Kampanye di Saat Pandemi, Moving from Traditional to Digital


Ahad, 27 September 2020 - 22:40:55 WIB
Kampanye di Saat Pandemi, Moving from Traditional to Digital

Dengan aturan yang telah diterbitkan oleh KPU, maka memaksa setiap pasangan calon dan tim kampanye untuk beralih dari kampanye tradisional ke kampanye digital.

 

 

Oleh: Hafrizal Okta Ade Putra, Wakil Rektor II Universitas Tamansiswa Padang dan CEO Bright Indonesia

PADA Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak tahun 2020 ini, terdapat 270 daerah yang akan menyelenggarakan pemilihan kepala daerah. Dari 270 daerah tersebut, terdiri dari 9 provinsi, 224 kabupaten, dan 37 kota. Ini merupakan pilkada serentak yang lebih rumit daripada pilkada-pilkada sebelumnya karena diselenggarakan di tengah pandemi Covid-19 yang sedang melanda dunia, termasuk Indonesia.

Tidak hanya bagi pemerintah, penyelenggara, pengawas, partai politik, dan pemilih atau pun pihak lainnya yang terlibat, tetapi juga bagi pasangan calon yang mengikuti pilkada serentak tersebut. Tantangannya lebih berat, di samping memastikan pesta demokrasi ini harus berjalan dengan baik, jujur, dan adil, tetapi semua pihak juga harus mematuhi protokol kesehatan untuk menghadapi dan meminimalisir risiko dari pandemi Covid-19.

Tahapan kampanye sudah dimulai pada tanggal 26 September yang lalu, dan akan berakhir pada tanggal 5 Desember 2020. Melalui peraturan terbarunya, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Republik Indonesia telah menetapkan larangan kegiatan masa kampanye tradisional (konfensional) pada pilkada serentak 2020.

Sebagaimana yang tercantum dalam Peraturan KPU (PKPU) Nomor 13 Tahun 2020 mengenai Perubahan Kedua atas PKPU Nomor 6 Tahun 2020 tentang pelaksanaan Pilkada Serentak Lanjutan dalam Kondisi Bencana Non-alam Covid-19, KPU melarang partai politik, pasangan calon, tim kampanye, dan pihak lain untuk melaksanakan kegiatan kampanye pada saat kondisi normal. Di antaranya adalah rapat umum, pentas seni, panen raya, konser musik, gerak jalan santai, sepeda santai, perlombaan, bazar, donor darah hingga peringatan hari jadi partai politik. Artinya, tidak boleh ada kegiatan mengumpulkan masa pada saat tahapan kampanye.

Jelas, ini sangat berbeda dari pilkada-pilkada sebelumnya yang identik dengan kegiatan-kegiatan pengumpulan masa dengan jumlah yang sangat banyak dan interaksi atau tatap muka secara langsung.

Moving from traditional to digital

Dengan aturan yang telah diterbitkan oleh KPU, maka memaksa setiap pasangan calon dan tim kampanye untuk beralih dari kampanye tradisional ke kampanye digital. Dari yang sebelumnya dilakukan dengan cara membuat kegiatan, mengumpulkan masa, dan berinteraksi atau tatap muka secara langsung, sekarang interaksi atau tatap muka dilakukan secara digital. Mau atau tidak mau, suka atau tidak suka, rasanya ini adalah opsi yang wajib dipilih oleh semua pasangan calon atau tim kampanye untuk memperkenalkan diri atau pasangan calon dan menyampaikan visi, misi, dan program-program unggulan mereka kepada pemilih untuk membangun daerahnya masing-masing.

Meskipun kampanye secara digital sudah lazim dilakukan pada pilkada-pilkada sebelumnya oleh banyak pasangan calon kepala daerah, tetapi mungkin banyak yang tidak terlalu fokus untuk memperhatikan dan mengurus hal ini secara serius. Tidak mudah memang, di samping masalah efektivitas maksud dan tujuan dari kampanye, tetapi juga persolan keterbatasan para pemilih dalam menggunakan perangkat digital, rendahnya pemahaman, dan termasuk masalah akses terhadap internet.

Peluang kampanye digital

Jika dilihat dari data terkait aktivitas masyarakat Indonesia di dunia maya, menunjukkan bahwa ada peluang yang cukup besar bagi setiap pasangan calon atau tim kampanye dalam melakukan aktivitas kampanye secara digital untuk menarik perhatian, minat, dan simpati para pemilih untuk memilih mereka di saat pemungutan suara yang akan dilaksanakan pada tanggal 9 Desember 2020 nantinya.

Berdasarkan hasil riset HootSuite (platform manajemen media sosial) dan We Are Social (agensi pemasaran sosial) yang dirilis pada Januari 2020 dengan tema "Global Digital Reports 2020", menyatakan bahwa hampir 64 persen atau sekitar 175,4 juta orang dari total jumlah penduduk Indonesia sekitar 272,1 juta orang, sudah terkoneksi dengan jaringan internet.

Pengguna internet di Indonesia mayoritas adalah para pengguna hak pilih pada pilkada serentak 2020, yaitu masyarakat yang rata-rata berusia 16 sampai dengan 64 tahun. Waktu rata-rata mereka berselancar di dunia maya juga cukup lama, yaitu sekitar 7 jam 59 menit per hari. Angka tersebut melampaui rata-rata global yang hanya 6 jam 43 menit per harinya.

Sementara itu, jumlah pengguna media sosial di Indonesia sudah mencapai sekitar 160 juta orang. Dengan kata lain, penetrasi penggunaan media sosial di Indonesia sudah mencapai 59 persen dari total jumlah penduduk Indonesia. Rata-rata masyarakat Indonesia menggunakan media sosial sekitar 3 jam 26 menit per hari. Angka ini juga di atas rata-rata global yang hanya 2 jam 24 menit per hari.

Data-data tersebut memang tersaji secara nasional, tetapi rasanya sudah cukup untuk merepresentasikan bagaimana aktivitas masyarakat Indonesia di dunia maya di masing-masing daerah, provinsi, kabupaten, atau kota yang menyelenggarakan pemilihan kepala daerah, yang dapat dimanfaatkan oleh setiap pasangan calon atau tim kampanye dalam melakukan aktivitas kampanye secara digital. Namun demikian, juga harus diakui bahwa data-data tersebut mungkin tidak relevan untuk beberapa daerah yang dengan segala keterbatasannya.

Konten merupakan kunci keberhasilan

Istilah konten di sini merujuk pada media online atau media internet, dan digunakan untuk mengidentifikasi dan menguantifikasi beragam format dan genre untuk menyampaikan berbagai informasi dan interaksi antara pasangan calon dengan masyarakat atau calon pemilih mereka, yang dapat menjadi komponen nilai tambah bagi setiap pasangan calon untuk meningkatkan popularitas, kesukaan, atau keterpilihan mereka.

Penyampaian konten digital ini dapat dilakukan melalui berbagai media sosial, seperti WhatsApp, Facebook, Instagram, Twitter, Youtube, dan lain sebagainya. Media sosial juga dapat digunakan oleh pasangan calon atau tim kampanye sebagai sarana interaksi secara digital dengan masyarakat atau calon pemilih melalui chat atau kolom komentar.

Selain itu, semenjak pandemi Covid-19 ini, sebagian besar masyarakat juga sudah cukup familiar dengan pertemuan-pertemuan atau bertatap muka secara daring menggunakan perangkat dari berbagai platform, seperti Zoom, Skype, Cisco Webex, Microsoft Team, Google Meet, dan lain sebagainya. Bisa juga melalui platform pendukung lainnya yang bersifat synchronous seperti video conference apps atau media sosial, misal Instagram live.

Beberapa jenis konten yang dapat dibuat oleh pasangan calon atau tim kampanye untuk disebarluaskan ke media sosial antara lain, (1) teks, yaitu berupa berupa tulisan yang berisi berita, informasi, ulasan, kajian, analisis, deskripsi, dan lainnya; (2) foto atau gambar, rendahnya minat baca membuat orang lebih cenderung melihat gambar, oleh karena itu, konten gambar lebih disukai; (3) infografis, yaitu berupa representasi visual informasi, fenomena, fakta, atau data yang disajikan secara grafis; (4) video, yaitu audio visual dengan durasi beberapa menit untuk menjelaskan apa pun yang ingin dijelaskan; dan (5) podcast, yaitu berupa file audio.

Banyak pasangan calon atau tim kampanye yang membuat konten digital, dan itu sangat banyak kita temukan di berbagai platform media sosial. Namun demikian, di antara banyak postingan konten kampanye tersebut, tidak sedikit juga yang asal-asalan dalam membuat konten. Tidak menarik dlihat, dibaca, atau ditonton oleh calon pemilih, sehingga hanya sekedar untuk memenuh-menuhkan beranda media sosial saja. Oleh karena itu, konten digital harus dirancang semenarik mungkin, kreatif, dan pesan yang ingin disampaikan harus mudah dipahami oleh masyarakat atau calon pemilih.

Beberapa tips yang dapat dilakukan oleh pasangan calon atau tim kampanye dalam membuat atau mempersiapkan ide konten yang menarik, antara lain (1) membentuk tim manajemen konten; (2) mengikuti perkembangan dengan menciptakan konten yang relevan pada waktu yang tepat atau kekinian; (3) memantau apa yang diperbincangkan oleh banyak orang di daerahnya masing-masing; (4) mempersiapkan “tabungan atau simpanan” berupa daftar topik, template, desain, ide, dan gaya penulisan untuk postingan beberapa hari atau minggu; (5) melakukan riset atau survei untuk mengetahui selera atau kecenderungan masyarakat atau calon pemilih sebagai bahan untuk topik dan isi dari konten itu sendiri; (6) membuat headline yang menarik; dan (7) melakukan koreksi konten secara detail dan teliti (quality control) terhadap narasi, estetika, desain, gaya penulisan, atau bahkan terhadap Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).

Meskipun konten digital bukan merupakan suatu hal yang mutlak untuk mempengaruhi keterpilihan setiap pasangan calon pada pilkada serentak 2020 di tengah pandemi Covid-19 ini, tetapi saya yakin dan percaya bahwa konten yang menarik dan kreatif akan dapat meningkatkan popularitas, kesukaan, dan elektabilitas pasangan calon.

Terlepas dari masa kampanye di tengah pandemi Covid-19, pemasaran politik pada era sekarang ini menuntut agar para politisi dapat memanfaatkan kemajuan teknologi informasi. Berdasarkan rilis beberapa lembaga survei menunjukkan bahwa media online merupakan hal yang cukup mempengaruhi masyarakat untuk memilih calon kepala daerah.

 

 

loading...
 Sumber : Haluan.co (Haluan Media Group) /  Editor : Heldi Satria

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Ahad, 20 September 2020 - 18:18:01 WIB

    Positif Covid-19 Meningkat, Kampanye Pilkada Tetap Lanjut

    Positif Covid-19 Meningkat, Kampanye Pilkada Tetap Lanjut Pemilihan umum kepala daerah serentak yang semakin hari kian dekat, masing masing pasangan calon (paslon) semakin sibuk mengkampanyekan dirinya guna memenangkan pilkada yang akan berlangsung desember mendatang, bermacam maca.

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]