Menghafal Al Quran Dapat Meningkatkan Kecerdasan


Sabtu, 03 Oktober 2020 - 21:55:39 WIB
Menghafal Al Quran Dapat Meningkatkan Kecerdasan Indra Gunawan

Al-Qur'an mukjizat terbesar yang Allah berikan melalui malaikat jibril kepada Nabi Muhammad SAW untuk menjadi rahmatan lil'alamin. Sungguh Allah telah memilih di antara hamba-hamba-Nya, orang-orang yang Allah jadikan sebagai penjaga Kitabullah dengan cara memelihara hafalannya dan menjaganya di dalam hati-hati mereka. Allah memberikan banyak keutamaan-keutamaan bagi para penghafal Al-Quran (Al-Ajwibah al-Hisan Liman Araada Bihifdzil Quran). 

Oleh: Indra Gunawan - Mahasiswa STAI-PIQ Jurusan Tafsir Al-Quran

Baca Juga : Pembangunan dan Keadilan bagi Padagang Kaki Lima

Diantaranya, membantu meningkatkan kekuatan daya ingat dimana hafalan itu bertambah serta mudah pula untuk menghafal apa yang dia inginkan berupa ilmu-ilmu dan faedah-faedah. Allah menjadikan mudah baginya. Selain sebagai petunjuk bagi manusia, Al Qur’an juga merupakan Mukjizat Nabi Muhammad SAW yang paling agung. Salah satu kemukjizatan Al Qur’an adalah dari segi tata bahasa dan sastranya yang tidak tertandingi oleh buku atau kitab manapun sepanjang sejarah umat manusia. 

Kemujizatan Al Qur’an tidak akan hilang bersama dengan wafatnya Sang Penerima wahyu. Hal inilah yang membedakan mu’jizat Nabi Muhammad SAW dengan mu’jizat Rasul-Rasul Allah yang lain. Mu’jizat para Rasul sebelum Muhammad akan hilang bersama bergantinya masa dan wafatnya para Rasul tersebut. Al Qur’an juga akan senantiasa terjaga dari kesalahan dan penyimpangan sampai kapan pun. Hal ini sesuai dengan yang telah difirmankan oleh Allah dalam QS. Al Hijr (15): 9 yang artinya, "sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya."

Baca Juga : Tips Pola Makan Sehat saat Lebaran

Salah satu yang berperan dalam menjaga keautentikan al Qur’an adalah para huffaz (penghafal Al Qur’an), di samping para ahli Tafsir, al Qira’at, ahli Hadis, dan lain-lain. Bagi mereka, para penjaga keautentikan Al Qur’an, Allah menjanjikan balasan yang tidak terkira. Balasan yang mungkin, tidak hanya pahala di akhirat, tapi juga kemudahan-kemudahan dalam menjalani kehidupan di dunia. Salah satu keistimewaan ahli Al Qur’an ialah sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi Muhammad saw bahwa ahli Al Quran adalah ahl Allah dari kalangan manusia.

Menghafal Al Quran selain ibadah juga memberi pengaruh besar bagi kesehatan jasmani dan rohani kita. Jika mendengarkan musik klasik dapat mempengaruhi Kecerdasan Intelektual (IQ) dan Kecerdasan Emosional ( EQ ) seseorang, maka Al Quran lebih dari itu, Al Quran dapat mempengaruhi Kecerdasan Intelektual (IQ) dan Kecerdasan Emosional ( EQ ) sekaligus Kecerdasan Spiritual (SQ) seseorang.

Bellieni menyatakan bahwa 1.000 hari pertama yang dimulai dari konsepsi hingga akhir tahun kedua setelah kelahiran, sangat penting bagi masa depan setiap manusia dalam aspek kesehatan, perkembangan, dan pembelajaran. Nabi Muhammad mengatakan setiap anak terlahir dalam keadaan fitrah. Hal ini diyakini bagi ummat muslim bahwa setiap anak dilahirkan dalam keadaan baik dan berpotensi pada kebaikan, kemudian orang tua dan lingkungan yang menjadikan anak tetap dalam kebaikan atau keluar dari fitrah kebaikan.

Menghafalkan Al Qur’an merupakan salah satu bentuk interaksi umat Islam dengan Al Qur’an yang telah berlangsung secara turun-menurun sejak Al Qur’an pertama kali turun kepada Nabi Muhammad SAW. Hingga sekarang dan masa yang akan datang, Allah SWT telah memudahkan Al Qur’an untuk dihafalkan, baik oleh umat Islam yang berasal dari Arab maupun selain Arab yang tidak mengerti arti kata-kata dalam Al Qur’an yang menggunakan bahasa Arab.

Tidak bisa dielakkan lagi bahwa dalam sejarah, Al Qur’an terjaga kemurniannya bukan hanya karena memang sudah ditulis sejak Al Qur’an diwahyukan. Akan tetapi, juga karena partisipasi dari para penghafal Al Qur’an. Al Qur’an, ketika akan dibukukan, dikumpulkan dalam bentuk benda-benda yang memungkinkan Al Quran ditulis pada zaman nabi, misalnya pelepah kurma, kepingan tulang dan lempengan-lempengan batu. 

Lembaran-lembaran Al Qur’an tersebut tidak diterima, kecuali setelah dipersaksikan oleh dua orang saksi yang menyaksikan bahwa ayat Al Qur’an yang tertulis dalam lembaran tersebut benar ditulis di hadapan Nabi Muhammad SAW. Selain itu, ayat Al Qur’an tersebut harus dihafal oleh salah seorang sahabat

Menghafal Al Qur’an di Usia Dini
Pendidikan agama khususnya Al Qur’an menjadi urgensi yang perlu ditanamkan pada anak sejak dini. Orang tua harus mempersiapkan bekal dan fondasi dasar kebaikan di tahap usia ini. Hal ini merupakan langkah cemerlang untuk membangun bangsa dan negara yang baik di kemudian hari. Nawaz dan Jahangir menjelaskan bahwa kurangnya fondasi utama di tahap usia dini dapat menghambat perkembangan emosional, sosial dan intelektual anak di kemudian hari. 

Anak adalah anugerah sekaligus amanah dari Allah bagi kedua orang tuanya. Dalam Al Qur’an, banyak term yang digunakan, yakni walad, ibn/bint, zurriyah, sabiy, tfl, dan lain sebagainya. Penggunaan term tersebut mempunyai maksud tertentu, sesuai dengan kandungan ayat. Adapun untuk anak usia dini, kata sabiy lebih sesuai. Kata tersebut terdapat dalam Al Qur’an sebanyak dua kali. 

Pertama, pada Q.S. Maryam (19):12. Kata tersebut berarti anak yang belum baligh atau masih mengalami masa kanak-kanak. Dalam ayat tersebut, Allah memerintahkan Yahya untuk mempelajari Taurat dan memberinya hikmah (pemahaman atas kitab Taurat dan pendalaman agama). Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa pengetahuan tentang kitab suci dan agama penting diberikan ketika anak masih usia belia. 

Kedua, pada Q.S. Maryam (19):29. Konteks ayat tersebut adalah ketika Maryam menyuruh nabi Isa untuk berbicara dan menjelaskan tentang keadaannya. Ketika itu, nabi Isa masih menyusu pada ibunya, dan ketika disuruh untuk berbicara, nabi Isa melepaskan puting susu ibunya dan berbicara kepada orang-orang Yahudi. Dari konteks ayat tersebut, maka term sabiy tersebut mengandung makna bayi atau anak kecil yang masih dalam gendongan/ayunan. 

Adapun kata ibn, masih satu akar dengan kata bana, yang dapat diartikan “membangun” atau “ berbuat baik”. Secara semantis, dapat dikatakan bahwa anak ibarat bangunan yang harus diberi pondasi yang kuat, sehingga tidak mudah roboh oleh ulah tangan manusia ataupun bencana alam. Sedangkan pondasi yang kuat adalah pondasi iman, tauhid dan akhlak yang baik, sehingga anak akan tumbuh dan berkembang menjadi anak yang memiliki kepribadian dan prinsip yang tangguh. 

Dengan demikian, ketika dewasa anak siap menghadapi hidup yang penuh tantangan dan ujian. Anak adalah amanah Allah yang harus diemban dengan cara mendidik mereka dengan sebaik-baiknya agar menjadi generasi yang berkualitas. Pengertian ini mengacu pada suatu ayat, Q.S. an-Nisa’ (4): 9 yang artinya: "Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar."

Ayat tersebut mengingatkan para orang tua agar membekali anak-anaknya dengan kekuatan fisik dan jiwa, materi dan non-materi. Sebagaimana Salman Harun mengungkapkan bahwa ada tiga isyarat yang dapat ditangkap dari ayat itu. Pertama, orang tua diminta oleh Allah untuk menyediakan bekal yang cukup bagi anak-anaknya. Itu berarti bahwa Allah meminta orang tua untuk bekerja keras agar memperoleh kecukupan materi. Kedua, materi, bila sudah diperoleh tidak boleh dihambur-hamburkan. 

Orang tua harus hemat dan rajin menabung, supaya tersedia materi yang cukup bagi keperluan anak-anak di masa depan. Dan, ketiga, masa depan keturunannya diusahakan terjamin. Dan masa depan ditentukan oleh kekuatan fisik, mental dan intelektual. Materi yang tersedia, dengan demikian harus dapat membangun ketiga segi kekuatan tersebut. Demikian, harus dapat membangun ketiga segi kekuatan tersebut. Itulah tanggung jawab dan fungsi sebagai orang tua. Dengan kata lain, ayat di atas mengisyaratkan agar orang tua mampu menciptakan generasi yang berkualitas melalui upaya maksimal.

Amanah merupakan prinsip moral yang diungkapkan Al Qur’an dan diwajibkan atas kaum muslim. Amanah diharapkan dapat menjadi salah satu lokomotif pendidikan yang menyiapkan manusia agar menjadi pribadi saleh dalam kehidupan masyarakat Islam. Amanah terkait dengan kewajiban. Ia tidak bisa dipahami kecuali untuk mengenali kewajiban. Kewajiban yang berkaitan dengan amanat bisa bersifat material atau maknawi, bersifat keagamaan atau tidak. Pengenalan terhadap kewajiban-kewajiban tersebut dan pelaksanaannya merupakan jalan untuk menjelmakan masyarakat sentosa.

Rentang anak usia dini adalah sejak lahir hingga anak berusia delapan tahun. Pada masa tersebut, anak mengalami rentang usia kritis dan strategis dalam proses pendidikan yang berpengaruh besar pada proses dan hasil pendidikan pada tahap selanjutnya. Dengan demikian, pada usia dini tersebut penting untuk menumbuh-kembangkan berbagai potensi kecerdasan anak yang merupakan aspek psikologis yang dapat berpengaruh pada kecerdasan individu atau keberhasilan individu dalam belajar.

Menurut Osbora, White dan Bloom, perkembangan intelektual manusia pada masa usia dini atau masa keemasan (baca: usia 0-8 tahun) mencapai 80%, dan akan mencapai 100% pada usia 18 tahun. Dengan kata lain, sebagian besar perkembangan otak manusia terjadi pada masa usia dini. Jadi, apapun yang orang tua lakukan pada anak ketika usia dini, akan berpengaruh besar bagi perkembangan intelektual pada masa selanjutnya. 

Sebaliknya, apapun yang orang tua lakukan bagi perkembangan otak anak pada masa setelah usia dini hingga usia 18 tahun, hanya akan berkontribusi sedikit yakni 20% saja. Apalagi setelah usia 18 tahun, anak tidak akan mengalami perkembangan apapun. Oleh karena itu, sangat penting mengisi masa keemasan dengan rangsangan-rangsangan yang sifatnya mendidik dan memberikan pengetahuan.

Dilihat dari ilmu psikologi, anak usia dini berada pada masa keemasan. Pada masa keemasan tersebut, terjadi pematangan fungsi fisik dan psikis. Pendapat lain mengatakan bahwa pada periode ini, sel-sel otak anak mengalami perkembangan cepat dan memiliki kemampuan menyerap berbagai rangsangan dari luar dirinya. Dengan demikian, anak mengalami periode sensitif, di mana anak mulai peka untuk menerima berbagai stimulasi dan berbagai upaya pendidikan dari lingkungannya, baik yang disengaja maupun tidak.

Berdasarkan pada realitas tersebut, bila kita tidak mempersiapkan program pendidikan dengan baik, maka anak akan kehilangan kesempatan berharga yang akan berpengaruh besar pada tingkat intelektulitasnya. Tentu saja, hal ini bukan berarti bahwa pada usia tersebut, anak harus dipaksakan menerima semua ilmu pengetahuan. Hanya saja, para orang tua harus mencari tahu dan memahami pengetahuan apa yang tepat untuk anak usia tersebut dan bagaimana metode yang tepat dalam menerapkannya. 

Pada usia tersebut, entah anak bermain atau belajar, semuanya adalah dalam rangka memberikan pengetahuan bagi anak tersebut, karena dalam permainan pun anak tetap belajar. Dengan demikian, jika anak pada usia dini sudah diajari atau dibimbing untuk menghafal Al Qur’an, hal itu tidak bertentangan dengan fitrah mereka, tetapi justru memberikan pondasi yang baik bagi mereka, dalam hal intelektualitas dan emosional, karena dalam menghafal mereka belajar membiasakan rutinitas yang baik dalam keseharian mereka serta melatih pengendalian emosi dalam proses menghafal.

Usia paling ideal untuk menghafalkan Al Qur’an adalah sejak sedini mungkin. Disamping karena perkembangan otak yang sudah dijelaskan sebelumnya, juga karena pikiran anak kecil masih fresh, belum banyak urusan duniawi yang dikerjakannya dan masih bersih dari dosa. Oleh karena itu, Al Qur’an dengan mudah masuk melekat dalam darah dan dagingnya. 

Maka dari itu, orang tua harus pintar mengambil hati dan membangkitkan semangat anak dalam menghafalkan Al Qur’an, misalnya dengan memberikan hadiah ketika anak berhasil mencapai target tertentu dan tidak memberikan hukuman jika anak melakukan kesalahan dalam proses menghafal. (*)

Editor : Agoes Embun
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]