Stigma Negatif tentang Kesehatan Mental dan Upaya Penanganannya untuk Diri Sendiri


Selasa, 13 Oktober 2020 - 16:40:33 WIB
Stigma Negatif tentang Kesehatan Mental dan Upaya Penanganannya untuk Diri Sendiri

Tanggal 10 Oktober  merupakan Hari Kesehatan Mental Sedunia, di tahun ini tantangan dalam menghadapi problematika kehidupan terasa lebih berat karna kita semua tau, di tengah pandemi Corona ini, banyak dari aspek-aspek kehidupan yang mengalami perubahan dan kita sebagai manusia seperti dipaksa untuk beradaptasi dengan kebiasaan baru. 

Oleh: Dian Oktarissa Yesty

Di hari kesehatan Mental ini menjadi momen yang tepat untuk menyadarkan masyarakat mengenai “Pentingnya Memahami Kesehatan Mental”.

Mental adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan pikiran. Jadi, apabila disimpulkan, mental adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan pikiran, batin, dan watak manusia yang tidak berwujud fisik. Oleh karena itu, selain menjaga kesehatan fisik, kesehatan mental juga merupakan salah satu bagian penting dalam hidup yang perlu dijaga kesehatannya. 

Jauh sebelum keadaan maju dan serba modern seperti sekarang, penyakit mental ini sudah ada. Bahkan pada saat itu istilah Mental belum terlalu dikenal oleh kalangan masyarakat karena terbatasnya sumber informasi dan pengetahuan. Akibatnya, saat itu masalah kesehatan mental seringkali dikaitkan dengan perbuatan iblis, roh jahat, kemarahan dewa, dan gejala alam. 

Setelah zaman Renaissance pada abad ke-17 barulah muncul tokoh-tokoh psikologi dan psikiatri. Kemudian, pada abad ke-20 mulai digunakan pendekatan psikologis yang mempelopori penanganan penderita gangguan mental secara medis dan psikologis. Setelah itu, kesehatan mental terus berkembang hingga akhirnya masuk ke Indonesia.

Namun di Indonesia stigma mengenai gangguan mental sering dikaitkan dengan hal-hal negatif, terutama dengan kata “gila” , sayang sekali masalah kesehatan mental masih menjadi hal yang tabu dan disepelekan  oleh masyarakat Indonesia. 

Faktor budaya juga membuat masyarakat memiliki pandangan yang beragam  mengenai  gangguan mental, selain itu rendahnya tingkat literasi kesehatan mental di Indonesia menyebabkan kurang luasnya wawasan yg di miliki termasuk wawasan mengenai pengetahuan tentang kesehatan mental.

Nah, untuk menjaga kesehatan mental itu sendiri yang perlu kita lakukan adalah dengan mengenal diri kita terlebih dahulu sobat!

Menurut lingkar Psikologi (@psycircle) banyak orang yang bilang kalau untuk menjaga kesehatan mental, kita perlu sadar dan paham dengan keadaan diri sendiri terlebih dahulu, seseorang itu gak akan sadar kalau kesehatan mental itu penting tanpa pemahaman self awareness yang baik. 

Ada pepatah yang mengatakan “tak kenal maka tak sayang” nah , kalau kamu mau lebih sayang  sama diri sendiri tentu kamu harus mengenalinya terlebih dahulu. ada beberapa cara agar kamu lebih aware terhadap kondisi mental diri sendiri. 

Menurut  @psycircle,  Self Awareness atau Kesadaran Diri merupakan kemampuan untuk melihat diri sendiri secara jelas dan objektif melalui intropeksi atau dapat di katakan juga Self Awareness adalah sikap berupaya untuk memahami dan memerhatikan pikiran, perilaku, dan perasaan diri sendiri, serta dampaknya terhadap orang lain. 

Menurut Hurlock (1979) konsep diri merupakan gambaran seseorang mengenai diri sendiri yang merupakan gabungan dari keyakinan fisik, psikologis, social, emosional aspiratif, dan prestasi yang mereka capai. 

Menurut Burn (1993) konsep diri sebagai kesan terhadap diri sendiri secara keseluruhan yang mencakup pendapat nya terhadap diri sendiri, pendapat tentang gambaran diri sendiri di mata orang lain, dan pendapatnya tentang hal-hal yang di capai. Jadi, dari beberapa defenisi yang telah di kemukakan tadi dapat disimpulkan bahwa Kesadaran Diri adalah apa yang dirasakan dan pikirkan oleh seseorang mengenai dirinya sendiri. “Jika kita tidak mengetahui siapa sebenarnya kita, kita lebih beresiko terperangkap secara destruktif pada yang kita pikirkan adalah diri kita” (Adjie Silarus,2015:122)

Lalu, bagaimana cara membangun Self Awareness atau Kesadaran Diri ? salah satunya adalah dengan melakukan Meditasi. Saat melakukan meditasi kita akan memusatkan pikiran terhadap sesuatu yang sedang terjadi, sehingga tubuh  akan lebih menyadari diri sendiri dan apa yang telah terjadi dalam hidup. Namun terkadang saat bermeditas pikiran kita mendadak meloncat kesana kemari, tanpa kita sadari hal ini disebut dengan “monkey mind” .

Menurut Charles Luk (1990) justru fungsi meditasi adalah untuk mengendalikan  “monkey mind” sehingga kita dapat selalu fokus dan selalu sadar untuk berada disini, saat ini.

Menurut Charles Luk, cara mengandalikan monkey mind ini adalah dengan merasakan napas kita saat sedang bermeditasi. Saat menghirup napas, rasakan dan sadari bahwa kita sedang menghirup udara. Kemudian menghembuskan udara, rasakan dan sadari pula bahwa kita sedang menghembuskan napas. Lakukan terus menerus dan jadikan napas sebagai “jangkar pikiran kita sehingga pikiran kita tidak menjalar kemana-mana.

Jika diri kita hadir utuh disini saat ini, dan melawan setiap gangguan yang datang seperti penyesalan, kenangan  akan masa lalu, atau kecemasan, dan mimpi akan masa depan, kita dapat berkarya lebih baik. Caranya ya dengan memfokuskan diri pada apapun yang sedang kita kerjakan, bukan malah membiarkan pikiran mengembara entah kemana saat mengerjakan sesuatu. 

Salah satu manfaat jika kita memfokuskan diri pada pekerjaan adalah dapat membantu kita fokus saat menjalani kegiatan sehari-hari. Selain itu dengan menjadi pendengar yang baik juga dapat membantu kita dalam mengenali diri sendiri lho! Karna dengan bersikap terbuka, kita dapat belajar untuk mendengarkan secara objektif apa yang ingin disampaikan orang lain dan pada akhirnya dapat membantu kita belajar mendengarkan secara objektif pula apa yang ingin disampaikan diri sendiri. (*)

loading...
 Sumber : Penulis /  Editor : Dodi

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]