Studi: Orang yang Bugar Cenderung Lebih Banyak Berkeringat saat Berolahraga


Jumat, 14 Agustus 2020 - 15:45:20 WIB
Studi: Orang yang Bugar Cenderung Lebih Banyak Berkeringat saat Berolahraga Ilustrasi virus corona/COVID-19.

HARIANHALUAN.COM - Setiap berolahraga pasti kamu sering melihat orang bercucuran keringat. Orang yang banyak keringat tersebut ternyata menandanya tingkat kebugaran lho. Semakin banyak keringat maka semakin seseorang tersebut.

"Akan tetapi, kita sebenarnya tidak perlu berkeringat untuk mendapat latihan yang baik," kata Dr. Lindsay Baker, ahli keringat dan ilmuwan di Gatorade Sports Science Institute dikutip dari Kompas.com, Jumat (14/8/2020).

Dr. Baker menyebut, banyak faktor yang dapat memengaruhi keringat secara keseluruhan. Ia juga mengatakan, penelitian mengenai bagaimana dan mengapa seseorang berkeringat dapat memberi wawasan terkait cara tubuh manusia beradaptasi dengan olahraga dan memulihkan diri setelahnya.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Plos One menunjukkan, semakin banyak seorang atlet berolahraga, terutama melakukan aktivitas aerobik seperti lari jarak jauh, mereka cenderung semakin berkeringat.

"Semakin banyak latihan daya tahan yang kita lakukan, semakin banyak kita akan berkeringat, dan kita juga berkeringat lebih cepat," kata Dr. Baker.

Dengan memperhatikan seberapa banyak kita berkeringat, maka kita akan menambah wawasan terkait tingkat kebugaran kita, dan membantu kita bersiap untuk olahraga serta memulihkan diri lebih cepat.

Keringat lebih sedikit saat berolahraga bukan masalah

Intensitas hanyalah salah satu faktor dari seberapa banyak kita berkeringat. Secara umum, semakin banyak usaha yang kita lakukan, semakin banyak panas yang dihasilkan tubuh, yang memicu tubuh memproduksi lebih banyak keringat, menurut Baker.

Pasalnya, keringat berfungsi sebagai sistem pendingin tubuh. Saat tubuh kita mulai memanas, seperti berolahraga atau melakukan aktivitas lain, kelenjar keringat menghasilkan cairan di permukaan kulit.

Begitu cairan menguap saat terkena udara, cairan tersebut menggunakan energi dalam bentuk panas dari kulit kita, membantu menstabilkan suhu tubuh.

Tetapi, seberapa banyak kita berkeringat tergantung pada faktor-faktor pribadi seperti genetik, jenis kelamin, dan berat badan.

Orang dengan massa tubuh lebih banyak cenderung berkeringat lebih banyak, karena membutuhkan usaha lebih untuk memindahkan massa yang lebih besar daripada orang yang bertubuh kecil.

Kondisi lingkungan, seperti suhu udara sekitar dan kelembapan juga menentukan seberapa cepat keringat menguap, jumlah keringat yang muncul dan kita rasakan pada tubuh.

"Berapa banyak keringat di kulit kita bervariasi tergantung banyak faktor," kata Baker.

"Di luar rumah, dalam kondisi kering dan berangin, kita bisa berkeringat banyak tetapi belum tentu menyadarinya."

Kita bisa saja berolahraga tanpa banyak berkeringat, dan itu tidak berarti tubuh kita tidak bekerja keras atau dehidrasi. Sebaliknya, tidak perlu khawatir jika kita banyak berkeringat.

Dalam meneliti ratusan atlet, Baker telah menemukan jumlah rata-rata keringat adalah sekitar satu liter per jam, tetapi itu sangat bervariasi, mulai kurang dari setengah liter hingga tiga liter atau lebih.

Meski keringat adalah salah satu cara untuk menilai kualitas pengalaman olahraga kita, itu bukan satu-satunya faktor penentu.

Orang yang bugar cenderung lebih banyak berkeringat

Jumlah keringat kita juga ditentukan oleh seberapa banyak kebugaran yang kita miliki, terutama dengan latihan daya tahan tubuh (endurance), menurut Baker.

Sebab, tubuh belajar untuk mengantisipasi latihan segera setelah kita mulai pemanasan, dan mendinginkan tubuh dengan menghasilkan keringat.

"Jika kita telah beradaptasi saat olahraga, tubuh kita merespon lebih baik untuk mengatur suhu tubuh dengan berkeringat lebih cepat dan lebih banyak sehingga kita bisa menghilangkan panas dan menjaga suhu inti tubuh pada tingkat yang aman," kata Baker.

Ditambahkan Baker, atlet yang terlatih juga mampu mempertahankan tingkat intensitas lebih tinggi selama latihan, yang juga menghasilkan lebih banyak keringat.

Jangan lupa mengisi ulang cairan tubuh

Salah satu efek samping berkeringat adalah kita kehilangan cairan dan elektrolit --mineral penting untuk kesehatan seperti natrium dan kalium.

Setelah kita kehilangan cairan, kita perlu mengisi ulang cairan tubuh atau berisiko mengalami dehidrasi.

Cara termudah untuk mengetahui tingkat hidrasi tubuh adalah melalui urin kita. Jika warnanya gelap, kemungkinan besar kita tidak minum air dalam jumlah memadai.

Salah satu solusinya adalah bersikap proaktif dan mulai minum sebelum berolahraga.

"Banyak atlet tidak berpikir tentang minum dan menghidrasi tubuh sampai akhirnya mereka terlambat," kata Baker.

"Sangat penting untuk memikirkan tentang hidrasi dan memulai latihan dengan terhidrasi."

Baker mengatakan, kita dapat mengukur seberapa banyak kita berkeringat dengan menimbang berat badan sebelum dan sesudah berolahraga.

Jika berat badan kita rendah, itu menunjukkan kita perlu minum lebih banyak cairan untuk menggantikan apa yang hilang dalam proses berkeringat.

Mengonsumsi camilan asin bersama air putih setelah latihan juga dapat membantu menggantikan elektrolit, sehingga kita terhindar dari efek samping seperti kelelahan otot berlebihan dan kram otot, menurut Baker. (*)

loading...
 Sumber : Kompas.com /  Editor : Milna Miana
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Ahad, 30 Agustus 2020 - 06:47:11 WIB

    Studi: Virus Corona Hidup di Hidung Anak Hingga 3 Pekan

    Studi: Virus Corona Hidup di Hidung Anak Hingga 3 Pekan HARIANHALUAN.COM - Anak-anak dapat membawa virus corona di hidungnya hingga tiga pekan, menurut sebuah penelitian dari Korea Selatan. Penelitian sebelumnya telah menemukan sebagian besar anak-anak dengan virus memiliki gejala.
  • Rabu, 15 Juli 2020 - 13:01:57 WIB

    Studi: Banyak Orang Terkena 'Broken Heart Syndrome' karena Pandemi Corona

    Studi: Banyak Orang Terkena 'Broken Heart Syndrome' karena Pandemi Corona HARIANHALUAN.COM - Sebuah studi baru yang dirilis oleh Journal of American Medical Association. Studi ini mengatakan bahwa makin banyak orang terkena 'broken heart syndrome' selama pandemi corona terjadi..
  • Rabu, 08 Juli 2020 - 10:17:55 WIB

    Studi: Banyak Pandemi Seperti Corona Bisa Terjadi di Masa Depan

    Studi: Banyak Pandemi Seperti Corona Bisa Terjadi di Masa Depan HARIANHALUAN.COM - Sebuah laporan studi menemukan kondisi yang membuat pandemi seperti Corona mungkin lebih banyak terjadi di masa depan. Seperti meningkatnya permintaan daging liar dan kerusakan lingkungan..
  • Senin, 15 Juni 2020 - 14:56:59 WIB

    Studi: Pasien Covid-19 Tanpa Gejala Bisa Alami Kerusakan Organ

    Studi: Pasien Covid-19 Tanpa Gejala Bisa Alami Kerusakan Organ HARIANHALUAN.COM - Analisis baru dari Scripps Research telah menemukan bahwa 30 hingga 40 persen pasien Corona tidak menunjukkan gejala, tetapi hal ini tidak berpengaruh pada dampak yang disebabkan oleh COVID-19. Ahli jantu.
  • Kamis, 23 April 2020 - 07:29:43 WIB

    Studi: Bayi Kelahiran Caesar Berisiko Obesitas dan Diabetes

    Studi: Bayi Kelahiran Caesar Berisiko Obesitas dan Diabetes JAKARTA, HARIANHALUAN.COM -- Proses persalinan caesar dikenal membawa konsekuensi yang berdampak panjang. Studi baru-baru ini menemukan proses kelahiran caesar meningkatkan risiko bayi mengalami obesitas dan diabetes tipe 2.

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]