Waspadai Happy Hypoxia Syndrome, Gejala Tersembunyi pada Covid-19


Rabu, 26 Agustus 2020 - 20:57:30 WIB
Waspadai Happy Hypoxia Syndrome, Gejala Tersembunyi pada Covid-19 Ilustrasi

HARIANHALUAN.COM - Salah satu gejala Covid-19 bisa berupa Sesak napas. Namun, sebuah studi menemukan, pasien yang dinyatakan positif Covid-19 bisa mengalami happy hypoxia syndrome. Nama terakhir merupakan kondisi saat seseorang tak mengalami kesulitan bernapas meski kadar oksigen dalam tubuh sangat rendah.

"Kondisi ini sangat membingungkan bagi dokter karena sangat bertentangan dengan konsep biologi dasar," ujar penulis studi penelitian Martin J Tobin yang merupakan dokter spesialis paru, mengutip Science Direct.

Dalam beberapa kasus, lanjut Tobin, pasien malah terasa nyaman, tidak terganggu sama sekali, bahkan bisa beraktivitas. Padahal, dalam tingkatan yang parah, kondisi tersebut bisa mengancam nyawa.

Studi yang diterbitkan dalam American Journal of Respiratory and Critical Care Medicine ini melibatkan 16 pasien Covid-19 dengan kadar oksigen yang sangat rendah, tapi tanpa sesak napas.

"Saat kadar oksigen turun, otak [pasien Covid-19] tidak merespons sampai oksigen turun ke tingkat yang sangat rendah, di mana pasien biasanya akan merasakan sesak napas," kata Tobin.

Happy hypoxia syndrome dikenal juga dengan istilah 'silent hypoxemia'. Hipoksemia sendiri didefinisikan sebagai penurunan kadar oksigen dalam darah. Saat oksigen mulai berkurang, seseorang umumnya akan mengalami sesak napas. Pada tingkat terendah, kondisi tersebut bisa mengancam nyawa.

Covid-19 merupakan penyakit yang menyerang saluran pernapasan. Pada kasus yang parah, infeksi ini bisa mengurangi jumlah oksigen yang dapat diserap paru-paru. Tingkat oksigen dalam darah yang sangat rendah ditemukan pada beberapa pasien Covid-19.

Mengutip Healthline, hipoksemia umumnya dapat disebabkan oleh berbagai kondisi pernapasan seperti asma, pneumonia, dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).

Hipoksemia juga terkadang dapat terjadi pada bayi baru lahir dengan kelainan atau penyakit jantung bawaan. Bayi prematur juga rentan mengalami hipoksemia.

Orang yang mengalami hipoksemia umumnya akan menunjukkan beberapa gejala seperti sesak napas, batuk atau mengi, sakit kepala, detak jantung cepat, merasa bingung, serta warna biru pada kulit, bibir, dan kuku. (*)

loading...
 Sumber : CNNIndonesia /  Editor : Heldi Satria

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Selasa, 08 September 2020 - 17:35:35 WIB

    Waspadai Happy Hypoxia COVID-19 yang Bisa Bikin Tumbang Mendadak

    Waspadai Happy Hypoxia COVID-19 yang Bisa Bikin Tumbang Mendadak HARIANHALUAN.COM - Happy hypoxia menjadi gejala virus Corona COVID-19 yang cukup ramai diperbincangkan. Pasalnya, gejala Corona kekurangan kadar oksigen ini sulit dideteksi karena tidak menunjukkan gejala seperti sesak napas..
  • Senin, 03 Agustus 2020 - 20:55:20 WIB

    Waspadai Tanda-Tanda Penuaan Dini, Ternyata Bukan Hanya Muncul Kerutan

    Waspadai Tanda-Tanda Penuaan Dini, Ternyata Bukan Hanya Muncul Kerutan HARIANHALUAN.COM - Terkadang kita abai dengan tanda-tanda penuaan dini yang terjadi pada kulit, dan baru sadar saat sudah begitu terlihat. Seseorang dikatakan mengalami penuaan dini apabila dia terlihat lebih tua daripada usi.
  • Sabtu, 04 Juli 2020 - 06:38:32 WIB

    Tak Hanya Covid-19, Gugus Tugas Minta Masyarakat Waspadai Wabah DBD

    Tak Hanya Covid-19, Gugus Tugas Minta Masyarakat Waspadai Wabah DBD HARIANHALUAN.COM - Tim Komunikasi Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Reisa Broto Asmoro mengingatkan bahaya peningkatan kasus demam berdarah dengue (DBD) di masa pandemi Covid-19. Apalagi belakangan kasus demam berdar.
  • Kamis, 18 Juni 2020 - 10:08:48 WIB

    Waspadai, Kurang Tidur Dapat Picu Penyakit Jantung

    Waspadai, Kurang Tidur Dapat Picu Penyakit Jantung HARIANHALUAN.COM - Tidur yang terganggu bisa membuat frustasi, karena kita merasa lelah keesokan harinya. Namun, terjaga sepanjang malam pun dapat memiliki efek lebih serius dari sekadar kelelahan..
  • Kamis, 28 Mei 2020 - 18:23:14 WIB

    WHO: Waspadai Puncak Kedua Pandemi Corona yang Lebih Bahaya

    WHO: Waspadai Puncak Kedua Pandemi Corona yang Lebih Bahaya HARIANHALUAN.COM - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mewanti-wanti daerah dengan kasus infeksi virus corona menurun masih bisa menghadapi puncak kedua pandemi Covid-19 jika abai pada tindakan konkret pencegahan wabah. .

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]