Asal Muasal Ucapan Presiden Prancis Soal Islam yang Tuai Kritik


Senin, 26 Oktober 2020 - 19:42:35 WIB
Asal Muasal Ucapan Presiden Prancis Soal Islam yang Tuai Kritik Emmanuel Macron

HARIANHALUAN.COM - Gejolak akibat pernyataan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, karena dinilai menghina Islam menimbulkan kecaman dari sejumlah pihak.

Polemik itu dimulai sejak awal Oktober. Saat itu Macron menyampaikan pernyataan tentang ancaman kelompok radikal Muslim yang ingin mengubah nilai-nilai liberalisme dan sekulerisme di Prancis.

"Ada kelompok radikal Islam, sebuah organisasi yang mempunyai metode untuk menentang hukum Republik dan menciptakan masyarakat secara paralel untuk membangun nilai-nilai yang lain," kata Macron saat itu.

Tidak lama setelah menyampaikan pernyataan itu, sebuah tragedi terjadi pada 16 Oktober. Seorang guru sejarah di Prancis, Samuel Paty (47), dipenggal di daerah Eragny oleh seorang pemuda pendatang dari Chechnya, Abdoullakh Abouyezidovitch (18).

Pemicunya adalah dia sempat membahas tentang kartun Nabi Muhammad S.A.W., di dalam kelas yang kemudian menuai kontroversi. Di awal, dia sudah mengizinkan sejumlah pelajar Muslim untuk keluar kelas jika tidak sepakat dengan materi yang dia bahas.

Topik pembelajaran itu lantas diceritakan oleh sejumlah murid Muslim kepada orang tua mereka. Peristiwa itu lantas ramai diceritakan di media sosial.

Paty yang melihat unggahan itu kemudian mengadu ke polisi atas dugaan pencemaran nama baik.

Abouyezidovitch disebut melihat unggahan itu di media sosial dan merencanakan membunuh Paty. Dia lantas mendekati murid-murid di SMU du Bois d'Aulne untuk mengenali incarannya, dengan imbalan uang.

Pemuda itu kemudian menyerang saat Paty pulang kerja. Dia kemudian ditembak mati oleh polisi karena dianggap mengancam lantaran membawa senjata mainan yang dikira senjata api.

Selama ini gerak-gerik sang pelaku tidak pernah terpantau satuan intelijen antiteroris Prancis. 

Setelah kejadian itu, Macron langsung mendatangi lokasi. Dia menyatakan pelaku adalah seorang radikal Muslim. Dia menyebut Paty sebagai martir karena mengajarkan kebebasan berpendapat.

Dia juga langsung memerintahkan supaya aparat keamanan mengawasi sejumlah organisasi masyarakat Muslim, dan menutup sejumlah masjid yang diduga menyebarkan paham radikal.

Tidak lama berselang, Macron kembali memantik perdebatan setelah menyampaikan pernyataan pada Jumat (23/10), pekan lalu. Dia mengatakan Islam adalah "agama yang mengalami krisis di seluruh dunia".

"Sekulerisme adalah pengikat persatuan Prancis. Jangan biarkan kita masuk ke dalam perangkap yang disiapkan oleh kelompok ekstremis, yang bertujuan melakukan stigmatisasi terhadap seluruh Muslim," ujar Macron.

Macron bahkan berencana mengajukan rancangan undang-undang yang akan mewajibkan seluruh sekolah, baik negeri maupun swasta, menerapkan konsep sekuler. Sebab menurut dia, jika pemerintah gagal membina muda-mudi Muslim dalam kerangka masyarakat sekuler, maka kelompok radikal akan mengambil alih peran itu.

Pernyataan Macron ditanggapi oleh Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan. Dia mengatakan Macron harus memeriksakan kesehatan jiwanya akibat melontarkan pernyataan tersebut.

"Apa masalah individu yang dipanggil Macron dengan Islam dan dengan Muslim? kata Erdogan, "Macron butuh pengobatan mental."

Perdana Menteri Pakistan, Imran Khan, menuduh Macron, "menyerang Islam" akibat pernyataan tersebut.

"Ini adalah saat di mana Presiden Macron bisa memberikan sentuhan penyembuhan dan menyangkal ruang bagi para ekstremis daripada menciptakan polarisasi dan marginalisasi lebih lanjut yang pasti mengarah pada radikalisasi," cuit Khan.

"Sangat disayangkan bahwa dia memilih untuk mendorong Islamofobia dengan menyerang Islam daripada teroris yang melakukan kekerasan, baik itu Muslim, Supremasi Kulit Putih, atau ideologi Nazi," tambahnya.(*)

 Sumber : cnnindonesia /  Editor : Nova Anggraini

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]