Ini Deretan Skenario yang Bisa Terjadi Usai Trump Positif Covid-19


Sabtu, 03 Oktober 2020 - 08:36:06 WIB
Ini Deretan Skenario yang Bisa Terjadi Usai Trump Positif Covid-19 Presiden AS Donald Trump.

HARIANHALUAN.COM - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump pada Jumat mengonfirmasi dia dan ibu negara Melania Trump dites positif Covid-19, mendorong banyak orang untuk mencari kejelasan tentang prosedur yang diterapkan untuk menangani berbagai skenario.

Presiden Trump (74), yang secara rutin menjalani tes Covid-19, menyampaikan melalui Twitter bahwa dia dan ibu negara sekarang mulai menjalani karantina dan proses penyembuhan.

Perkembangan ini, yang terjadi menjelang pemilihan presiden pada 3 November mendatang, meningkatkan kemungkinan orang lain di tingkat tertinggi pemerintah AS dapat terpapar virus dalam beberapa hari terakhir dan mungkin perlu karantina juga.

Dokter Kepresidenan Gedung Putih, Dr Sean Conley mengatakan dalam sepucuk surat, presiden dan ibu negara "baik-baik saja saat ini, dan mereka berencana untuk tetap di rumah di dalam Gedung Putih selama masa pemulihan mereka".

Conley mengatakan tim medis Gedung Putih akan tetap melalukan pengawasan. Dia juga berharap Trump "untuk terus melaksanakan tugasnya tanpa gangguan saat pemulihan."

"Saya akan terus mengabari Anda tentang perkembangan di masa depan," kata Conley, dikutip dari CNBC, Jumat (2/10).

Dalam catatan penelitian yang diterbitkan awal tahun ini, John Hudak, rekan senior dan wakil direktur di Pusat Efektivitas Manajemen Publik Brookings Institution, menguraikan beberapa skenario yang dirancang untuk "melindungi presiden, integritas jabatan, dan kesinambungan pemerintah" jika tes Covid-19-nya positif.

Hudak mengatakan tes itu sendiri tidak akan menyebabkan tindakan darurat. Sebaliknya, Trump "kemungkinan akan dapat melanjutkan aktivitas sehari-hari dan mengelola kantor baik tanpa gangguan atau dengan tantangan ringan."

Namun, hal itu diharapkan dapat menciptakan beberapa tantangan bagi orang-orang di sekitarnya.

"Perlunya perlindungan pasukan pengawal presiden (Secret Service) 24 jam dapat membuat anggota berisiko tertular. Tetapi dengan adanya teknologi modern, presiden dapat melakukan karantina dan melakukan kontak jarak jauh atau cukup jauh dari sebagian besar, jika tidak semua, ajudan, termasuk individu siapa yang akan terlibat dalam rapat harian presiden," jelas Hudak.

Tes positif Trump berarti tindakan pencegahan lain perlu diambil, dengan mereka yang berada di garis suksesi kemungkinan akan melakukan kontak terbatas dengan presiden untuk mengurangi peluang mereka tertular virus.

Menurut Hudak, Wakil Presiden Mike Pence, Ketua DPR Nancy Pelosi, Senator Chuck Grassley (yang menjabat sebagai presiden pro tempore, menjadikannya urutan ketiga untuk kursi kepresidenan), dan anggota kabinet semua perlu diisolasi dari presiden.

Tanggapan Trump terhadap pandemi virus corona telah dikritik tajam, meskipun presiden sering memuji manajemen krisis kesehatannya sendiri. Pada kampanye terbuka di Ohio akhir bulan lalu, Trump mengklaim penyakit itu "hampir tidak memengaruhi siapa pun".

Hingga saat ini, AS telah mencatat lebih dari 7,27 juta kasus virus corona, dengan 207.808 kematian, menurut data yang dikumpulkan Universitas Johns Hopkins.

Presiden Donald Trump mengikuti jejak Perdana Menteri Inggris Boris Johnson (56), dan Presiden Brasil Jair Bolsonaro (65), dua pemimpin dunia yang juga dites positif virus corona. Boris Johnson dilaporkan positif Covid-19 pada akhir Maret lalu, sementara Bolsonaro pada awal Juli.

Johnson, khususnya, menjadi sangat tidak sehat setelah dinyatakan positif terkena virus. Pemimpin Partai Konservatif yang berkuasa di Inggris itu menghabiskan tiga malam dalam perawatan intensif pada April, dengan Menteri Luar Negeri Dominic Raab mewakili perdana menteri pada saat itu.

Hudak dari Brookings Institution mengatakan Trump akan memiliki akses ke beberapa perawatan kesehatan terbaik dan paling cepat di dunia, tetapi "usia dan obesitas menempatkannya dalam kategori risiko yang lebih tinggi untuk gejala yang lebih serius" dari Covid-19.

“Dalam skenario yang tidak menguntungkan di mana presiden tertular Covid-19 dan membutuhkan terapi seperti ventilator dan / atau penggunaan terapi lain yang akan mengganggu kemampuan kognitif dan / atau kemampuannya untuk berkomunikasi, ada beberapa prosedur yang diterapkan untuk menghadapi situasi itu," jelas Hudak.

 Jika Trump menjalankan perawatan yang akan mengganggu kemampuannya untuk menjalankan tugas jabatan, ada kemungkinan presiden dapat meminta Pasal 3 dari Amandemen ke-25 Konstitusi.

Ini akan membuka jalan bagi wakil presiden untuk menjadi "penjabat presiden," sampai presiden memberi tahu DPR dan Senat bahwa mereka dapat menjalankan tugasnya sekali lagi.

Presiden Ronald Reagan menggunakan Bagian 3 pada tahun 1985 dan Presiden George W. Bush melakukannya dua kali pada tahun 2002 dan 2007.

Jika kondisi Trump menurun dengan cepat, sehingga mengesampingkan kemungkinan untuk menerapkan Pasal 3, Hudak mengatakan Pasal 4 dari Amandemen ke-25 akan memberikan solusi untuk krisis semacam itu.

Dalam kasus ini, wakil presiden dan mayoritas anggota kabinet akan mengirimkan pemberitahuan kepada DPR dan Senat "bahwa Presiden tidak dapat menjalankan kekuasaan dan tugas jabatannya". Sekali lagi, skenario ini akan membuat wakil presiden mengambil peran sebagai penjabat presiden sampai presiden sembuh.

“Sementara ketidakmampuan presiden akan menjadi situasi nasional yang serius, pemerintah akan dapat berfungsi tanpa gangguan sampai presiden pulih,” pungkas Hudak. (*)

 Sumber : merdeka.com /  Editor : Heldi Satria

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]