Waspada! Pesepeda Diincar Pelaku Begal


Jumat, 23 Oktober 2020 - 15:34:18 WIB
Waspada! Pesepeda Diincar Pelaku Begal Ilustrasi

HARIANHALUAN.COM - Bersepeda menjadi salah satu gaya hidup yang naik daun selama pandemi. Namun, tren tersebut diikuti dengan pelaku kejahatan yang mengintai dan melakukan penjambretan hingga melukai pesepeda.

Direktur Eksekutif Institut Studi Transportasi (INSTRAN), Deddy Herlambang, mengungkapkan faktor utama maraknya aksi begal terhadap pesepeda. Menurutnya, belum adanya jalur khusus menjadi penyebab aksi tersebut.

"Ini terutama karena faktor belum ada jalur khusus dalam hal ini pagar yang safety mungkin (dengan) beton atau traffic cone," kata Deddy saat dihubungi, Jumat (23/10).

Saat ini, jalur pesepeda hanya ditandai dengan marka berwarna hijau. Sehingga begal masih dengan mudah melancarkan aksinya.

Kemudian, sambung dia, karakter pesepeda yang tak memungkinkan untuk mengejar begal. Pasalnya, kecepatan sepeda tak sebanding dengan begal yang menggunakan motor.

"Jadi kalau, misalnya, kena jambret tidak ada pilihan untuk mengejar. Kan kalo jambret sesama motor kan bisa ngejar," ucapnya.

Terkait dengan penampilan pesepeda, Deddy mengungkapkan, masih ada potensi bahwa pesepeda dianggap sebagai orang mampu secara ekonomi. Apalagi, ketika pesepeda membawa tas branded dan sepeda bermerek.

"Tapi masalah itu bisa disampingkan kalau ibu-ibu naik sepeda ke pasar, anak sekolah. Kan mereka juga belum tentu mampu semua," jelasnya.

Meskipun demikian, selain tetap mengutamakan keamanan, Deddy meminta pesepeda tetap memperhatikan aspek penampilan untuk tak berlebihan. Sehingga, tak mengundang aksi pembegalan.

"Tak perlu mencolok dengan barang mahal. Kalau memakai helm juga jangan mahal-mahal. Kan kelihatan. Nah ini, mengundang juga, wah mahal ini, sepedanya juga demikian," ucapnya.

Selama belum ada jalur khusus pesepeda, Deddy menyarankan, agar mereka bersepeda di trotoar. Hal itu sesuai aturan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 Terkait dengan Sepeda dan Pejalan Kaki.

"Kalau misalnya di trotoar kan aman. Secara fisik memang jauh dari jalan. Tapi risikonya tidak bisa cepat saja," ucapnya.

Aksi penjambretan peseda diakui penggemar aktivitas bersepeda mengkhawatirkan. “Memang kan akhir-akhir ini sering banget dengar ada begal pesepeda, ada jambret yang nyasarnya pesepeda doang. Karena gue kan baru juga mulai sepedaan kayaknya gue akan mengurangi dulu deh intensitas bersepedanya atau bahkan berhenti dulu,” ujar Mutia salah seorang warga Jakarta memulai hobi bersepeda pada Juni 2020.

Tak hanya meresahkan bagi pesepeda pemula, para penjambret itu bahkan membuat rasa trauma bagi pesepeda yang menjadi korban perampasan barang berharganya. Ada keengganan untuk kembali menggowes pedal sepeda.

“Jujur trauma, lagi menepi di pinggir jalan tiba-tiba handphone-ku raib gitu aja. Ya sekarang jadinya pilih olahraga lari. Sepedaan juga mikir-mikir, paling di lokasi-lokasi dekat rumah saja jadi nggak perlu bawa barang berharga,” ujar Acen, salah seorang pesepeda yang pernah menjadi korban penjambretan di kawasan FX Sudirman.

Komunitas Brompton Owners Kelapa Gading dan sekitarnya (Bogas) meminta petugas untuk kembali meningkatkan patroli dan pengamanan. Ketua Bogas Chriswanto menjelaskan kepolisian biasanya berpatroli di kawasan pesepeda. Sejak bergulirnya pengesahan Omnibus Law, perhatian polisi teralihkan untuk mengamankan masa demontrasi tolak UU Cipta Kerja.

"Harapan penempatan petugas kepolisian, keamanan Satpol-PP lebih sering patroli, aparat lebih banyak," kata Chriswanto saat dihubungi, Jumat (23/10).

Chriswanto menyebut, anggota komunitasnya seringkali menjadi korban begal. Namun, aksi itu baru ramai menjadi pemberitaan beberapa pekan terkahir ini.

"Tapi sekarang semakin nekat. Yang dulu di jalan-jalan kecil, kalau sekarang di (Jalan) Sudirman, MH Thamrin, trus kawan saya di sebrang Balai Kota DKI, Selasa (20/11) dijambret juga," jelasnya.

Ia menerangkan, aksi penjambretan seringkali mengincar ponsel pesepeda yang diletakkan di stang sepeda dan poket belakang. Berbahaya, urai Chriswanto, jika jambret merebut tas selempang milik pesepeda. Pasalnya, jika tas tersebut dijambret, maka pesepeda berpotensi besar terjatuh.

Chriswanto menyarankan, pesepeda untuk meletakkan ponsel atau dompet pada front block sepeda Brompton. "Di depan, kalo Brompton ada di depan roda depan. Itu paling aman. Tak bisa diambil," jelasnya.

Ia mengimbau, pesepeda juga tetap menggunakan helem demi keselamatan. Kemudian, pesepeda juga tak berpisah dengan rombongan. Menurutnya, penjambretan tak akan berani melancarkan aksinya pada rombongan.

"Kami juga menyiapkan perlindungan dari komunitas sendiri. Karena tak semua jalan ada aparat. Jadi kita harus pereventif sendiri. Ada karyawan yang kita minta mengawal pakai motor," jelasnya.(*)

 Sumber : republika /  Editor : Nova Anggraini

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]