Patriotisme Anak Bangsa Pada 17 Agustus Memprihatinkan 


Jumat, 14 Agustus 2020 - 16:57:06 WIB
Patriotisme Anak Bangsa Pada 17 Agustus Memprihatinkan  Ketua LKAAM Provinsi Sumatra Barat, M Sayuti Datuak Rajo Pangulu

HARIANHALUAN.COM - Patriotisme anak bangsa Indonesia pada 17 Agustus 2020 ini cukup memprihatinkan kita semua. Patriotisme ini merupakan suatu sikap wajib dimiliki oleh anak bangsa yang menghirup udara Negara Republik Indonesia. Patriotisme mempunya arti semangat cinta tanah air, sikap seseorang yang sudi mengorbankan segala-galanya untuk kejayaan dan kemakmuran tanah airnya, sikap nasionalisme yang diperlukan, (KBBI, 1988:654). 

Berangkat dari arti patriotisme tersebut, maka dapat kita lihat salah satu aspek kenegaraan waktu 17 Agustus 2020 ini. Kecintaan anak bangsa terhadap tanah air ini semakin hari semakin memprihatinkan. Meprihatinkan artinya merasa sedih, merasa cemas, merasa khawatir kita terhadap kelangsungan hidup berbengasa dan bernegara di masa yang akan datang.
 
Pernah Prof. Rizanur Gani sebagai dosen saya waktu di jenjang S1 tahun 1983 bercerita bahwa makna kata cinta itu dibahas mendalam. Begitu juga kata rela berkorban. Ceritanya begini salah seorang mahasiswa bertanya, “bagaimanakah perbedaan makna cinta kepada kekasih dan cinta kepada tanah air?” Beliau menjawab, “jika seseorang merasa cinta dengan seseorang tidak tau diri dan tak tau diri orang sekitarnya, siang dicarinya, malam diingatnya, kalau hujan berpayung, kalau kelam hari bersenter, kalau jauh dijalang, kalau bertemu jiwa dan raganya dengan kekasihnya semuanya diserahkannya kepada kekasihnya, begitulah gambaran cinta seseorang”. 

Lebih, lanjut dikatakannya, “bahwa cinta terhadap tanah air tak jauh beda dengan cinta seseorang kepada kekasihnya. Cinta tanah air seseorang atau kelempok orang juga mau dan mampu menyerahkan semua jiwa dan hartanya demi untuk tanah air tercinta. Berangkat dari cerita tersebut, masihkah anak bangsa kita cinta terhadap tanah airnya? Lebih fokus lagi pada suasana sekarang sedang memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke 75 Republik Indonesia. 

Pada HUT ke 75 pada bulan Agustus setiap tahun diperingati bahkan dirayakan dengan berbagai kegiatan anak bangsa mulai dari Nagari/Desa sampai ke kota. Tetap ada yang aneh sekarang kelihatan bahwa anak bangsa tidak peduli dengan bendera merah putihnya. Kepedulian ini dapat dilihat dari indikator pemasangan bendera merah putih baik dipasang di rumah, di kantor dan di tempat fasilitas umum terlihat sangat memprihatinkan. Ada yang memasang tiang bendera asal ada saja apakah bambu yang sudah patah, apakah kayu yang bengkok-bengkok, bahkan ada pula yang tidak memasang bendera sama sekali. 

Hal ini sangat memprihatinkan kita semua. Lain lagi dengan kenderaan, baik kenderaan roda lebih dari dua atau keberadaan roda dua, sangat minin memasang bendera merah putih pada kenderaannya. Sekurang-kurangnya ada stiker merah putih tarok di sepeda motor.
 
Penulis ingin mengenang masa tahun 60-an. Ayah saya sebagai wali nagari, dubalang wali nagari mencek bendera ke rumah penduduk. Kalau tidak memasang bendera dicap sebagai anti 17 Agus. Mereka ditanya, apakah anti 17 Agustus atau tak ada bendera yang akan dipasang? Kalau anti 17 Agustus mereka dihukum secara adat, dengan didenda dalam bentuk rodi di jalan atau didenda memberi hukuman dengan rodi di jalan dan dlihat oleh orang kampong bahwa sipolan terdenda karena anti 17 Agustus. Berita itu membuat penduduk di kampung tersebut jera dan sadar bahwa orang yang anti 17 Agustus dapat dihukum atau didenda oleh walinagari.
 
Sekarang kita lihat anak bangsa terhadap rasa patriotismenya terhadap bendera merah putih cupuk memprihatinkan. Jika kita lihat di pemukiman penduduk, di rumah penduduk, di kantor negeri atau kantor swasta atau di kenderaan roda lebih dari dua dan juga kenderaan roda dua termasuk sepeda dayung lebih parah lagi prihatin kita. Kalau di rumah penduduk ada yang memasang bendera asal-asal saja karena ada tiangnya yang lapuk dan ada yang benkok. 

Begitu juga di kantor-kantor ada yang mengembirakan dengan memasang umbul-umbul merah putih tetapi ada pula yang memasang bendera merah putih yang sudah lusus lagi pudar warna.
 
Undang-undang Dasar 1945 pasal … bendera Negara Indonesia berwarna merah putih. Begitu juga Undang – undang no 24 tahun 2009 tentang Bendera, lambang Negara, lagu Indonesia raya, dan bahasa Negara. Dalam UU no 24 tahun 2009 ini ada yang kurang seimbang. Kurang seimbang itu terletak pada pemberian sanksi. Jika bendera atau lambang Negara dinistakan atau diinjak-injak oleh masyarakat, maka ia dapat diberi sanksi sesuai dengan hukum yang berlaku. Tetapi kalau bahasa Indonesia yang salah pemakainnya tidak ada sanksi hukum. 

Padahal jika bahasa Indonesia salah atau tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia atau tidak berdasarkan kaidah Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PU-EBI) maka terjadi pembodohan secara strutur dan pembiayaran secara massif. Akibatnya anak bangsa ini dilakukan pembodohan berbahasa secara turun temurun tanpa ada peran penguasa membina dan menegur orang yang salah dalam berbahasa. Baik bahasa lisan maupun bahsa tulis. Kita melihat di lapangan papan nama bahkan papan nama orang hukum seperti papan nama notaris masih ditemukan menuliskan nama atau gelar yang salah. 

Siapa lagi yang kita harapkanmenegakkan hukum atau kaidah bahasa kita sendiri yang salah penggunaannya secara meraja lela. Negara Jepang kalau ada orang yang salah menuliskan huruf kanji, semua orang mencemoohkan dan pemerintah menegur. Akhirnya pelaku kesalahan itu jerah dan jerah pula buat orang lain. Orang Jepang betul-betul hormat kepada simbol-simbol negaranya.

Lain lagi halnya dengan suasana peringatan 17 Agustus setiap tahun sebagai hari kemerdakaan, hari proklakamasi juga hari bersejarah. Saya waktu kecil melihat ayah saya sebagai Wali Jorong memerintahan setiap penduduk harus memasang benderadi rumahnya. Kalau tidak memasang bendera akan diberi sanksi rodi atau hukum sosia, seperti membersihkan Masjid. Kalau sepeda waktu itu tahun 60-an wajib pakai bendera. 

Sekarang mobil kenderaan bermotor diperbiarkan saja oleh penegak hukum. Tidak ada razian atau teguran pada orang tidak menghormati 17 Agustus. Bahkan dulu kalau ada orang yang membangkang tidak mau mengibarkan benderamerah putih akan dicap anti 17 Agus. Berarti dia pro penjajah.(*)

loading...
Reporter : Merinda Faradianti /  Editor : Rahma Nurjana

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]