Perspektif Islam Tentang Kemerdekaan


Sabtu, 22 Agustus 2020 - 08:16:33 WIB
Perspektif Islam Tentang Kemerdekaan

17 Agustus selalu diperingati oleh bangsa Indonesia sebagai hari kemerdekaan. 75 tahun lalu kemerdekaan ini diperoleh bangsa Indonesia melalui perjuangan yang panjang, melelahkan dan pengorbanan yang tiada terkira. Kiranya bila generasi Indonesia saat ini diminta untuk membalas jasa para pahlawan kemerdekaan itu, nyatalah sudah bahwa pengorbanan mereka tiada dapat dibalas.


Oleh:  Muhammad Yusuf el-Badri

Sebab yang mereka berikan untuk bangsa ini tidak sebatas uang, tenaga dan pikiran, melainkan darah, keluarga dan nyawa mereka sendiri.
Meskipun begitu, para pahlawan bangsa itu tidak menisbatkan kemerdekaan sebagai semata-mata karena perjuangan dan usaha mereka sendiri. Alih-alih menonjolkan pengorbanan dan usaha mereka demi meraih kemerdekaan, para pendiri bangsa justru mengakuinya sebagai rahmat Allah swt. Ini menunjukkan bahwa dalam proses meraih kemerdekaan ada unsur kepercayaan kepada Tuhan.

Lalu muncul pertanyaan, apa sebenarnya makna kemerdekaan itu? Sehingga ada orang yang dengan berani tanpa rasa takut dan dengan senang hati mengorbankan nyawanya untuk meraih kemerdekaan itu? Tulisan ini akan membahas cara pandang Islam tentang kemerdekaan.

Kemerdekaan dalam Terminologi Islam
Kata yang sepadan dengan merdeka paling banyak disebut dalam khazanah Islam adalah hurriyah. Dalam terminologi Arab, al-hurriyah didefinisikan sebagai bersih dari kotoran, perbudakan dan kekejaman. Definisi lain dari hurriyah adalah keadaan dimana makhluk hidup tidak tunduk karena penaklukkan, atau tidak terikat pada sesuatu dan tidak didominasi oleh apapun, sehingga ia bertindak sesuai dengan kehendak dan tabiat naluriahnya.
Kata hurriyah sering kali digunakan untuk menunjuk pada keadaan seseorang yang merdeka, laki-laki atau perempuan. Sehingga Al- hurriyah diartikan sebagai orang yang mempunyai kebebasan atau kemerdekaan untuk menentukan nasibnya sendiri dan menyampaikan pikiran tanpa dibatasi oleh status sebagai individu, stratifikasi sosial atau karena beban nenek moyang.

Dalam Islam kosakata hurriyah ini sering ditemui dalam tema pembahasan yang berbicara tentang keimanan dan hukuman. Misalnya, bila seseorang membuat suatu kesalahan atau melanggar hukum agama, maka hukuman yang dijatuhkan adalah membebaskan seorang budak dari tuannya, baik dengan cara memberi kebebasan budak yang dimilikinya atau dengan cara menebus seorang budak untuk dibebaskan oleh tuannya. Dalam khazanah Islam klasik dan sejarah Islam awal, kisah pembebasan budak ini banyak ditemui.

Lawan kata dari hurriyah ini adalah ‘abd yang berarti budak atau orang yang pikiran dan kehendaknya dikendalikan dan dibatasi oleh orang lain atas dasar kepemilikan. Praktik kepemilikan atas manusia ini banyak terjadi dalam masyarakat Arab sebelum Islam dan masa awal Islam.

Semua Manusia Sama di Hadapan Tuhan

Adanya unsur kepemilikan seseorang atas orang lain membuat manusia tidak lagi mempunyai kehendak, keinginan dan kebebasan dalam hidup. Semua kehendaknya harus tunduk di bawah kehendak manusia yang memilikinya. Konsep kepemilikan manusia atas manusia lain ini membuat posisi manusia tidak setara. Hal ini bertentangan dengan Islam.

Dalam Islam semua manusia diletakkan dalam posisi yang setara antara satu dengan yang lainnya. Tuhan tidak menjadikan perbedaan warna kulit, bentuk, jabatan dan harta sebagai pertimbangan untuk memuliakan atau menghinakan, meninggikan atau merendahkan. Tersebab manusia diciptakan sebagai hamba Tuhan, maka manusia dilarang menghambakan diri pada selain Tuhan, benda-benda, binatang, alam raya, termasuk manusia, harta,
kelompok, bangsa bahkan negara.

Seandainyapun ada tugas kemanusiaan dan kebaikan bersifat publik yang dilakukan oleh setiap orang, maka hal itu mesti diyakini sebagai bagian dari menjalankan kewajiban agama dan membayarkan hak Tuhan bukan sebagai bentuk penghambaan diri.
Sebaliknya bila ada upaya paksa agar manusia mengabdi pada manusia lain, maka kewajiban manusia adalah melepaskan dirinya dari kewajiban itu. Sebab hanya Allah, Tuhan Yang Maha Esa sebagai satu-satunya yang wajib disembah oleh manusia.(*)

loading...
 Editor : Dodi

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]