Penangkapan Ulama dan Kaitannya dengan Politik Saudi, Ini Kata Pakar Timur Tengah


Selasa, 08 September 2020 - 18:38:37 WIB
Penangkapan Ulama dan Kaitannya dengan Politik Saudi, Ini Kata Pakar Timur Tengah Ilustrasi

JAKARTA, HARIANHALUAN.COM - Pengamat politik Timur Tengah lulusan Universitas Al Azhar, Zuhairi Misrawi, menjelaskan soal politik di Saudi dan kaitannya dengan penangkapan ulama Syekh Abdullah Basfar. Wahabisme menjadi latarnya dan wahabisme berkembang sebagai penyokong Dinasti Saud. Kini, ada modernisasi di Arab Saudi.

"Ada wahabisme yang direformasi, bentuknya adalah modernisasi seperti perempuan boleh mengemudikan mobil, bioskop dibuka," kata Zuhairi kepada detikcom, Selasa (8/9/2020).

Wahabi adalah gerakan Islam Sunni yang bertujuan memurnikan ajaran Islam. Terkadang, penerapannya memang kelewat konservatif. Namun di era kekuasaan Pangeran Muhammad Bin Salman (MBS) tahun 2017, modernisasi mulai terjadi. Di sisi lain, ada pula Wahabi yang masih setia dengan bentuk aslinya.

"Ada wahabisme yang masih dipertahankan, tidak boleh ada keragaman pandangan," kata Zuhairi.

Dilansir BBC, kronologi politik Arab Saudi mulai Abad 20 dimulai oleh Abdul Aziz bin Saud (Ibnu Saud) yang menguasai Riyadh pada 1902. Satu dekade setelahnya, paham Wahabi menyokong Ibnu Saud.

Turki Usmani ambruk pada 1921 hingga 1925, Ibnu Saud kemudian mengambil alih Najd dan Hijaz. Pada 1932, Ibnu Saud menyatukan wilayahnya menjadi Kerajaan Saudi Arabia. Dia menjadi raja. Hingga kini, Dinasti Saudi berkuasa. Apakah kini Pangeran MBS masih memegang wahabisme?

"Dia seorang yang pragmatis saja. Nggak ada kaitannya dengan ideologi," kata Zuhairi.

Memang, MBS dikenal mulai memodernisasi Saudi. Namun soal penangkapan ulama dewasa ini, Zuhairi menilai ini adalah konsolidasi kekuasaan untuk mengamankan posisi Pangeran MBS sendiri.

"Modernisasi itu hanya bagian dari upaya konsolidasi kekuasaan. MBS sebagai generasi baru politik Saudi akan mencitrakan dirinya sebagai wajah Saudi baru yang moderat, yang bersahabat dengan Barat," kata Zuhairi.

Pihak yang tidak sejalan dengan agenda politiknya bakal ditangkap. Tak hanya ulama, tapi jurnalis hingga aktivis juga ditangkapinya. Tak hanya ulama, jurnalis, dan aktivis, bahkan sesama ningrat juga ditangkapi. Semua itu demi konsolidasi kekuasaan, mengamankan kekuatan politik tetap mantap di tangan MBS.

"Ini justru tidak membuat wajah Arab Saudi semakin baik, tapi semakin buruk, karena tidak memberikan ruang terhadap keragaman pandangan. Ini kemunduran Arab Saudi," kata Zuhairi.

Pengamat politik internasional memperkirakan aksi pemerintah Saudi ini bakal berimbas ke reputasi Saudi sebagai Khadimul Haramayn (penjaga dua tempat suci).

"Kalau betul Syekh Basfar ditangkap, itu akan menjadi atensi masyarakat internasional, bahkan masyarakat Islam yang tidak peduli politik sekalipun akan sangat sedih," kata pengamat politik internasional, Arya Sandhiyudha, kepada detikcom, Selasa (8/9/2020).

Doktor Ilmu Politik dan Hubungan Internasional dari Universitas Istanbul ini menjelaskan, Syekh Basfar adalah qari dan hafiz Al-Qur'an yang dikenal luas tak hanya di Saudi, tapi juga di dunia Islam, termasuk oleh umat Islam di Indonesia. Syekh Basfar dikenal sebagai ahli agama, bukan tokoh politik.

"Jangan sampai ada tindakan paranoid yang justru membahayakan reputasi Saudi. Saudi sampai sekarang masih memegang peran sebagai Khadimul Haramain. Kalau reputasi ini jatuh, maka kepercayaan Islam terhadap Saudi sebagai pengelola dua tanah suci juga akan jatuh," kata Arya.

Khadimul Haramayn adalah gelar bagi Raja Saudi sebagai penjaga Mekah dan Madinah, dua kota yang mempunyai situs penting Islam, yakni Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Sebenarnya, dahulu kala, pengelola Mekah dan Madinah bukan Saudi. Turki Usmani pernah menjadi pengelola Mekah dan Madinah.

"Justru penyikapan berlebih terhadap ulama dapat mengurangi kewibawaan sebagai Khadimul Haramayn, pelayan dua kota suci," kata Arya yang juga Direktur Eksekutif The Indonesian Democracy Initiative (TIDI) ini.

Seperti dilansir Middle East Monitor (MEMO), Selasa (8/9) akun Twitter the Prisoners of Conscience menyampaikan bahwa Sheikh Basfar ditangkap pada Agustus lalu, tanpa memberikan rincian lebih lanjut tentang bagaimana dan di mana dia ditangkap.

"Kami mengkonfirmasi penahanan Sheikh Dr Abdullah Basfar sejak Agustus 2020," tulis akun Prisoners of Conscience.

Laporan tentang penahanan Sheikh Basfar bertepatan dengan laporan tentang penahanan Sheikh Saud Al-Funaisan, yang ditangkap pada bulan Maret. Al-Funaisan adalah seorang profesor universitas dan mantan dekan fakultas Syariah di Universitas Al-Imam di Riyadh.

Isu yang berkembang di masyarakat Saudi, penangkapan ulama ini dikaitkan dengan kritik terhadap sang putra mahkota Mohammed bin Salman (MBS).

Sejak 2017, ketika putra mahkota mengambil alih kekuasaan, dia telah menindak ulama, jurnalis, akademisi, dan aktivis dunia maya atas pandangan kritis mereka tentang cara dia memerintah negara. (*)

loading...
 Sumber : detik.com /  Editor : Rahma Nurjana

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]