama masjid ini ditopang oleh sembilan buah tiang, dengan tiang utama berdiameter 64 cm, sedangkan tiang lainnya berdiameter 30 cm. 

Langit-langit terbuat dari bahan triplek sisi dalam dan sisi luar teras terbuat dari seng. Pintu terletak di sisi Timur dan satu lagi di sisi utara yang terbuat dari kayu. Mihrab terbuat dari kayu dan mempunyai ukiran bermotif sulur-suluran yang terletak di sisi barat. (*)

loading...
Reporter : Metria Indeswara /  Sumber : Agam Media Center /  Editor : Agoes Embun

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]