Harga Solar Domestik Pertamina Lebih Mahal daripada Ekspor?


Senin, 05 Oktober 2020 - 18:50:30 WIB
Harga Solar Domestik Pertamina Lebih Mahal daripada Ekspor? Ilustrasi

HARIANHALUAN.COM - PT Pertamina (Persero) melalui Refinery Unit (RU) V Balikpapan mengekspor produk minyak solar/ biosolar jenis High Speed Diesel (HSD) sejumlah 200 ribu barel atau setara 31.800 kilo liter (kl) ke negeri jiran Malaysia pada bulan lalu, tepatnya 5 September 2020.

Namun demikian, ekspor HSD tersebut menimbulkan kontroversi karena harga jual HSD ekspor tersebut lebih murah dibandingkan harga jual solar di dalam negeri.

Baca Juga : Motor Nekat Masuk Tol, Siap-siap Kena Sanksi Rp500 Ribu

Menjawab isu tersebut, Direktur Utama PT Kilang Pertamina International (KPI) Ignatius Tallulembang menjelaskan bahwa harga ekspor lebih murah daripada harga domestik karena dua faktor yakni harga ekspor tersebut masuk ke dalam kategori yang harus segera dijual atau dalam kondisi mendesak dan penjualan kargo mendesak ini sangat terbatas dilakukan, dalam kasus ini yang dijual 1 kargo atau setara degan volume 30.000 kl untuk menghindari kilang berhenti operasi.

Dia menyebut selama masa pandemi kilang Pertamina dioperasikan dengan kapasitas minimum 75%.

Baca Juga : Waspada! Varian Baru Mutasi Ganda B1617 dari India Telah Menyebar ke 5 Negara

Meski sudah dengan kapasitas minimum, namun menurutnya masih menghasilkan solar berlebih sebagai dampak dari rendahnya konsumsi dalam negeri akibat Covid-19.

"Dengan kapasitas tersebut, masih menghasilkan solar berlebih. Selama masa pandemi Covid-19 ini konsumsi masyarakat memang sangat rendah, sehingga penampungan kita tidak mampu lagi, pilihannya setop unit atau cari alternatif pasarkan," paparnya dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VII DPR RI, Senin (05/10/2020).

Baca Juga : Polsek Pacet Rangkul Pedagang Keliling jadi Duta Masker

Lebih lanjut dia mengatakan, harga jual ditentukan oleh harga pasar, sehingga dilepas dengan harga saat itu. Langkah ini diambil karena kemampuan tangki penyimpanan (storage) yang terbatas, sehingga harus segera dicarikan solusi.

"Itu yang menjadi konsideran kenapa harus menjual produk solar ini ke luar negeri dan tentu harga jualnya menentukan harga pasar, tentunya dibeli sesuai dengan harga pasar," jelasnya.

Baca Juga : Rusia Siap Pasok 20 Juta Dosis Vaksin Sputnik Buat Vaksinasi Mandiri

Sebelumnya, pada awal September lalu Pertamina melalui Refinery Unit V Balikpapan melakukan ekspor perdana yakni pengapalan dan penyaluran produk minyak solar/ biosolar HSD 50 PPM Sulphur ke negeri jiran Malaysia sejumlah 200.000 barel atau setara dengan 31.800 kl melalui kapal MT Ridgebury Katherine Z.

Ekspor perdana HSD tersebut dilakukan dalam menjawab tantangan dan permintaan pasar akan bahan bakar diesel bermutu tinggi. Pengapalan HSD pada Sabtu (05/09/2020) itu disaksikan langsung oleh General Manager RU V Balikpapan, Eko Sunarno beserta jajarannya.

Kapal yang mengangkut produk HSD 0.005-%S akan menempuh waktu 4-5 hari hingga sampai ke Malaysia dengan bernilai ekspor US$ 9,5 juta atau setara dengan Rp 138 miliar (kurs Rp 14.500/US$).

Eko Sunarno pada sambutannya mengungkapkan bahwa produk ini merupakan hasil dari fraksi diesel di Unit Secondary Kilang RU V Balikpapan, memiliki kualitas Sulphur 50 ppm atau setara dengan produk diesel standard Euro 4 di mana merupakan produk bahan bakar mesin diesel terbaru yang pernah diproduksi kilang RU V.

"Tentunya akibat pandemi Covid-19 menyebabkan adanya penurunan demand akan bahan bakar, milestone yang baik bagi kita Pertamina terkhusus RU V untuk berkomitmen mengupayakan keberlanjutan pasokan energi dan operasional kilang dengan menjawab tantangan dan demand pasar akan produk HSD tersebut," katanya, dalam siaran pers, dikutip Minggu (06/09/2020). (*)

Editor : Heldi Satria | Sumber : CNBC Indonesia
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]