Mengapa Amerika Butuh Suara Muslim di Pilpres?


Jumat, 16 Oktober 2020 - 13:01:09 WIB
Mengapa Amerika Butuh Suara Muslim di Pilpres? Capres petahana Amerika Serikat ( AS) Donald Trump dan penantangnya Joe Biden memulai debat pertama pemilihan umum AS yang digelar di Case Western Reserve University, Cleveland, AS, Rabu (30/9) WIB.

HARIANHALUAN.COM - Persaingan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan kandidat presiden dari Partai Demokrat Joe Biden dalam kampanye pemilihan umum presiden AS 2020 semakin sengit. Warga AS bersiap untuk memberikan suara untuk memilih presiden pada pemilu yang dijadwalkan pada 3 November 2020 mendatang.

Menjelang dua pekan pemilu AS, CEO Emgage Action, Wa'el Alzayat mengajak semua pihak untuk merenungkan pilihan yang akan dibuat pada saat hari pemilihan nanti, dan pentingnya membuat pilihan yang benar.

Emgage Action adalah sebuah organisasi mobilisasi dan advokasi pemilih yang berusaha untuk memberdayakan komunitas Muslim Amerika melalui keterlibatan sipil dan literasi politik. Sebelumnya, Alzayat juga merupakan pakar kebijakan luar negeri di Departemen Luar Negeri AS.

Dalam artikel yang diterbitkan di situs Religion News Service, dilansir Jumat (16/10), Alzayat memaparkan tentang mengapa semua orang Amerika membutuhkan suara Muslim untuk memilih dalam pemilu presiden nanti.

Ia berpandangan demikian setelah melihat pertemuan pertama antara Joe Biden dan Trump sebagai calon presiden. Ia menyebut, debat 90 menit itu mengungkapkan keburukan kepresidenan Trump di panggung nasional dan global.

Di satu titik selama debat tersebut, Trump menolak keras mengutuk fasisme Amerika Serikat, ketika dia mengatakan kepada kelompok pembenci the Proud Boys untuk "mundur dan berdiri." Sebagai mantan pejabat keamanan nasional, imigran generasi pertama dan seorang Amerika, Alzayat merasa terkejut namun juga tidak terkejut. Menurutnya, Amerika tidak bisa menanggung masa empat tahun lagi dari presidensi yang dinilainya berbahaya dan tidak bermoral.

Karena itulah, ia mengatakan merupakan kewajiban para pemilih untuk memilih pada November nanti. Suara mereka menurutnya tidak hanya untuk melindungi demokrasi AS, tetapi untuk mempertahankan kepatutan (kesopanan) sebagai sebuah bangsa.

"Tidak ada yang merasakan urgensi ini sedalam komunitas Muslim Amerika. Hasil pemilu ini akan berdampak pada masalah kritis bagi kita, baik sebagai Muslim maupun sebagai orang Amerika," kata Alzayat.

Salah satu tindakan pertama yang diambil Trump saat menjabat ialah menandatangani perintah eksekutif yang sangat diskriminatif yang melarang orang-orang dari sejumlah negara mayoritas Muslim untuk masuk ke AS. Menurut Alzayat, banyak di antaranya yang sudah bekerja di AS.

Kini, kata dia, AS menghadapi kemungkinan dari periode empat tahun lagi atas pelarangan, yang memperdalam Islamofobia, dan meningkatkan kejahatan kebencian. Dalam hal ini, ia menyebut bahwa pemilu yang akan datang adalah referendum tentang apakah kebijakan dalam empat tahun terakhir ini harus dihukum atau dihargai.

Karena itulah, Alzayat menekankan bahwa suara Muslim Amerika untuk memilih presiden nanti dibutuhkan. Sebab, warga Amerika menurutnya membutuhkan presiden berikutnya yang akan menjadi pemimpin yang menghormati keragaman bangsa dan akan menghadapi fasisme.

Ia mengatakan, Muslim Amerika telah menjadi bagian dari negara itu sejak Muslim Afrika Barat dibawa sebagai budak dalam beberapa tahun pemukim Eropa pertama. Kisah mereka dan tentang generasi Muslim yang mengikuti mereka adalah bagian dari cerita Amerika.

"Kita harus melawan mereka yang berusaha membuat kita tidak terlihat. Dan kita harus memilih pemimpin yang menghormati keragaman kita sebagai bangsa dan memahami keharusan strategis dan moral dalam menghadapi fasisme," ujarnya.

Alzayat menyebut bahwa Joe Biden bukanlah pilihan pertama bagi banyak Muslim Amerika dan ia bersimpati pada sentimen itu. Menurutnya, Muslim mungkin tidak setuju dengan Biden dalam semua isu, dan pada kenyataannya, mereka jarang setuju dalam semua isu. Namun, Muslim Amerika akan memiliki posisi dalam membuat keputusan dalam pemerintahan Biden.

"Yang terpenting, Biden telah berjalan bersama kami, bergabung dengan kami di pertemuan bersejarah Million Muslim Votes kami untuk mendorong komunitas kulit berwarna untuk muncul di tempat pemungutan suara," katanya.

"Ini dan banyak komitmen lainnya dibuat karena keterlibatan aktif dari komunitas yang semakin aktif dan berpikiran sipil. Keterlibatan sipil adalah tugas kita, tidak hanya sebagai orang Amerika, tetapi sebagai aktor moral: Mengabaikan kewajiban itu membuat kita terlibat dalam pemilihan pemimpin yang menyebarkan rasisme dan Islamofobia," tambahnya. (*)

loading...
 Sumber : Republika /  Editor : Heldi Satria

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Sabtu, 28 Maret 2020 - 12:46:11 WIB

    Mengapa Angka Kematian karena Virus Corona di Jerman Sangat Rendah?

    Mengapa Angka Kematian karena Virus Corona di Jerman Sangat Rendah? BERLIN, HARIANHALUAN.COM - Menurut data Robert Koch Institut (RKI), lembaga resmi di Jerman yang mengeluarkan statistik Covid-19, tingkat kematian di Jerman berada di bawah 0,5 persen. Bandingkan dengan tingkat kematian di It.
  • Ahad, 27 Oktober 2019 - 19:42:28 WIB

    Sama-sama Afrika, Mengapa Warna Kulit Mesir tak Hitam?

    Sama-sama Afrika, Mengapa Warna Kulit Mesir tak Hitam? NEW YORK, HARIANHALUAN.COM – Penampilan orang Afrika Utara telah menjadi perdebatan panjang oleh orang Afrika selama satu abad terakhir. Sebab, orang Afrika Utara seperti penduduk Libya, Mesir dan Tunisia, tidaklah berkulit.

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]