Indonesia Makin Dekat dengan Jurang Resesi, Ini 6 Faktanya


Sabtu, 29 Agustus 2020 - 07:20:59 WIB
Indonesia Makin Dekat dengan Jurang Resesi, Ini 6 Faktanya Ilustrasi

JAKARTA, HARIANHALUAN.COM – Jurang resesi makin dekat saja, bahkan Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani memprediksi kuartal III-2020 berada di kisaran 0% hingga minus 2%. Hal ini merupakan imbas pandemi virus Covid-19.

Dirinya mengatakan, adapun risiko tekanan pada pasar keuangan belum pulih. serta proyeksi pada tahun 2020 bisa minus 1,1% hingga 0%.

"Kita memang melihat di kuartal III downside risk tetap menunjukkan risiko yang nyata, kuartal III outlook-nya antara 0% hingga negatif 2%," kata Sri Mulyani.

Dia melanjutkan berbagai negara mulai memperlihatkan kontraksi ekonomi yang semakin nyata, baik di negara maju maupun negara berkembang. Pertumbuhan ekonomi yang negatif, bahkan hingga menyentuh angka 2 digit ini, terjadi akibat ketidakpastian yang cukup tinggi terutama karena masih dibayangi oleh pandemi Covid-19.

Berikut adalah fakta mengenai ancaman resesi seperti yang dilansir Okezone, Sabtu (29/8/2020).

1.Sulit Menghindari Resesi

Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani, bila dibandingkan kuartal II yang terkontraksi 5,32%, kuartal-III ada peluang perbaikan. Tapi untuk terhindar dalam jurang resesi itu sulit.

"Saat ini kelihatannya sulit untuk menghindari resesi karena di kuartal-III secara realistis ekonomi akan tetap tumbuh negatif. Walaupun akan ada perbaikan yang cukup signifikan dari kuartal-II," kata Shinta.

2. Dampak Covid-19 Sangat Parah

Sri Mulyani pun mengakui bahwa pandemi memberi dampak sangat menakutkan. Sebab mempengaruhi seluruh sektor dari sosial, kesehatan, ekonomi dan terjadi di seluruh dunia.

"Dampak Covid-19 sangat parah seperti terlihat dari kontraksi-kontraksi yang cukup signifikan terhadap perekonomian banyak negara," ujar Sri Mulyani.

3. Ancaman Covid Belum Berakhir

Sri Mulyani tekanan dan pengaruh covid-19 ini masih akan berlangsung lama. Adapun tekanan covid-19 tidak hanya terjadi di Indonesia namun di beberapa negara.

"Pandemi global yang dihadapi seluruh dunia menjadi situasi yang luar biasa, tanda-tanda covid-19 ini belum berakhir dan masih akan lama," ujar Sri Mulyani.

4. Tanda-Tanda Krisis

Sri Mulyani mengatakan, pandemi masih menjadi faktor utama yang menentukan kegiatan dan pemulihan ekonomi. Bahkan berbagai negara mulai memperlihatkan kontraksi ekonomi yang semakin nyata, baik di negara maju maupun negara berkembang.

"Pemulihan ekonomi kita sangat rapuh," ujarnya.

5. Jurus Sri Mulyani

Sri Mulyani mengatakan bakal fokus pada penyerapan belanja kementerian dan lembaga negara. Hal ini nantinya mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi.

"Pemerintah tetap mengusahakan sampai akhir bulan ini Agustus-September beberapa kementerian kemarin sudah meningkat untuk akselerasinya pada minggu terakhir kemarin ini," ujar Sri Mulyani di Gedung DPR, Jakarta.

6. Waktu 1,5 Bulan Tak Cukup

Ekonom Indef Bhima Yudistira mengatakan waktu 1,5 bulan ini tidaklah cukup untuk menyelamatkan ekonomi Indonesia dari resesi.

"Sulit untuk keluar dari resesi karena konsumsi saat ini masih lemah," kata Bhima saat dihubungi di Jakarta, Jumat (28/8/2020).

Dia melanjutkan stimulus pemerintah seperti subsidi gaji terlambat disalurkan sehingga efek ke belanja masyarakat tidak akan langsung dirasakan.

"Realisasi PEN pun baru 25%, relatif rendah," katanya.(*)
 

loading...
 Sumber : okezone.com /  Editor : Rahma Nurjana
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]