Buya Hamka sang Pahlawan Tauhid dari Tanah Minangkabau


Selasa, 15 September 2020 - 15:33:54 WIB
Buya Hamka sang Pahlawan Tauhid dari Tanah Minangkabau Ilustrasi. Net

Konsep tauhid yang dikedepankan Buya Hamka, tidak hanya diposisikan sebagai teori belaka, tetapi ia mengaplikasikannya dalam kehidupan bernegara, ekonomi, masyarakat. Baginya, penjajahan yang dilakukan oleh suatu bangsa terhadap bangsa lain bertentangan dengan tauhid. Karena tauhid tidak menyukai kekacauan.

Oleh: Indra Gunawan

Buya Hamka menempatkan tauhid sebagai bagian yang paling penting bagi kehidupan seorang Muslim. Menurut Buya Hamka, tauhid adalah ajaran yang sangat besar pengaruhnya bagi menggembleng jiwa sehingga kuat dan teguh. 

Kebebasan jiwa, kemerdekaan, pribadi, dan hilangnya rasa takut menghadapi segala kesukaran hidup, keberanian menghadapi segala kesulitan, sehingga tidak berbeda di antara hidup dengan mati, asal untuk mencari ridha Allah, adalah bekas ajaran tauhid yang jarang taranya dalam perjuangan hidup manusia. Bahkan boleh dikatakan bahwa tauhid itu adalah pembentuk tujuan hidup yang sejati bagi manusia. (Hamka, Pelajaran Agama Islam, 1992, h. 63)

Hamka juga menegaskan bahwa tauhid adalah roh agama Islam dan jauhar intisarinya dan pusat dari seluruh peribadatannya. Lebih jauh Hamka menulis, Sehingga boleh dikatakan bahwasanya tauhid telah memberi cahaya sinar-seminar dalam hati pemeluknya, dan memberi cahaya dalam otak sehingga segala hasil yang timbul daripada amal dan usahanya mendapat cap ‘Tauhid”. Hapuslah segala perasaan terhadap kepada yang lain, yang bermaksud mensucikan dan mengagumkannya. 

Atas perjuangan yang ditunjukkan Buya HAMKA melalui buah pikir dan tindakan serta karya beliau untuk memajukan ummat, bangsa dan Tanah Air Indonesia berdasarkan pemikiran ke-Islaman yang beliau perjuangkan sebagai anak Minang yang dilahirkan di bumi Minangkabau, alhamdulillah berdasarkan Keputusan Presiden No. 113, Th. 2011, pemerintah Republik Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada HAMKA.

Sang pahlawan yang akrab dengan panggilan Buya HAMKA ini telah menunjukkan kepahlawanannya. Kepahlawanan itu telah “siang bak hari dan terang bak bulan” dalam bentuk buah pikir dan goresan kalamnya yang banyak disusun di bawah penerangan cahaya “lampu minyak tanah” dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan dan juga seni, serta muatan dan kedalaman isinya yang tetap bernilai sepanjang masa. 

Sang pahlawan intelektual “menuju jalan yang lurus” bernama Buya HAMKA itu tidak hanya berhenti pada buah pikir yang direkam dalam bentuk karya tulis semata. Akan tetapi kemampuan itu diiringi oleh laku dan perbuatan, serta keteguhan yang beliau tunjukan sebagai pemimpin dan pelaku di berbagai ranah komunitas keahlian, sejalan dengan kepiawaian beliau sebagai pendakwah handal nan menyejukkan sanubari ummat di persada Nusantara.
Bertautan dengan itu amat tepat dan pantaslah terutama ketokohan serta kebesaran HAMKA di bidang ilmu ke-Islaman (‘ulama) dan pendakwah yang disukai ummat ini, mengantarkan beliau kepada derajat yang dihormati secara kultural Minang dengan sebutan “Buya”. 

Pada sebutan Buya ini, sekaligus menempatkan HAMKA pada posisi penghormatan religius yang lazim dijadikan sebagai tolok ukur dan acuan dalam kehidupan sosial-budaya, khususnya dalam kebudayaan Minangkabau pada umumnya di bumi Nusantara. 

Kebesaran Buya HAMKA sebagai ‘ulama atau intelektual Islam yang tidak saja hanya besar melalui dan di berbagai mimbar, akan tetapi kebesaran itu beliau “abadikan” melalui keluasan dan kedalam yang menggambarkan kecerdasan sebagai seorang ahli tafsir Al-Quran dengan melahirkan Kitab Tafsir Al Azhar sebagai karya gemilang yang terdiri atas 30 juzu’ , yang dimulai menyusunnya oleh Buya HAMKA menjelang tahun 1960 pada masa alat penerang listrik masih langka di negeri ini, apalagi komputer, internet, atau telepon genggam (handphone) belum ada. 

Bahkan, karya utama dan terbesar beliau itu diselesaikan secara lengkap oleh pengarang dalam tahanan (penjara) pada masa pemerintahan Presiden Soekarno, karena dituduh melakukan kegiatan subversi terhadap pemerintah tanpa pernah dibuktikan secara hukum. (Hamka, Tafsir Al Azhar Juzu’ 3)

Mengutip apa yang disampaikan Prof. Dr. James Rush, guru besar sejarah pada Universitas Yale Amerika Serikat, sebagaimana ditulis pada bagian terakhir Kitab Tafsir Al Azhar Juzu’ III seperti demikian. “Studi dan tulisan Hamka tentang kepercayaan dan pengetahuannya yang mendalam, tercermin secara dramatis dalam keberhasilannya menyusun Tafsir yang lengkap. 
Dan untuk masyarakat Indonesia yang sedang berkembang ia merupakan tiang penyangga. Ia mengharap agar masyarakat Indonesia menjadi masyarakat Islam, masyarakat yang aman, damai dan modern di Bawah Lindungan Ka’bah”. 

Oleh karena itu, kebesaran dan kepahlawanan Tauhid Buya HAMKA yang tampak dari usaha besar beliau sebagaimana terekam dalam karya Tafsir Al Qur’an tersebut, amat patut ditauladani dan dibumikan dalam dunia kependidikan.

“Harimau mati meninggalkan belang, Gajah mati meninggalkan gading; Manusia mati meninggalkan jasa, Besar harimau pada belangnya, Besar gajah pada gadingnya, Kebesaran manusia tampak pada karyanya”

Kepiawaian Buya HAMKA dalam tulis baca, yang lahir dari berbagai latar situasi dan kondisi sosial, budaya, serta politik di sepanjang hayatnya, telah melahirkan seratusan lebih karya tulis dalam sejumlah ranah, antara lain, agama, sastra, politik, budaya, dan sejarah. 

Karya-karya ini terabadikan sampai saat ini, “tidakkan lapuk karena hujan, tidakkan lekang karena panas”. Goresan tinta di kertas “buram” berjalan perlahan tapi pasti sepanjang hayatnya, telah menorehkan pemikiran yang brillian, cerdas, tajam, dan kontemplatif yang mencerahkan dari Sang Maha Guru. Buya HAMKA. 

Pemikiran mendasar (filosofis) dan hasil kajian yang cerdas dalam banyak bidang ilmu yang lahir dari Buya HAMKA senantiasa hidup dan relevan sepanjang masa. Katakanlah misalnya bagaimana kesenjangan hak dalam kehidupan yang seharusnya tidak memunculkan masalah mendasar disebabkan oleh perbedaan latar budaya antara seseorang (Hayati) berlatar budaya Minangkabau dengan seseorang (Zainuddin) berlatar budaya Bugis-Makasar, meskipun ayahnya orang Minangkabau seperti terlukis dalam karya “Tenggelamnya Kapal Van der Wijck”. 

Dalam pandangan Buya HAMKA, kesenjangan hubungan persaudaraan disebabkan oleh sistem kekerabatan yang tidak seharusnya terjadi pada diri Zainuddin, merupakan kultur yang tidak sesuai dengan dasar-dasar Islam, ataupun akal budi yang sehat.

Buya HAMKA telah meninggalkan pusaka yang tak ternilai harganya bagi kehidupan bangsa dan negara. Secara biologis tidak ada beda Buya HAMKA dengan manusia lain mana saja, akan tetapi yang membedakan adalah rekam jejak yang ditinggalkan Buya HAMKA sulit ditandingi oleh generasi sampai saat ini. 

Multi talenta yang hidup pada diri Buya HAMKA merupakan anugerah dari Sang Maha Pencipta diraih melalui kerja keras, hingga berbuah manis sepanjang masa. Lika liku yang ditempuh Buya HAMKA dengan segala onak dan duri sepanjang hidupnya dapat bernilai positif untuk dijadikan suri tauladan dalam rangka menanamkan kesadaran berbuat terbaik untuk membangun hayat. 

Buya HAMKA telah menunjukkan “Harimau mati meninggalkan belang, Gajah mati meninggalkan gading, Manusia mati meninggalkan jasa, Besar harimau pada belangnya, Besar gajah pada gadingnya”. Seratusan lebih buku berisikan kajian dan buah pikir yang diabadikan Buya HAMKA dalam untai kata dan kalimat nan elok merupakan pusaka yang patut diwarisi dan dijadikan pacu dalam hidup. 

Buya Hamka ini mengingatkan pada Sufi Agung Jalal al-Din Rumi yang berpendapat bahwa yang pertama kali dicipta oleh Tuhan adalah cinta. Menurut Mulyadhi Kartanegara, dari sinilah Rumi mengajukan sebuah spekulasi-filosofis yang sangat cemerlang, dengan memandang cinta sebagai kekuatan fundamental tauhid.

(Mahasiswa STAI-PIQ Sumbar Jurusan Tafsir Al-Qur’an)

loading...
 Sumber : Penulis /  Editor : Dodi

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Kamis, 10 September 2020 - 23:12:30 WIB

    Mahyeldi-Audy 'Buya Mahyeldi Sudah Berbuat'

    Mahyeldi-Audy 'Buya Mahyeldi Sudah Berbuat' Memilih adalah hak. Setiap warga yang sudah cukup syarat berhak memilih pemimpin yang diinginkan. Tanpa boleh dipaksa-paksa. Yang boleh adalah memberikan pencerahan kepada warga yang akan menggunakan hak pilihnya. Tujuannya a.
  • Selasa, 01 September 2020 - 12:50:39 WIB

    Membaca kembali Pemikiran Tasawuf Modern Buya Hamka

    Membaca kembali Pemikiran Tasawuf Modern Buya Hamka Dahulunya Tasawuf menjadi salah satu musuh bagi kalangan pembaharu Islam. Penolakan atas tasawuf dikarenakan konsep dan praktik tasawuf yang di anggap salah, menyimpang dan bertentangan dengan syari’at Islam. Karena itu, ti.

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]n.com