Ini Lima Cara Menghindari Risiko Dihack Saat Pandemi Covid-19


Senin, 17 Agustus 2020 - 22:13:18 WIB
Ini Lima Cara Menghindari Risiko Dihack Saat Pandemi Covid-19 ilustrasi hacker

HARIANHALUAN.COM - Pandemi global Covid-19 mendorong terjadinya disrupsi dalam bisnis yang juga meningkatkan risiko penipuan berbasis teknologi atau penipuan cyber. Hati-hati, tingkatkan lapisan keamanan Anda! Untuk diketahui, meningkatnya risiko peretasan saat pandemi didasari beberapa hal, antara lain banyaknya pekerja yang bekerja dari luar kantor, sehingga meningkatkan resiko keamanan dengan traffic yang berkali lipat.

Selain itu, stimulus bisnis berjumlah triliunan yang dikeluarkan untuk memutar kembali roda perekonomian di berbagai negara juga menimbulkan banyak celah untuk terjadinya penipuan cyber. Berdasarkan penelusuran Cybernews, pencarian terkait hacking, scamming dan berbagai bentuk kejahatan cyber lainnya meningkat pesat sejak Maret-Mei 2020.

Sejalan dengan data tersebut, Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) juga mencatat kenaikan serangan cyber selama pandemi di Indonesia hingga hampir enam kali lipat. Grant Thornton, organisasi global penyedia jasa audit, tax, dan advisory, baru-baru ini melakukan polling kepada 615 orang terkait latar belakang profesi seperti CFO, Controller, Akuntan, Auditor Internal, Analis Keuangan dan Tax Professional untuk melihat gambaran nyata kenaikan fraud selama pandemi.

Dalam survei tersebut terlihat 17% dari responden telah mengalami fraud sepanjang pandemi ini, dan hanya 18% responden yang telah memiliki rencana penanggulangan fraud terkait Covid-19. Mereka juga berpendapat ada tiga peretasan yang dirasa paling berbahaya saat ini, antara lain pengambilalihan akun, penipuan berbasis aplikasi serta ancaman dari orang dalam.

"Berbagai indikasi menunjukkan penipuan cyber berisiko untuk terus meningkat beberapa bulan mendatang, bahkan saat memasuki fase new normal. Beberapa langkah perlu dilakukan agar perusahaan dapat menghadapi ancaman gelombang peretasan berikutnya, melindungi aset mereka secara keseluruhan, dan memastikan tersedianya sumber daya untuk menghadapi berbagai gangguan penipuan cyber tersebut," kata Managing Partner Grant Thornton Indonesia Johanna Gani.

Grant Thornton Indonesia melalui keterangan tertulisnya memaparkan lima langkah yang bisa membantu membendung risiko peretasan yang dihadapi perusahaan sebagai berikut:

1. Tentukan siapa yang memimpin inisiatif keamanan cyber di perusahaan
Perlu menunjuk ahli anti-peretasan dalam perusahaan untuk memimpin tim ini. Orang tersebut harus memiliki akuntabilitas untuk semua program anti-peretasan terkait pandemi. Mungkin saja orang atau tim tersebut bisa saja sudah menjadi bagian dari perusahaan, namun pastikan bahwa ini bukanlah tugas biasa,karena mereka akan bertanggung jawab untuk beradaptasi dan melakukan eksekusi dengan cepat.

2. Perbarui sistem utama
Akan ada banyak perubahan dalam proses bisnis untuk merespons secara cepat perubahan program pemerintah, peraturan, paket stimulus, faktor ekonomi, dan keputusan bisnis di tingkat eksekutif. Kemungkinan sistem yang ada saat ini tidak relevan untuk mencatat data terkait prosedur baru. Maka, rencanakan untuk melakukan penyesuaian maupun improvisasi dari sistem saat ini agar dapat berjalan sesuai proses yang baru.

3. Buat skema peretasan
Dalam masa yang penuh ketidakpastian, akan sangat penting untuk proaktif dalam mengidentifikasi berbagai ancaman baru. Bentuklah tim untuk mengevaluasi skema peretasan yang mungkin timbul dan kumpulkan informasi intelijen dari teman, regulator maupun mitra. Berkolaborasi dengan tim keamanan cyber juga direkomendasikan untuk menemukan berbagai sumber ancaman yang ada.

4. Manfaatkan teknik deteksi tanpa pengawasan
Saat teknik pemodelan yang diawasi mungkin tidak menjadi terlalu akurat ketika perilaku berubah secara dramatis, pengaktifan metode yang tidak diawasi (otomatisasi) seperti deteksi anomali, analisa jaringan, dan sistemisasi pengaturan semuanya dapat memberikan penambahan nilai keamanan dengan cepat.

5. Iterasi dan adaptasi
Deteksi peretasan bukanlah sebuah proses 'set-and-forget' sehingga perusahaan harus tetap waspada terhadap ancaman cyber yang dapat berevolusi dari waktu ke waktu. Otomatisasi proses, peringatan untuk hibernasi serta berbagai metode lainnya dapat membantu tim anti-peretasan menangani peningkatan volume peringatan fraud yang mungkin mereka hadapi. (*)

 Sumber : Detik.com /  Editor : Agoes Embun

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]