Kisah Sarjana Satu Tangan, Jadi Pekerja Sosial demi Perkembangan Literasi di Agam


Rabu, 12 Agustus 2020 - 21:50:50 WIB
Kisah Sarjana Satu Tangan, Jadi Pekerja Sosial demi Perkembangan Literasi di Agam Atrianis

HARIANHALUAN.COM - Kebanyakan sarjana yang telah menamatkan studinya memilih hijrah ke kota demi mencari pekerjaan, namun tidak bagi perempuan Lubuk Basung yang satu ini. Ia lebih memilih mengabdikan diri, ilmu serta pengalamannya untuk pekerjaan sosial.

Banyak hal yang akan ia perbuat dalam memperjuangkan hak kaum marjinal, mulai dari menjadi aktivis kaum disabilitas sampai upaya meramaikan jalan sunyi dunia literasi. Bagaimana kisah perempuan yang menginspirasi ini?

Salah seorang alumnus Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Imam Bonjol, Padang, Atrianis merupakan perempuan berusia 28 warga Kampung Pinang, Lubuk Basung, Kabupaten Agam. Atri meraih gelar sarjana dari Jurusan Sejarah Kebudayaan Islam. Terhitung sudah empat tahun Atri menyandang gelar sarjana, dan sejak itu pula Ia mengabdikan diri menjadi seorang pekerja sosial.

Pengabdiannya bermula dari perkenalannya dengan organisasi perempuan penyandang disabilitas (berkebutuhan khusus). “Awalnya setelah diwisuda, Atri dikenalkan dengan dunia disabilitas. Kemudian Atri diajak gabung dalam Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia,” ujar perempuan yang saat ini tengah menjabat sebagai ketua National Paralympic Committee (NPC) di Kabupaten Agam, Rabu (12/8/2020).

Awalnya keterlibatannya di dunia disabilitas hanya sebagai sukarelawan. Namun, setelah terjun langsung, rasa cinta dan kepeduliannya terhadap mereka yang berkebutuhan khusus semakin terpupuk.

“Habisnya tidak banyak orang yang mau menyuarakan hak-hak disabilitas. Kemudian mereka yang berkebutuhan khusus seringkali mendapatkan perlakuan diskriminatif,” tukuk perempuan yang sempat menjadi Sekretaris DPD Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) Provinsi Sumatra Barat.

Prinsip yang selalu dipegangnya sampai sekarang, sekecil apapun pengabdian seseorang, jika mampu membuat orang sekitar bahagia, itu sudah luar biasa sekali.

Jika sebagian orang mau melakukan pekerjaan sosial karena terinspirasi oleh sosok yang dikagumi, tapi itu tidak berlaku buat Atri. Ia memutuskan menjadi seorang aktivis, murni karena alasan nurani. “Tak ada tokoh yang menginspirasi Atri,” ujar perempuan yang hobi menulis dan membaca ini.

Atri begitu menghargai arti kehidupan. Baginya hidup adalah rahasia Tuhan. Hidup tergantung seperti apa seseorang memaknainya. Ia yakin, dalam hidup Tuhan tidak akan memberikan cobaan jika umatnya tidak mampu menjalankannya. Ia hanya mencoba menjadi sebaik-baiknya manusia. Manusia yang bermanfaat bagi sesama. 

“Karena ini adalah kehidupan kedua bagi Atri,” kenang perempuan yang harus merelakan salah satu tangannya, pada tahun 2008 silam karena diserang tumor tulang.

Saat ini, ia beserta beberapa orang rekannya tengah membentuk komite olahraga bagi penyandang disabilitas di Kabupaten Agam. Bahkan untuk mewujudkan keinginannya tersebut, ia tidak mendapatkan bayaran apa-apa, malahan rela mengeluarkan kocek pribadinya untuk urusan ini dan itu.

Atri menceritakan sewaktu menjadi aktivis disabilitas di Kota Padang. Ia menjadi salah satu yang membidani tim Kota Padang pada ajang olahraga bagi penyandang kebutuhan khusus antar kabupaten dan kota. Bukannya senang telah mengantarkan Kota Padang menjadi juara umum, Ia malah merasa sangat sedih. Pasalnya, tim dari tanah asalnya tidak mampu menorehkan prestasi.

“Maka sejak saat itu, Atri bertekad untuk mendirikan National Paralympic Committee di Kabupaten Agam. Mohon doa dan dukungannya semoga dimudahkan jalannya,” tambahnya.

Tidak sampai di situ saja, perjuangan Atri memperjuangkan hak-hak kaum termajinalkan. Saat ini bersama rekan di tempat tinggalnya tengah memprakarsai berdirinya rumah baca bagi anak-anak usia sekolah. 

Alasan utama pendirian rumah baca tersebut, karena perkembangan ilmu pengetahuan yang makin lama makin pesat. Sementara anak-anak di tempat tinggalnya terbilang masih haus akan ilmu pengetahuan, namun terkendala dengan akses dan fasilitas .

“Saat ini masih mengumpulkan buku-buku dari sukarelawan. Atri berharap nantinya banyak sukarelawan yang mau membantu dan pihak terkait juga mau menyokong niat baik ini,” imbuh mantan pengurus Ikatan Mahasiswa Sri Antokan itu.

Aktifitas kesehariannya saat ini, selain menjadi aktivis disabilitas, Ia juga menjadi relawan di beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan menjadi wartawan di Solider.or.id, media yang menyuarakan hak-hak mereka yang berkebutuhan khusus. (*)

loading...
Reporter : Metria Indeswara /  Sumber : Agam Media Center /  Editor : Nova Anggraini

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]