Mana yang Paling Efektif Cegah Covid-19: Pakai Masker atau Disuntik Vaksin?


Jumat, 18 September 2020 - 11:24:42 WIB
Mana yang Paling Efektif Cegah Covid-19: Pakai Masker atau Disuntik Vaksin? Ilustrasi

HARIANHALUAN.COM - Ahli kesehatan dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menjelaskan, pakai masker lebih efektif cegah virus corona daripada disuntik vaksin. 

Pernyataan Direktur CDC Robert Redfield itu merupakan tanggapan terhadap Senator Jack Reed yang bertanya apakah keputusan Presiden Donald Trump untuk tidak menggunakan masker di banyak aktivitasnya memperburuk kondisi negara.

"Saya tidak akan berkomentar langsung tentang presiden, tetapi saya akan berkomentar sebagai direktur CDC bahwa masker wajah adalah alat pelindung diri masyarakat yang penting dan harus dimiliki," jawab Redfield, menurut laporan Business Insider.

Ia menambahkan, masker adalah alat proteksi yang cukup efektif menghalau paparan virus. Ia percaya bahwa dengan menggunakan masker, paparan virus akan jauh lebih minim dibandingkan Anda disuntikkan vaksin tapi tidak patuh terhadap protokol kesehatan.

"Saya bahkan mungkin akan mengatakan lebih jauh bahwa masker lebih terjamin untuk melindungi saya dari Covid-19 daripada ketika saya disuntikkan vaksin Covid-19, karena imunogenisitasnya mungkin 70 persen. Dan jika saya tidak mendapat respons imun, vaksin tidak akan melindungi saya. Masker wajah ini akan melindungi saya," tambahnya.

Beberapa jam kemudian, pada konferensi pers Rabu malam (16/9), Presiden Trump membantah pernyataan Redfield tersebut. "Masker tidak sepenting vaksin," kata Trump. "Masker itu, mungkin, hanya membantu," sambungnya.

Di sisi lain, meski nanti vaksin sudah ada, masyarakat tetap harus menggunakan masker. Sebab, virus corona sudah ada di udara di sekitar kita.

Lebih jauh, imunogenisitas adalah istilah untuk kemampuan vaksin memicu respons imun terhadap virus. Vaksin yang ideal memberikan apa yang disebut kekebalan mensterilkan, yang berarti melindungi siapa saja yang tertular dari infeksi patogen tertentu.

Nah, dalam kasus virus korona, bagaimanapun, pengembang tidak bertujuan untuk mensterilkan kekebalan, setidaknya tidak pada awalnya. Tujuan utamanya adalah untuk mengurangi penyakit.

Misalnya, uji coba vaksin tahap 3 Moderna - uji coba manusia besar terakhir kandidat sebelum dapat menerima otorisasi darurat - bertujuan untuk menunjukkan bahwa rangkaian suntikan setidaknya 60 persen efektif untuk mencegah Covid-19.

Namun, FDA telah mengatakan akan memberikan otorisasi pada vaksin yang bahkan kurang efektif dari itu: Kandidat harus setidaknya 50 persen lebih efektif daripada plasebo dalam mencegah atau mengurangi keparahan penyakit.

Untuk alasan ini, vaksin awal tidak akan membuat hidup kembali normal setelah disahkan, dan bahkan tidak akan membuat masker tidak diperlukan, seperti yang dikatakan Maria Elena Bottazzi, pengembang vaksin di Baylor College of Medicine, sebelumnya kepada Business Insider.

"Saat Anda mendapatkan vaksin, tidak berarti Anda akan membuang masker ke tempat sampah," kata Bottazzi. "Tidak akan terjadi itu yang namanya setelah divaksin, Anda bebas dari paparan virus. Saya harap orang-orang tidak berpikir bahwa itu akan menjadi solusi ajaib untuk semua," tegasnya. (*)

loading...
 Sumber : okezone.com /  Editor : Rahma Nurjana

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]