Kisah-kisah Nomor Ampek Bagian Dua, Ketika Padang di Tangan Buya


Senin, 26 Oktober 2020 - 13:20:52 WIB
Kisah-kisah Nomor Ampek Bagian Dua, Ketika Padang di Tangan Buya Foto: Istimewa

“Jika sebuah kota dihuni oleh orang-orang yang memiliki kualitas hidup baik, maka kota itu akan menjadi tujuan bagi orang-orang yang ingin menikmati hal baik. Pun sebaliknya, orang tidak akan datang ke kota yang tidak punya kualitas hidup yang baik,” Jamie Lerner, Wali Kota Curibia menyampaikan ini di banyak pidatonya.

Oleh: Zuhrizul Chaniago

Lerner adalah sosok yang mengubah Curibia, kota kumuh di Brazil menjadi kota yang menjadi tujuan para kaum urban planner untuk mendapatkan ide perancangan kota di dunia. Curibia berubah wajah di tangan Lerner, dari buruk rupa menjadi berseri.

Puluhan ribu kilometer dari Curibia, tahun 2014, Mahyeldi Ansharullah melangkah dengan semangat yang serupa dimiliki Lerner. Mahyeldi yang baru saja dipilih warga Padang sebagai wali kota menggantikan Fauzi Bahar “mewarisi” tata kelola kota yang buruk. Bukan karena amburadulnya penataan kota di tangan pendahulunya, tapi karena Padang dihoyak gempa besar.

Gempa tak hanya meluluhlantakkan bangunan fisik, tapi juga perekonomian. Data Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB), secara keseluruhan kerusakan akibat gempa diperkirakan mencapai Rp21,6 trilliun. Sektor produktif, perdagangan mengalami dampak terbesar dengan kerusakan dan kerugian mencapai total Rp2,4 trilliun. Padang menjadi daerah yang paling marasai.

Jantung Sumatera Barat itu luluh lantak. Mental warganya juga demikian. Sebagai pemimpin beban Mahyeldi teramat berat. Ia harus membangun kota yang telah rapun, sekaligus menyembuhkan mental warganya. Dua pekerjaan itu bertolak belakang. Di banyak daerah, untuk membangun kota, tak jarang ada kepentingan yang mesti dikorbankan, terutama kepentingan warga. Di Padang demikian. Pembangunan Pasar Raya Padang yang didanai pusat berubah menjadi ladang tempur antara pedagang dengan pemerintah di masa kepemimpinan Fauzi Bahar, dimana Mahyeldi menjadi wakil wali kota. Ada ketidaksepakatan antara pedagang dengan pemerintah yang tak duduk. Jadilah ketidaksepakatan itu landasan unjuk rasa besar-besaran. Di satu sisi, pemerintah ingin membangun pasar dengan cepat agar perekonomian bisa kembali berjalan. Pasar raya merupakan sentral niaga kota Padang sekaligus hulu perekonomian. Tapi di sisi lain, masyarakat merasa ada yang tidak adil. Masalah ini berlarut, pembangunan pasar terkatung bertahun-tahun.

Habis masa jabatan Fauzi Bahar, kesemberautan ini jadi tanggung jawab Mahyeldi. Mahyeldi memilih jalan berbeda untuk membangun Padang kembali. Bukan Mahyeldi namanya kalau tak mampu mengatasi masalah. Dia pemimpin gesit, yang bekerja senyap, tapi menampakkan hasil. Dia tidak mengambil pilihan tangan besi, tapi merangkul, melakukan pendekatan secara partisipatif. Dia menyelami setiap persoalan yang terjadi, merinci akar masalah, mengambil kesimpulan, dan mengajak warga kota untuk sama-sama memutuskan arah pembangunan. Khusus dalam membangun Pasar Raya Padang, pedagang menjadi patner pemerintah, saling berbagi masukan, ide-ide dan gagasan. Toh, pasar yang dibangun pemerintah nantinya juga untuk warga. Hidup matinya pasar bergantung pada warga yang bertransaksi. Pemerintah hanya jembatan, cuma pelayan yang tujuannya untuk menampung segala kesah, lalu mencari jalan keluar.

Di tahun-tahun periode pertamanya, Mahyeldi memang fokus melakukan rehabilitasi dan rekontruksi fisik Padang. Perlahan dia melangkah, menyusun strategi, dan memilih para pejabat yang cakap. Mahyeldi paham, berhasil atau tidaknya pembangunan, tidak bergantung pada dirinya saja, tapi pada orang-orang yang mengerjakannya. Bersama Emzalmi, birokrat senior yang menjadi wakil wali kota, Mahyeldi memimpin pasukan untuk memugar Padang.

Tak butuh lama, buah kerja Mahyeldi dan jajaran berbuah hasil. Padang berhasil ditata dengan rapi. Padang yang kusut masai diubahnya menjadi kota nyaman, kota yang selalu dirindui bagi siapa yang singgah. Pasar raya yang dulu pembangunannya terhambat karena adanya perpedaan pendapat dengan pedagang, berhasil dibangun dengan senyap. Tak ada konflik, tak ada unjuk rasa. Pedagang menerima desain pembangunan, sebagaimana pula mereka menerima Mahyeldi sebagai pemimpinnya dengan lapang.

Kini cobalah sejenak berjalan-jalan di Pasar Raya Padang. Semua tertata rapi, pedagang menempati kios-kios yang disediakan, pasar tradisional yang dulu kumuh dan kurang terawat berubah menjadi pasar modern yang ramah bagi siapa saja. Bangunannya bertingkat-tingkat, pedagang ramah, parkirannya rapi. Pasar raya diubah menjadi cerah, dengan pedestrian yang nyaman, tak hanya bagi kalangan normal tapi juga diperuntukkan bagi penyandang disabilitas. Mahyeldi benar-benar menerapkan pembangunan yang berkeadilan.

Hikayat Tenda Ceper

Selesai menuntaskan kemelut pasar raya, Mahyeldi tak berpuas diri. Dia melayangkan pandang ke Pantai Padang atau lebih dikenal dengan Taplau. Lokasi ini berada di bibir pantai. Dulu, Taplau dikenal sebagai lokasi mesum. Di bawah payung-payung yang dikenal sebagai tenda ceper, banyak yang berbuat tak senonoh, berbuat yang tak semestinya.

Taplau yang mestinya menjadi etalase Padang, tak ubahnya sebagai tempat pelepas nafsu semata. Buya Mahyeldi akhirnya turun langsung. Taplau dipenahi. Hasilnya lihatlah sekarang. Taplau begitu tertata, menjadi tempat yang nyaman bagi keluarga. Tenda ceper akhirnya hanya menjadi cerita saja. Tak lagi ada.

Taplau kini merupakan panggung sempurna untuk menyaksikan sunset. Saban hari, orang-orang berdesakan di sana. datang tak sekadar duduk saja, tapi berbelanja. Para pedagang panen setiap hari. Jualan laris, perlahan ekonomi kembali hidup.

Padang, dari kota yang kumuh, di tangan Buya Mahyeldi berubah menjadi kota yang begitu nyaman. Dari kota yang lamban kini berlari kencang mengejar ketertinggalan. Kualitas hidup warganya terdongkrak, angka kemiskinan terus menurun, investor beramai-ramai datang. Ingin membangun Padang. Orang-orang Padang kini boleh berbangga diri. Kota mereka disebut dimana-mana sebagai kota yang nyaman, baik untuk ditinggali ataupun sekadar disinggahi. Padang sekarang adalah kota impian. Anak-anak muda diberikan wadah untuk mengasah kreatifitas, kaum tua dengan tenang menghabiskan hari-harinya dengan segala ketenangan.

Memilih Audy, Memilih Mengabdi Lebih Tujuh tahun berjuang, kini Buya Mahyeldi seharusnya sudah bisa menyandarkan badannya sejenak, beristirahat, sambil menikmati hasil kerja kerasnya. Buya sudah bisa duduk tenang, dan tinggal memetik hasil dari apa yang dilakukannya. Namun Buya tak begitu, dia terus mencoba mengambil tantangan. Berhasil membangun Padang, Buya menatap Sumbar. Dia ingin mengabdi lebih, masih merasa punya banyak tenaga untuk memoles kampung halamannya, tempat dimana ari-arinya tertanam.

Impian dan harapan yang dimilikinya tak bisa terkotak hanya untuk Padang, sementara daerah-daerah lain di Sumbar tidak begitu. Pembangunannya belum merata. Buya ingin pembangunan dilakukan secara berkeadilan, merata. Ketika Padang baik, Sumbar semestinya lebih baik. Baginya, hidup ini hanya tentang dua pilihan. Yakninya, keberanian dan keikhlasan. Berani untuk berbuat, berani untuk mengubah, dan ikhlas dalam pengabdian.

Dengan niat tulus, Buya akhirnya melangkah, mengambil kesempatan untuk membangun Sumbar dengan ikut menjadi konstentan pada pemilihan gubernur (Pilgub) tahun ini. Dia percaya, Hendri Septa, Wakil Wali Kota Padang bisa menjadi suksesornya. Kepercayaan pada wakil inilah yang membuat Buya tenang bekerja. Dia tak memendam curiga pada pasangannya. Buya Mahyeldi berani untuk bertarung di pilgub bukan hanya karena dia yakin memiliki kemampuan, tapi juga yakin Hendri Septa mampu melanjutkan pembangunan di Padang. Lagi pula, dengan menjadi gubernur dia memiliki tangan lebih panjang untuk menjangkau pembangunan. Padang sudah pasti tidak akan ditinggalkan, malah akan semakin dipugar. Bertahun-tahun berpasangan dengan Hendri Septa, tentu komunikasi mereka dalam membangun Padang akan lebih maksimal. Jika buntu Hendri Septa bisa menyandarkan segalanya pada Mahyeldi.

Ketika Buya Mahyeldi digadangkan maju, pertanyan bukan seputar kemampuan atau partai apa yang akan mengusungnya, tapi pada sosok siapa yang akan menjadi wakilnya, pendampingnya kelak. Dengan pola kerja keras yang diterapkan, pendamping Buya tentu harus yang sigap, punya energi lebih, visioner dan punya harapan yang sama dengannya. Soal sosok, banyak yang kesohor, tapi tentu tak semuanya bisa bekerja dengan Buya dengan baik.

Di tengah perdebatan publik tentang siapa yang akan menjadi wakilnya. Tiba-tiba Buya menggandeng Audy Joinaldy. Anak muda gesit yang tak kalah visioner dengan Mahyeldi. Bahkan, visi yang dimilikinya melangkui umurnya sendiri. Audy lahir pada 16 Mei 1983. Lulusan Wageningen Universiteit Netherlands ini ahli di bidang pertanian.Audy anak muda yang sukses, dia punya banyak perusahaan, punya nama. Keluarganya juga demikian, terpandang.

Sebagai anak muda, Audy sebenarnya berada di fase nyaman. Dia tak perlu lagi berkuras tenaga untuk menikmati hidup. Tapi anak muda yang satu ini berbeda. Baginya, kesuksesan itu bukan tentang apa yang sudah diraih, tapi tentang sejauh apa dirinya bermanfaat bagi orang banyak, terutama  bagi kampung halaman. Audy sebelumnya diselimuti kegelisahan ketika orang membicarakan Sumatera Barat, kampungnya. Sumbar diceritakan sebagai daerah potensial di banyak bidang, namun belum mampu dikelola dengan baik. Kegelisahan itu akhirnya menjelma sebagai panggilan. Audy terpanggil turut serta membangun Sumbar. Audy mahfum, visi saja tak cukup untuk membawa perubahan. Dia harus mengumpulkan energi  dan keberanian. Dia ingin berpeluh, berdarah-darah untuk kampungnya. Bak gayung bersambut, dia bertemu Mahyeldi. Keduanya dipersatukan harapan, ide dan gagasan.

Kini keduanya mantap melangkah. Keduanya sama-sama paham, bahwa menjadi pemimpin bukan bertujuan untuk mendapat kehormatan, tapi untuk berbuat lebih pada orang banyak.

Memilih Audy bagi Buya Mahyeldi adalah dejavu pilkada Padang terdahulu. Mahyeldi lebih memilih Hendri Septa, anak muda dibandingkan stok-stok calon pemimpin yang sudah berumur. Mahyeldi percaya, energi  yang dimiliki anak muda, jika dikelola dengan baik, akan menjadi kekuatan yang luar biasa.

Inilah saat warga Sumbar menentukan pilihan, pada siapa kemudi kapal akan diserahkan. Khusus Buya Mahyeldi, warga Sumbar seharusnya tak perlu lagi banyak tanya tentang siapa dia. Buktinya, ketika Padang di tangan Buya, Padang tacelak, Padang ternama dan warganya memiliki kualitas hidup yang baik. Soal Audy, rekam jejak tak akan berdusta. Dia piawai mengelola orang banyak, punya visi yang jelas dan tentunya sosok muda yang enerjik. Buya adalah orang pilihan, sementara Audy merupakan kebutuhan bagi Sumbar. Negeri ini memang butuh anak muda seperti Audy, anak muda yang melangkah dengan kecintaan, dan semangat perubahan, bukan terdorong nafsu untuk berkuasa.

Padang sudah mentereng, kini hanya tinggal menunggu waktu untuk Sumbar menerima pandangan baik seperti orang memandang Padang. Kini masanya Sumbar bergerak lebih kencang, dengan kemudi dipegang dua orang yang total dalam mengabdi. Tentu, dalam berkehidupan dan pergerakan, tidak ada yang lebih membahagiakan dari mendapat pasangan pemimpin yang beranjak maju serta matang karena ujian, pemimpin rendah hati yang mengorbankan kepentingan pribadinya untuk kepentingan orang banyak. Kita semua harus hakul yakin, kebahagian itu ada pada Mahyeldi – Audy, pasangan yang punya keyakinan, kalau Sumbar adalah negeri impian, dimana warganya mesti hidup dalam kesejahteraan! Siapa saja yang memilih Mahyeldi – Audy berarti sudah siap untuk perubahan besar, menuju Sumbar yang madani! (bersambung).

 Sumber : Relis /  Editor : Milna Miana

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]