Kuliner Khas Korea Ini Dipercaya Turunkan Risiko Tertular Covid-19


Senin, 07 September 2020 - 08:44:30 WIB
Kuliner Khas Korea Ini Dipercaya Turunkan Risiko Tertular Covid-19 Ilustrasi

HARIANHALUAN.COM - Kimchi kuliner khas Korea yang sangat terkenal seantero dunia. Rupanya ada studi menarik tentang makan kimchi yang dikaitkan dengan Covid-19.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa seseorang yang rajin makan kimchi berisiko kecil tertular Covid-19. Bahkan ada bukti pada orang-orang yang tinggal di Korea Selatan.

Baca Juga : Melalui Si Jadoel, Inovasi untuk Tingkatkan Pemahaman Peserta JKN – KIS di Masa Pandemi

Profesor Kedokteran Paru di Universitas Montpellier, Prancis, dr. Jean Bousquet pun mempelajari hubungan antara tingkat kematian rendah dan perbedaan pola makan nasional. Mereka menemukan bahwa negara-negara tempat kimchi dikonsumsi membentuk bagian penting dan memiliki tingkat kematian yang lebih rendah.

Kimchi merupakan makanan yang terbuat dari kubis yang difermentasi dan kabarnya dapat membantu menurunkan kadar ACE2. ACE2 adalah suatu enzim dalam membrane sel yang sebagian besar ditemukan di paru-paru yang digunakan oleh virus corona Covid-19 sebagai titik masuk ke dalam tubuh.

Baca Juga : Ketua KNPI Padang: Pemuda harus Lebih Aware dengan Jaminan Kesehatan dan Dukung Program Mulia JKN – KIS

Makan kimchi dalam jumlah yang banyak dapat menurunkan jumlah ACE2 dan membuat virus lebih sulit untuk masuk ke dalam tubuh. Makanan ini juga tinggi antioksidan dan baik untuk meningkatkan imunitas tubuh bagi orang yang mengonsumsinya.

Tim peneliti juga memperhatikan sauerkraut Jerman yang dipotong halus, seperti kol yang difermentasi dalam garam dan sering disajikan dengan sosis.

Dilansir Donga, Minggu (31/8/2020), sejak Juli jumlah kasus yang dikonfirmasi secara kumulatif di Korea Selatan dan Jerman masing-masing mencapai 13.612 dan 201. 252 dengan hanya 291 dan 9.148 kematian yang menghasilkan tingkat angka kematian sebesar 2,14 persen dan 4,55 persen.

Kematian jauh lebih tinggi di negara-negara di mana kubis yang difermentasi tidak menjadi makanan pokok. Contohnya seperti Italia, (14,37 persen), Spanyol (9,33 persen), dan Inggris (15,43 persen). Studi ini juga menemukan bahwa negara-negara yang banyak mengonsumsi yoghurt atau kaviar seperti Yunani, Bulgaria dan Turki juga mengalami tingkat kematian yang rendah.

“Sedikit perhatian telah diberikan pada penyebaran dan tingkat keparahan virus dan perbedaan regional dalam diet. Tetapi perubahan diet mungkin sangat bermanfaat. Orangtua juga wajib memasukkan sayuran fermentasi ke dalam sarapan mereka,” pungkas dr Jean.(*)

Editor : Nova Anggraini | Sumber : okezone
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]