Tegas! Fadli Zon Ungkap Sejarah Komunis dan PKI di ILC TV One


Rabu, 30 September 2020 - 12:52:51 WIB
Tegas! Fadli Zon Ungkap Sejarah Komunis dan PKI di ILC TV One Fadli Zon Ungkap Sejarah Komunis

HARIANHALUAN.COM - Politisi Partai Gerindra, Fadli Zon secara tegas memaparkan sejarah terkait Gerakan 30 September sebagai salah satu peristiwa besar bagi bangsa Indonesia.

Paparannya tersebut disampaikan dalam akun Youtube Indonesia Lawyers Club pada Selasa 29 September 2020 yang membahas tema Ideologi PKI Masih Hidup?.

Ia menegaskan bahwa sebenarnya tidak ada kontroversi terkait Gerakan 30 September (G30S) tersebut.

Sebab Menurut Fadli Zon, Partai Komunis Indonesia (PKI) jelas ingin melakukan kudeta selama dua kali yakni di tahun 1958 dan 1965.

"Apalagi sudah ada TAP MPRS No 25 Tahun 66 dan ada juga Undang-Undang nomor 27 Tahun 1999 yang jelas-jelas di situ mengatakan bahwa Partai Komunis Indonesia (PKI) dibubarkan karena ingin merobohkan negara Republik Indonesia jadi sebetulnya tidak ada kontroversi," ujarnya.

Fadli Zon menyatakan, mengetahui sejarah secara benar merupakan hal yang termasuk penting agar tak diarahkan pada pernyataan salah.

"Inilah pentingnya kita mengerti sejarah supaya tidak terbalik-balik. Undang-Undang PMA itu produk dari pemerintahan Soeharto, itu salah besar yang menandatangani Undang-Undang nomor 1 Penanaman Modal Asing itu adalah Presiden Soekarno tanggal 10 Januari tahun 1967," tambahnya.

Dalam rangka menyelami sejarah terkait Gerakan 30 September, Fadli Zon pun membuat beberapa buku yang salah satunya berjudul 'Kesaksian Korban Kekejaman PKI 1948'.

Menurutnya, PKI merupakan pihak yang menusuk bangsa Indonesia dari belakang untuk melakukan kudeta di tengah agresi militer Belanda II.

Dalam rangka menyelami sejarah terkait Gerakan 30 September, Fadli Zon pun membuat beberapa buku yang salah satunya berjudul 'Kesaksian Korban Kekejaman PKI 1948'.

Menurutnya, PKI merupakan pihak yang menusuk bangsa Indonesia dari belakang untuk melakukan kudeta di tengah agresi militer Belanda II.

"Jadi memang PKI ini penasaran sebenarnya karena PKI kalau kita lihat sejarah tidak ikut terlibat dalam kemerdekaan proklamasi Republik Indonesia, yang terlibat adalah tokoh-tokoh nasionalis dan Islam. PKI waktu itu ilegal, tidak ikut terlibat," ujar Fadli.

Tujuan kedatangan Musso saat itu juga bertujuan untuk mengoreksi revolusi bangsa Indonesia yang dinilai gagal oleh PKI.

"Makanya mereka penasaran di awal-awal dulu PKI mengatakan proklamasi 1945 itu adalah revolusi yang gagal, revolusi borjuis mereka mau mengoreksi itu maka datanglah Musso dari Moskow mau mengoreksi dan membuat sebuah manifesto, jalan baru untuk Republik Indonesia," ujarnya.

Dalam kesempatannya, Fadli sempat menyanggah bahwa ideologi PKI bukan Pancasila seperti yang sebelumnya disebutkan oleh anak pertama dari Presiden Soekarno, Sukmawati Soekarno Putri.

"Dia mengecam Bung Karno, mengecam Bung Hatta dan jelas-jelas di situ ibu Sukma mengatakan ideologi dari PKI itu adalah marxisme leninisme, bukan Pancasila," ujarnya.

Datanya Musso ke Indonesia membuat Soekarno membuat pidato yang meminta rakyat memilih antara dirinya atau Musso.

"Kalau kita lihat di situ Soekarno-Hatta langsung membuat sebuah pidato. Bung Karno hebat sekali waktu itu, Bung Karno mengatakan ini adalah gerakan untuk kudeta mengambil alih Republik dan pilih Soekarno Hatta atau pilih Musso," tambahnya.

Baca Juga: Pelaku UKM Mengeluh Soal Turunnya Pendapatan, Jokowi Sebut 'Disyukuri, Negara Juga Sulit'

Pada Gerakan 30 September, kebanyakan korban adalah para tokoh kyai Nahdatul Ulama.

"Dan dibuang ditaro di lubang buaya di sumur-sumur. Sumur Soco 1, sumur Soco 2. Itu ratusan orang yang ada di situ dan belum yang dibantai," ujar Fadli.

Namun karena bangsa Indonesia tengah menghadapi agresi militer Belanda II maka 'penumpasan' anggota PKI diketahui tak tuntas sehingga dinilai masih berlanjut hingga kini.

"Suasananya memang revolusioner dibuat, jadi menusuk dari belakang saat kita akan menghadapi agresi militer Belanda II. Akhirnya kemudian karena ini adalah sebuah kudeta dan kemudian kita menghadapi agresi militer Belanda tentu tidak tuntas penumpasannya (PKI)," ujar Fadli.

Fadli Zon kemudian menyertakan bukti lain bahwa PKI melakukan kudeta pada tahun 1965, yakni melalui media Harian Rakyat yang terbit pada 2 Oktober.

"Di dalam Harian Rakyat 2 Oktober, ini tidak bisa terbantahkan Harian Rakyat ini punya PKI yang memimpin adalah Nyoto. Ini koran resmi PKI 2 Oktober," ujarnya.

Dalam media tersebut, editorialnya menulis bahwa 'rakyat yang sadar akan politik dan tugas-tugas revolusi meyakini akan benarnya tindakan yang dilakukan oleh Gerakan 30 September untuk menyelamatkan revolusi dan rakyat'.

Terdapat karikatur pada koran tersebut menampilkan para jenderal yang saat itu tewas terbunuh.

"Kemudian di karikaturnya ini ada Minggu, Senin, Selasa sampai Sabtu ini hari Kamis, Jumat 30 September dan 1 Oktober jelas-jelas di situ ada tangan Gerakan 30 September tulisannya, kemudian yang dihajar ini adalah para jenderal," tambahnya.

Tulisan dalam karikatur adalah 'Letkol Untung, Komandan Batalion Cakrabirawa menyelamatkan Presiden RI kup dari Dewan Jenderal'.

"PKI adalah pelaku kudeta, tidak ada versi lagi apalagi Bu Sukma tadi sangat berbahaya mengatakan Pak Soeharto ikut terlibat," ujar Fadli.

Pada tahun 2007, ia sempat melakukan wawancara dengan Presiden kedua, Soeharto terkait peristiwa itu.

"Waktu itu saya tanya apa betul waktu itu kolonel Latif melaporkan kepada Pak Harto akan adanya kup dari dewan jenderal. Pak Harto waktu itu dalam kondisi sakit terbata-bata mengatakan 'tidak ada itu'," ujarnya.

Kembali, Fadli Zon menegaskan bahwa ideologi komunisme merupakan suatu paham yang sangat ganas.

"Ini memang komunisme adalah suatu ideologisme yang sangat ganas dan kejam. Jangan sampai terjadi lagi," pungkasnya. 

Sehari sebelum ditanyangkannya acara ILC di TV One, politisi Fahri Hamzah yang merupakan sahabat Fadli Zon dalam akun Twitternya ia meminta rekannya sesama politisi, Fadli Zon untuk menjelaskan sejarah dari PKI dan Komunis di Indonesia.

"Ada anak muda sejarawan yang hebat tentang komunis dan PKI. Selama ini lebih dikenal sebagai politisi, tapi nanti malam hadirkan dia sebagai sejarawan. Namanya @fadlizon. Menurut saya dia yang punya dokumen sejarah paling lengkap. #ILCIdeologiPKI," tulis akun @Fahrihamzah. (*)


 

loading...
 Sumber : pikiranrakyat.com /  Editor : Heldi Satria

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]