Pabrik Sepatu di Indonesia Setop Produksi, Ini Ternyata Alasannya


Rabu, 19 Agustus 2020 - 11:08:48 WIB
Pabrik Sepatu di Indonesia Setop Produksi, Ini Ternyata Alasannya ilustrasi produksi sepatu

HARIANHALUAN.COM - Pabrik-pabrik sepatu berorientasi ekspor maupun domestik memilih setop produksi di tengah permintaan sepatu di dalam negeri maupun ekspor yang lesu. Untuk permintaan ekspor dari brand-brand papan atas saja seperti Nike, Adidas Cs sudah berakhir kontraknya sejak Mei 2020.

Direktur Eksekutif Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Firman Bakri membeberkan nasib industri sepatu saat ini. Setelah lima bulan dihajar oleh pandemi Covid-19, sudah banyak pabrikan yang menjadi korban. "Ada yang betul-betul stop produksi sekitar 18%. Mereka sangat kesulitan akhirnya nggak kuat juga," kata Firman seperti dilansir dari CNBC Indonesia, Selasa (18/8/2020).

Data Aprisindo, dari anggota mereka yang merupakan produsen sepatu, sebanyak 120 produsen, artinya sekitar 20-an lebih yang tutup pabrik. Dampaknya sudah ada puluhan ribu pegawai yang terkena dampak. Apalagi, utilitas produksi pun sudah jauh dari kata normal. "Jauh ya, sekarang utilitas 32%. Jadi yang masih jalan masih banyak tapi volume mengecil. Banyak yang lakukan 3 hari kerja, 2 hari libur, masih banyak seperti itu," jelasnya.

Di tengah kesulitan itu, Firman mengaku pelaku usaha butuh bantuan untuk lebih cepat pemulihan. Namun justru muncul sejumlah regulasi yang memberatkan. Regulasi itu di antaranya adalah Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 18 Tahun 2019 tentang Metode Pengujian, Tata Cara Pendaftaran, Pengawasan, Penghentian Kegiatan Perdagangan dan Penarikan Barang Terkait dengan Keamanan, Keselamatan, Kesehatan dan Lingkungan Hidup (K3L).

"Beredarnya produk ada izin edar. Kalau di Kemenkes ada BPOM, Kementerian Perindustrian ada SNI. Ini Kemendag keluarkan Permendag, ada syarat standar mutu lagi, sebenarnya itu duplikasi pengaturan, karena bicara standar mutu juga Ketika dilihat lebih dalam lagi sangat memberatkan. Masalahnya peraturan-peraturan ini ada tumpang tindih dalam pengawasan, jadi sewaktu-waktu bisa aparat hukum, selama ini kita harap pembinaan," katanya.

Industri alas kaki termasuk yang banyak terjadi PHK massal. Kasus PHK massal terungkap ke publik misalnya PT Shyang Yao Fun Kota Tangerang melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal 2.500. Produsen sepatu buyer Nike ini merelokasi pabrik ke Jawa Tengah. Setelah itu, ada PHK massal 4.985 pekerja PT Victory Chingluh Indonesia, selaku produsen buyer Nike dan Adidas. (*)

 Sumber : CNBC Indonesia /  Editor : Agoes Embun

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]