PSKP: Calon Tunggal di Pilkada Bumerang Bagi Demokrasi


Sabtu, 29 Agustus 2020 - 06:14:48 WIB
PSKP: Calon Tunggal di Pilkada Bumerang Bagi Demokrasi Dok Humas PSKP

HARIANHALUAN.COM - Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) mengeluarkan warning, dimana terdapat 31 daerah yang berpotensi hanya memiliki calon tunggal pada Pilkada 2020 ini. Calon tunggal sejatinya menjadi fenomena tersendiri ditengah demokrasi Indonesia, dimana hadir kontestasi tanpa kompetisi dalam pelaksanaan electoral activity.

Pusat Studi Kemanusiaan dan Pembangunan (PSKP) tertarik untuk mengulas dan mendiskusikan fenomena ini lebih lanjut dengan mengadakan diskusi dalam Webinar Series ke #11 yang mengambil tema “Fenomena Calon Tunggal pada Pilkada”.

Webinar yang diselenggarakan hari Jumat (28/8) kemarin, dan dihadiri sekitar 65 peserta ini, dimoderatori oleh Abdi Rafi Akmal, Asisten Peneliti Departemen Politik dan Pemerintahan PSKP.

Webinar ini menghadirkan sejumlah narasumber yang tentunya bekompeten dalam bidangnya, antara lain Fadli Ramadhanil Program Manager Perludem dan Akademisi Komunikasi Politik dan Peneliti Indopol Survey, Verdy Firmantoro.

Selain dua narasumber tersebut, webinar kali ini juga menghadirkan perwakilan lembaga negara sebagai pemateri, yaitu Mahyudin, Komisioner Bawaslu DKI Jakarta serta Henry Casandra Gultom, Ketua KPU Kota Semarang. Manager Program Ekonomi dan Pembangunan PSKP, Achmad Ismail juga hadir sebagai pemantik diskusi

Memulai diskusi, Achmad Ismail, Manager Program Ekonomi dan Pembangunan PSKP menyampaikan bahwa fenomena calon tunggal terjadi karena adanya kaderisasi dalam tubuh partai politik yang berjalan kurang baik.

Fenomena ini juga dinilai dapat memiliki implikasi panjang pada kehidupan demokrasi. Disampaikan, bahwa fenomena ini dapat berdampak pada gairah partisipasi masyarakat.

“Ini bisa jadi berimplikasi panjang ya, karena dampak langsungnya pada keinginan masyarakat berpartisipasi dalam pemilihan. Jika hanya ada satu calon, keinginan untuk terlibat utamanya sebagai voters bisa jadi menurun karena tidak terjadi persaingan antar calon disana,” katanya dalam keterangan tertulis yang diterima Harianhaluan.com, kemarin.

Lebih jauh lagi, Achmad Ismail menyampaikan koalisi gemuk yang terjadi juga berdampak pada penyelenggaraan pemerintahan daerah.

“Bila seluruh partai bergabung dalam satu koalisi, dikhawatirkan mekanisme cek and balances tidak terjadi dengan baik, yang outputnya kembali lagi masyarakat yang merasakan,” ujarnya.

Program Manager Perludem, Fadli Ramadhanil menyampaikan fakta yang lebih komples munculnya fenomena calon tunggal ini. Senada dengan yang disampaikan Achmad Ismail, Fadli menyoroti mengenai kaderisasi partai yang tidak berjalan baik.

“Iya tentu ada andil kaderisasi yang tidak berjalan lancar dalam partai sehingga tidak keluarnya figur dominan. Selain itu memang harus diakui, ambang batas pencalonan juga terlalu tinggi,” ujarnya. (*)

loading...
 Sumber : Relis /  Editor : Milna Miana

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]