Amerika Diterjang Badai Laura, 580 Ribu Jiwa Mengungsi


Jumat, 28 Agustus 2020 - 07:56:34 WIB
Amerika Diterjang Badai Laura, 580 Ribu Jiwa Mengungsi Gambar satelit menampilkan Badai Laura di Teluk Meksiko. (NOAA via AP)

HARIANHALUAN.COM - Amerika Serikat (AS) yang masih bergelut melawan pandemi virus corona (Covid-19) kini dihadapkan pada musibah baru, yaitu Badai Laura. Badai dahsyat tersebut telah menghantam Gulf Coast hingga ke barat daya Louisiana dekat perbatasan Texas selama berjam-jam pada Kamis pagi waktu setempat (27/8/2020).

Ketika badai menerjang, disertai angin kencang, hujan lebat, dan air laut naik. Akibat itu, wilayah yang dilalui badai menjadi porak-porandakan. Kasino terlihat melayang ketika badai menghantam, kata polisi setempat.

Pasca badai menerjang, angin dan hujan masih bertiup terlalu kencang sehingga sulit untuk memeriksa korban selamat, tambahnya.

"Ada beberapa orang yang masih di kota dan orang-orang menelepon ... tetapi tidak ada cara untuk menghubungi mereka," kata Tony Guillory, presiden Juri Polisi Paroki Calcasieu, Kamis pagi melalui telepon.

Dilansir dari CNBC International, Guillory juga mengatakan dia berharap orang-orang yang tidak mengungsi dan masih berada di lokasi ketika kejadian berlangsung, bisa segera diselamatkan pada Kamis malam. Namun, ia juga mengatakan khawatir upaya tersebut akan sulit dilakukan karena jalan terblokir puing-puing, kabel listrik putus dan terjadi banjir.

Menurut laporan, sekitar 470.000 rumah dan bisnis kini tidak memiliki aliran listrik di kedua negara bagian yang dilalui Badai Laura. Hanya petir yang terus muncul yang menjadi penerang wilayah tersebut.

"Kami mengenal siapa pun yang tinggal sedekat itu dengan pantai, kami harus berdoa bagi mereka, karena melihat gelombang badai, kecil kemungkinannya untuk selamat," kata Letnan Gubernur Louisiana Billy Nungesser dikutip dari ABC's Good Morning America.

National Hurricane Center mengatakan Badai Laura menghantam pantai dengan kecepatan angin 150 mph (241 kph) pada pukul 1 pagi CDT di dekat Cameron, sebuah komunitas yang dihuni 400 orang sekitar 48 kilometer di timur perbatasan Texas. Badai itu masuk dalam Kategori 4.

"Gelombang badai yang tidak dapat diatasi dengan gelombang besar dan merusak akan menyebabkan kerusakan yang sangat besar," kata lembaga itu memperingatkan. Mereka mengatakan gelombang badai bisa mencapai 15-20 kaki di Port Arthur, Texas, dan dataran Louisiana termasuk Lake Charles, kota berpenduduk 80.000 orang di Lake Calcasieu.

"Gelombang ini bisa menembus hingga 40 mil ke daratan dari garis pantai langsung, dan air banjir tidak akan sepenuhnya surut selama beberapa hari," kata lembaga itu lagi.

National Hurricane Center juga mengatakan Badai Laura tetap menjadi badai Kategori 2 sekitar 6 jam setelah mendarat, dengan kecepatan angin 100 mph (160 kph). Pusatnya bergerak ke utara, sekitar 30 kilometer utara Fort Polk, Louisiana. Angin yang merusak mencapai luar sejauh 175 mil 280 kilometer.

Dick Gremillion, direktur darurat di Paroki Calcasieu, mengatakan bahwa beberapa jam setelah badai reda, mereka masih belum bisa keluar dan melihat kerusakan karena angin masih kencang.

"Angin masih lebih dari 50 mph. Ini harus turun dulu secara signifikan sebelum mereka dapat melakukan panggilan darurat apa pun. Kami juga membutuhkan cahaya matahari," kata Gremillion dalam wawancara dengan KPLC-TV.

Sebelum badai menerjang, sebanyak 580.000 penduduk pesisir telah diperintahkan untuk mengungsi. Namun, mereka diminta untuk tinggal di hotel atau tidur di mobil dikarenakan pemerintah setempat tidak membuka tempat penampungan massal demi menghindari penyebaran wabah Covid-19.

Badai Laura menghantam negara baian Amerika Serikat (AS) tersebut setelah menewaskan puluhan orang di pulau Hispaniola, termasuk 20 orang di Haiti dan tiga orang di Republik Dominika. Badai itu juga membuat aliran listrik terputus dan banjir hebat di wilayah itu.

Laura adalah nama badai ketujuh yang menyerang AS tahun ini, mencetak rekor baru untuk mencapai darat di AS pada akhir Agustus. Rekor lama adalah enam pada tahun 1886 dan 1916, menurut peneliti badai Universitas Negeri Colorado Phil Klotzbach. (*)

loading...
 Sumber : CNBC Indonesia /  Editor : Heldi Satria

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

BERITA TERPOPULER Index »

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]