Nasihat Mohammad Hatta yang Terlupakan


Ahad, 16 Agustus 2020 - 09:52:31 WIB
Nasihat Mohammad Hatta yang Terlupakan Kunjungan kerja Wakil Presiden Moh.Hatta ke Yogyakarta tahun 1950. Foto: Dokumen Keluarga Pranoto Reksosamodra/hariansejarah)

Apakah Partai Politik Indonesia Kurang Melakukan Kaderisasi?

HARIANHALUAN.COM-Bayangkan Anda adalah seorang pelayar yang sedang berada di tengah laut. Kapal yang anda tunggangi terombak-ambik oleh badai yang besar dalam kegelapan malam. Dalam situasi ini, siapakah yang akan Anda percayakan untuk memegang nahkoda kapal tersebut? Kapten kapal yang sudah berpengalaman mengendarai kapal? Atau rekan Anda yang kebetulan paling tenar? Mereka yang hendak untuk selamat, tentu tidak akan berpikir panjang dan lekas menaruh harapan pada si Kapten. Rekan Anda mungkin lebih disukai, namun akan lebih rasional bila popularitas dikesampingkan untuk memajukan kepentingan bersama bukan?

Baca Juga : Beragam Tradisi Unik Masyarakat Adat Indonesia di Bulan Rajab

Ilustrasi ini pertama kali dilontarkan oleh Socrates untuk mempertanyakan prinsip demokrasi. Apabila masyarakat (awak kapal) dapat leluasa memilih pemimpin mereka (pemegang kendali kapal), apakah jaminan bahwa mereka akan menggunakan kuasa tersebut untuk memilih si “Kapten” (yang berpengalaman) dan bukan awak lain yang kebetulan lebih disukai? Pasalnya, sejarah cenderung memenangkan si tenar yang ujung-ujungnya justru menyesatkan seluruh kapal. Dari seorang Austria yang menjanjikan kemusnahan bangsa Yahudi, hingga Presiden mantan pebisnis yang mengumbar mantra Make America Great Again, manusia seakan tak pernah beranjak dari kesalahan serupa; memilih pemimpin yang salah, dan membayar harga yang berat pada akhirnya.

Namun, apa jadinya bila Kapten tersebut memang dari awal tidak terlatih, lugu, plin-plan, atau lebih parah lagi, menghilang? Apakah awak kapal dapat disalahkan bila mereka lebih percaya pada si tenar yang penuh dengan keyakinan daripada si Kapten yang ragu-ragu (mungkin saja si tenar ini mempunyai bakat terpendam)?

Baca Juga : Ini Daftar Hewan Langka yang Perlu Kamu Lihat Sebelum Punah

Masalah inilah yang menghantui pikiran Mohammad Hatta dulu, yakni pentingnya mencetak politisi yang ulung dalam bidangnya dan mampu menjalankan roda perjuangan apapun kesulitan yang dihadapi. Semua ini berawal dari observasi beliau akan terbubarnya Partai Nasional Indonesia. Soekarno mungkin kita kenal sebagai “singa podium” yang mampu membakar semangat masa dengan pidatonya. Namun di mata Moh. Hatta, watak pemimpin seperti ini adalah cela yang mudah dieksploitasi oleh penjajah. Soekarno terlalu mengandalkan popularitasnya dan lupa mendidik orang-orang pilihan partai mengenai perpolitikan hingga cara-cara perjuangan. Akibatnya, perjuangan nasional ini terlalu bergantung pada sosok bung Karno dan kurang pada inti perjuangan itu sendiri.

Terang saja, cukup dengan menjebloskan Soekarno ke penjara, perjuangan menjadi kacau balau. PNI dibubarkan paksa. Anggota-anggotanya kocar-kacir dan berusaha membentuk partai lanjutan, Partai Indonesia (Partindo). Tanpa sosok Soekarno, para anggota partai hilang motivasi dan jarang hadir dalam rapat. Tak sedikit yang meninggalkan perjuangan dan membentuk golongan-golongannya sendiri. Terkuaklah bahwa anggota-anggota partai tersebut selama ini tidak memiliki semangat berkorban dan kagok akan arah perjuangan. Dan Soekarno? Si orator tersebut meringkuk tidak berdaya di penjara tanpa dibela oleh masa yang dulu sempat terpukau dengannya. Beruntung beliau masih selamat

Baca Juga : Berminat untuk Menjadi Penyelam? Ini Tipsnya untuk Pemula

Bagi Mohammad Hatta yang sudah berpengalaman di Perserikatan Indonesia, obat dari masalah ini hanya satu. Partai politik harus bisa menggembleng individu-individu pilihan dengan cita-cita partai agar melek politik. Individu yang mendapat pendidikan partai ini disebut sebagai kader. Dan proses menempa seorang kader untuk melanjutkan visi misi partai kini kita kenal dengan istilah kaderisasi. Kaderisasi adalah tulang punggung perjuangan. Kader-kader inilah yang akan melanjutkan perjuangan apabila pimpinan teratas ditangkap atau diasingkan. Kader pula yang akan mendidik dan mewakili rakyat agar nilai-nilai perjuanganlah yang dipercayai rakyat dan bukan sosok yang mengumbar nilai tersebut.

Bila Mohammad Hatta menekankan kaderisasi, Soekarno mengandalkan mobilisasi. Kaderisasi akan memakan waktu terlalu lama dan ‘khayal’. Menurutnya, kaderisasi bukanlah alat untuk mencapai kemerdekaan tapi kemerdakaan adalah alat untuk memuluskan kaderisasi. Alat untuk mencapai kemerdekaan adalah mobilisasi masa sebanyak dan secepat mungkin yang akan dengan serasi mendesak kemerdekaan. Untuk itu, sosok populer dan cakap diperlukan untuk menyatukan masa tersebut dalam satu gerakan.

Baca Juga : Pembelajaran Ideal Anak saat Pandemi

“Politik adalah machtsvorming dan machtsaanwending- pembentukan kekuatan dan pemakaian kekuatan. Dengan tenaga terhimpun kita dapat mendesak musuh ke pojok dan kalua perlu menyerangnya. Mempersiapkan teori dan membuat keputusan kebijaksanaan penting yang berasal dari buku-buku tidaklah praktis.”

Begitu ujar Soekarno ketika berdebat dengan Mohammad Hatta soal usulannya. Dari sini, bisa kita lihat meskipun keduanya bertentangan akan urutan kaderisasi demi kemerdekaan atau kemerdekaan demi kaderisasi, Soekarno dan Hatta mengakui pentingnya hal tersebut. Secara singkat, apabila negara ini diumpamakan sebagai kapal, dan kita rakyat adalah awak kapal, maka partai politik adalah Akademi Pelayaran. Dia bertanggung jawab untuk mencetak Kapten (politisi) yang akan memegang kendali seluruh kapal serta awak kapal (masyarakat) yang paham akan kewajiban dan haknya masing-masing. Apabila partai politik gagal dalam mendidik kader berkualitas, atau mencerahkan publik mengenai politik bangsa, seluruh kapal akan terkena imbasnya. Kepercayaan akan hilang dan tidak menutup kemungkinan hilangnya kepercayaan ini akan diisi oleh sosok si tenar yang cuman bisa membual janji manis.

Partai politik juga harus melakukan regenerasi. Dengan demikian, kader-kader baru akan diberikan kesempatan untuk mengaplikasikan kaderisasinya. Dalam konteks masa-masa perjuangan, regenerasi adalah untuk memastikan bahwa kekuasaan partai tidak terkonsentrasi pada satu figur saja dan memastikan partai dapat berkelanjutan meskipun figur pimpinan tiada. Apabila partai gagal melakukan regenerasi, partai tersebut akan rapuh layaknya PNI yang bergantung pada sosok pemimpin. Selain itu, potensi-potensi dari kader yang baru tidak akan pernah terungkap, dan partai tersebut akan menjadi stagnan. Dengan kata lain, Kapten pun suatu saat harus pensiun dan digantikan, kapal harus terus berjalan tak peduli siapa yang memegang kendali.

Nasehat itu diumbar ketika masa-masa perjuangan kemerdekaan. Kini, sebagai bangsa merdeka pun, nasehat Mohammad Hatta masih sangat relevan. Partai politik harus terus wajib mendidik dan menyediakan calon-calon pejabat yang akan dipilih oleh masarakat. Pemilihan pun tidak boleh hanya sebatas prosedur. Kualitas dari pilihan harus terjamin. Apalagi sebentar lagi, Indonesia akan mengadakan Pilkada. Pilkada ini akan memiliki nilai strategis karena hasilnya juga akan menentukan Pemilu 2024 mendatang.

Apakah Indonesia sudah mengindahkan ajaran Mohammad Hatta untuk memastikan kader yang diusung adalah yang terbaik dan bukan sekedar tenar? Sialnya, Tidak! Dari berbagai nama yang diusung, ada beberapa yang belum membuktikan kepiawaiannya sebagai politisi. Kaderisasi mereka belum jelas tapi seakan mendapat jalan mulus dari partai karena koneksi mereka dengan orang penting. Tentu, partisipasi politik sejatinya adalah hak semua orang dalam sistem demokrasi. Namun tolak ukur parpol dalam mengusung kandidat tertentu patut dipertanyakan.

Di Solo, partai PDIP memilih untuk mengusung putra dari Presiden Joko Widodo, Gibran Rakabuming. Meski awalnya mengusung pasangan Achmad Purnomo dan Teguh Prakoso yang jauh berpengalaman, Gibran-seorang pebisnis tiba-tiba dianggap lebih pantas. Bukan hanya itu, Purnomo dengan sepihak mengundurkan diri dari persaingan. Apakah kualitas dari sosok Gibran yang membuat dia lebih pantas diusung oleh PDIP dari Purnomo yang sudah mengabdi selama bertahun-tahun? Mengapa standard partai politik yang mengharuskan minimal 3 tahun aktif seakan-akan dikurangi khusus untuk Gibran yang baru mendaftar akhir tahun lalu?

Faktanya, Gibran tidak harus berupaya banyak untuk mengenalkan diri. Orang dari pelosok pun sudah mengenal Gibran sebagai “anak Presiden Jokowi”. Namun belum tentu banyak orang di pulau Jawa yang mengenal sosok Achmad Purnomo. Partai yang menggaet nama Gibran sudah dijamin akan mendapatkan nilai tambah tersendiri.

Di Medan, menantu Presiden Joko Widodo mendapatkan dukungan partai PDIP, Gerindra, Golkar, NasDem dan PAN. Lagi-lagi latar belakangnya adalah berbisnis. Peneliti Universitas Leiden, Ward Barenschot memang menyatakan bahwa dalam hal strata sosial, jabatan-jabatan di parlemen, gubernur, dan bupati memang masih terlalu didominasi oleh kelompok bisnis.

Ada juga mereka yang bahkan jarang terdengar sebelum terusung. Di Kabupaten Kediri misalnya, Hanindhito Himawan Pramana, anak dari Pramono Anung menjadi calon Bupati. Di Sukoharjo, Etik Suryani yang merupakan istri Wardoyo Wijaya juga akan bertarung untuk kursi Bupati yang dulu ditempati oleh suaminya.

Pengajar ilmu politik Universitas Al-Azhar, Ujang Komaruddin menilai contoh-contoh diatas sebagai buruknya perputaran elit politik di Indonesia. Partai seperti PDIP pada umumnya gagal melakukan kaderisasi yang berpotensi semakin terkonsolidasinya oligarki. Selain itu, Transparency International juga mengatajan bahwa partai politik gagal dalam menggaet masyarakat untuk berpolitik.

Kehendak Rakyat, Atau Kelalaian Partai?

Pembelaan yang paling sering terdengar dari pelbagai politisi yang pengalamannya dipertanyakan ini mirip. “Mereka mengikuti aturan main dan pada akhirnya, kehendak masyarakatlah yang akan mengusung mereka bukan”? Tidak ada yang salah dengan hal ini. Akan tetapi tanpa rekam jejak pencapaian yang jelas, memilih kandidat tersebut akan terasa seperti bermain judi. Terlebih dari itu, terlihat pula kesalahan serupa yang Mohammad Hatta peringati jangan terulang, yakni mengandalkan mobilisasi dan ketenaran untuk mencapai kepentingan politik tanpa menghiraukan kualitas. Apakah ini menunjukan bahwa Indonesia tidak lagi mengindahkan nasihat Bung Hatta?

Editor : Dodi | Sumber : Haluan.co (Haluan Media Group)
TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Ahad, 21 Februari 2021 - 13:33:23 WIB

    Beragam Tradisi Unik Masyarakat Adat Indonesia di Bulan Rajab

    Beragam Tradisi Unik Masyarakat Adat Indonesia di Bulan Rajab Masyarakat adat di Indonesia memiliki tradisi unik dalam menyambut momen-momen tertentu, salah satunya saat memasuki bulan Rajab..
  • Ahad, 14 Februari 2021 - 16:34:31 WIB

    Ini Daftar Hewan Langka yang Perlu Kamu Lihat Sebelum Punah

    Ini Daftar Hewan Langka yang Perlu Kamu Lihat Sebelum Punah Saat ini ada berbagai lembaga di seluruh dunia yang sedang mengupayakan penyelamatan terhadap hewan-hewan langka yang terancam punah. Meski begitu, daftar hewan langka mungkin tak akan habis, karena jumlahnya terus bertambah..
  • Ahad, 07 Februari 2021 - 19:13:51 WIB

    Berminat untuk Menjadi Penyelam? Ini Tipsnya untuk Pemula

    Berminat untuk Menjadi Penyelam? Ini Tipsnya untuk Pemula Menikmati pemandangan bawah laut memiliki kenikmatan dan keasyikan tersendiri. Beraneka ragam kehidupan berseliweran dalam perairan tersebut begitu memikat untuk ditatap dan disingkap kehidupan bawah laut tersebut yang sampai.
  • Senin, 01 Februari 2021 - 22:36:28 WIB

    Pembelajaran Ideal Anak saat Pandemi

    Pembelajaran Ideal Anak saat Pandemi Pandemi COVID-19 membawa dampak besar pada dunia pendidikan di Indonesia. Sebagian besar sekolah memutuskan untuk melakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau belajar online dari rumah..
  • Sabtu, 30 Januari 2021 - 11:17:10 WIB

    Nobody Wants To Be Stupid

    Nobody Wants To Be Stupid Seorang guru menyampaikan dalam rapat. “Kelas saya adalah kelas istimewa”. Mencoba mengangkat posisi , dan semua orang sudah mengira kata istimewa adalah konotasinya positif. Yang terbayang adalah anak-anaknya kreatif, ra.
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]