Kabar Gembira, Peneliti Selidiki Kasus Pasien HIV yang Sembuh Tanpa Obat


Senin, 31 Agustus 2020 - 19:38:40 WIB
Kabar Gembira, Peneliti Selidiki Kasus Pasien HIV yang Sembuh Tanpa Obat Ilustrasi

HARIANHALUAN.COM - Kejadian langka terjadi ketika dua orang yang terinfeksi HIV secara perlahan mengalami penurunan tingkat virus dalam tubuh mereka sampai ke tingkat tidak terdeteksi setelah transplantasi sumsum tulang. Sejak itu virus dalam tubuh mereka sama sekali tidak pernah kembali.

Penelitian menyebut bahwa beberapa orang dalam kondisi langka memiliki kemampuan untuk menyembuhkan diri mereka sendiri dari infeksi HIV. Fenomena tersebut membuktikan bahwa seseorang bisa memberantas HIV secara fungsional tanpa bantuan dari luar. Jika benar, fenomena ini akan menjadi contoh pertama dari penyembuhan spontan.

Analisis terhadap lebih dari 1,5 miliar sel yang diambil dari pasien pertama atau dikenal sebagai EC2 menunjukkan tidak ada salinan HIV yang berfungsi di salah satu dari mereka. Orang tersebut masih memiliki beberapa salinan virus yang tidak berfungsi.

Meskipun tidak ada yang dapat mengatakan dengan pasti virus tidak bersembunyi di dalam sel tubuh manusia, tapi temuan itu menunjukkan bahwa sistem kekebalan beberapa orang lebih tangguh.

Orang kedua atau EC1, hanya memiliki satu salinan fungsional HIV di lebih dari 1 miliar sel darah yang dianalisis. Salinan HIV tersebut terjebak dalam penjara supermax genetik. Penguncian genetik itu mungkin menjadi kunci untuk dapat mengendalikan virus secara alami.

Kedua orang itu adalah bagian dari kelompok langka yang dikenal sebagai pengendali elit. Mereka mampu mempertahankan tingkat HIV yang sangat rendah atau tidak terdeteksi tanpa obat antiretroviral.

Beberapa orang dalam kondisi langka memiliki kemampuan untuk menyembuhkan diri mereka sendiri dari infeksi HIV.   

Orang-orang ini tidak memiliki gejala atau tanda-tanda kerusakan yang jelas dari virus. Peneliti HIV di University of California Davis School of Medicine, Satya Dandekar mengatakan imunitas yang dimiliki kedua pasien itu memiliki durasi jangka panjang.

Sebaliknya, pada 99,5 persen atau lebih dari 35 juta orang di dunia yang terinfeksi HIV, obat-obatan adalah satu-satunya cara untuk menekan virus. Para peneliti ingin tahu bagaimana pengendali elit ini dapat menghentikan virus untuk jangka waktu yang lama.

“Sulit untuk mengetahuinya, karena tidak ada yang merekam adegan perkelahian pertama antara HIV dan sistem kekebalan pengendali elit. Kami melewatkan pukulan awal yang diberikan sistem kekebalan pada virus,” terang Dandekar, melansir dari Science News, Senin (31/8/2020).

Saat para peneliti mengenali pengontrol elit, sayangnya pertarungan sudah dimenangkan. Ahli Virus di Universitas California, San Francisco, Joseph Wong, mengatakan sekira seperempat pengontrol elit memiliki varian genetik dalam gen sistem kekebalan kunci yang dapat membantu mereka menangani virus.

“Tapi kondisi ini menjelaskan apa yang terjadi hanya pada minoritas pengendali elit, dan bukan sesuatu yang mudah ditransfer ke orang lain,” kata Wong.

Mungkin saja para pengendali elit itu terinfeksi HIV versi lemah. Jadi para peneliti memeriksa virus HIV yang tertanam dalam DNA dari 64 pengontrol elit dan 41 orang yang terinfeksi HIV yang memakai obat antiretroviral.

Pengontrol elit telah mempertahankan tingkat virus yang tidak terdeteksi tanpa obat dari satu hingga 24 tahun. Sementara rata-rata pengendali elit dapat kebal selama sembilan tahun.

HIV yang disebabkan oleh retrovirus, menyimpan informasi genetiknya sebagai RNA. Enzim yang disebut reverse transcriptase menyalin instruksi RNA tersebut ke dalam DNA, yang kemudian dapat dimasukkan ke dalam DNA inang.

Reverse transcriptase rentan terhadap kesalahan, seringkali mengakibatkan salinan virus yang rusak atau tidak lengkap. Jadi, para peneliti masuk ke penelitian dengan berpikir bahwa pengontrol elit mungkin mengalami nonfungsional pada sistem ini.

Ahli Imunologi Ragon Institute of MGH, MIT dan Harvard di Boston, Xu Yu mengatakan tidak berfungsinya sistem ini menyebabkan virus tidak dapat menular.

“Tapi yang mengejutkan kami, bukan itu masalahnya. Sebaliknya, sebagian besar pengontrol elit dalam penelitian ini memiliki virus yang lebih utuh dari yang diharapkan,” terang Yu.

Alhasil Yu dan rekannya mencari tahu dari mana virus menempel pada DNA pasien. Pada kebanyakan orang yang terinfeksi HIV, virus tersebut mendarat di dekat atau di dalam gen. Hal ini disebabkan karena beberapa protein manusia yang menggiringnya.

Ahli Virologi di Rutgers University Robert Wood Johnson Medical School di Piscataway, NJ, Monica Roth, mengatakan dalam pengontrol elit, virus terperangkap di bagian yang memiliki sedikit genom.

Ketika virus mendarat di atau dekat gen, mereka adalah orang-orang yang terbungkus dalam pelindung untuk mencegah pengaktifan gen. Secara kolektif, bagian genom yang tidak aktif dan dijaga ketat itu dikenal sebagai heterokromatin.

“Memasukkan HIV dalam heterokromatin seperti meletakkannya di bagasi, lalu mengunci bagasi,” kata Roth.

Salinan HIV yang dikurung itu mungkin akan bergerak sebentar dan menghasilkan virus menular, tetapi sebagian besar tidak aktif. Yu dan rekannya menyelidiki apakah pengendali elit memiliki kecenderungan untuk mengarahkan virus ke heterokromatin.

Sayangnya saat di laboratorium, protein pemandu dalam sel pengendali elit masih mengarahkan penyisipan HIV di dalam atau di dekat gen. Hal ini menunjukkan kondisi yang sama seperti apa yang terjadi pada sel orang lain.

“Mungkin bukan pengendali elit yang beruntung pada awal infeksi untuk membuat HIV terperangkap dalam heterokromatin,” kata Ahli Virologi sekaligus Dokter Penyakit Menular, Mathias Lichterfeld.

Sebaliknya, para peneliti berpikir bahwa sistem kekebalan pengontrol elit telah menghilangkan sel-sel yang memproduksi virus secara fungsional dan hanya menyisakan salinan virus yang rusak dan versi utuh yang terkunci dalam heterochromatin.

Hingga saat ini belum ada satu pun orang yang mengetahui persis bagaimana sistem kekebalan tubuh dapat mengelola virus HIV.

“Tidak ada bukti yang mengatakan bahwa itu terjadi. Meski begitu, penelitian ini mungkin memberi harapan bagi orang lain yang terinfeksi HIV. Setelah Anda mengetahui mekanisme ini bekerja, mungkin Anda dapat mengetahui apa yang salah pada orang lain dan menyesuaikannya," tuntas Roth. (*)

loading...
 Sumber : okezone.com /  Editor : Rahma Nurjana

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]