Majelis Adat: Adat yang Bertentangan dengan Syariat Islam Bukan Adat Aceh


Jumat, 02 Oktober 2020 - 14:01:29 WIB
Majelis Adat: Adat yang Bertentangan dengan Syariat Islam Bukan Adat Aceh Kepala Bidang Pengkajian dan Pengembangan Adat MAA Kota Banda Aceh, Ameer Hamzah . (Antara)

 HARIANHALUAN.COM-Majelis Adat Aceh (MAA) Kota Banda Aceh mengakui, bahwa dewasa ini pihaknya kesulitan mencegah perkembangan adat yang tidak resmi yang  bertentangan dengan syariat Islam di kota paling utara di Sumatera tersebut.

"Adat di Aceh ini, berlaku di seluruh Aceh. Yang bertentangan dengan syariat itu, tidak boleh ada. Kalau bertentangan dengan syariat, itu bukan adat Aceh," tegas Kepala Bidang Pengkajian dan Pengembangan Adat MAA Kota Banda Aceh, Ameer Hamzah di Banda Aceh, Jumat (2/10/2020).

Ia mengatakan, adat yang bertentangan dengan syariat lazimnya lambat laun akan memudar, dan hilang dengan sendirinya di provinsi paling barat Indonesia ini.

Tentunya dengan seiring bertambahnya pengetahuan masyarakat di Provinsi Aceh tentang syariat Islam itu sendiri.

Namun pihaknya kembali menegaskan, bahwa suatu adat khususnya di daerah berjuluk "Kota Serambi Mekkah" tersebut tidak boleh saling bertentangan dengan syariat Islam.

"Ada juga adat di Aceh yang bertentangan dengan syariat, tapi sedikit-sedikit hilang disebabkan oleh pemahaman masyarakat terkait syariat," katanya.

Ia mencontohkan, salah satu adat Aceh yang tidak sesuai syariat Islam dan cukup jamak terjadi, yakni model pakaian pernikahan yang dikenakan mempelai wanita terlalu panjang ekor di pakaiannya, sehingga hal itu menyebabkan kemubaziran.

"Dalam merias pengantin, kita tidak setuju kalau (bagian pakaian) dadanya terbuka dan ekor di belakangnya panjang. Itu tidak sesuai dengan adat Aceh, karena asalnya kan itu mubazir," ungkap dia.

Namun, pihaknya menegaskan, seiring dengan perkembangan zaman bahwa adat Aceh bisa ditoleransi atau memaklumi, tetapi tidak boleh bertentangan dengan syariat Islam.

"Tapi toleransi adat, tetap ada. Artinya adat tidak membatasi mode, cuma syaratnya harus sesuai dengan syariat," tutur Ameer.

Pemerintah Kota Banda Aceh dewasa ini terus berupaya mengembangkan adat Aceh di daerah berjuluk "Kota Serambi Mekkah" agar sesuai dengan syariat Islam.

"Selama ini kami sangat berperan aktif dalam memperkenalkan, dan mensosialisasikan setiap kegiatan-kegiatan tentang adat yang tidak bisa dijalankan, karena bertentangan dengan syariat," katanya Ameer lagi.  (*)

 Sumber : Antara /  Editor : Dodi

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]