PCR, Rapid Test dan Serologi untuk Deteksi Virus Corona, Pilih yang Mana?


Rabu, 28 Oktober 2020 - 09:39:05 WIB
PCR, Rapid Test dan Serologi untuk Deteksi Virus Corona, Pilih yang Mana? Ilustrasi

JAKARTA, HARIANHALUAN.COM - Hingga saat ini pandemi COVID-19 masih berlangsung. Mengingat itu, protokol kesehatan dan deteksi virus corona menjadi hal yang sangat penting. Untuk deteksi virus corona kini tersedia PCR, rapid test, hingga serologi.

PCR yang menggunakan metode swab test untuk mengambil sampel lendir di pangkal hidung dan tenggorokan, masih menjadi upaya deteksi dengan akurasi 100 persen. Namun bukan berarti rapid test dan serologi tidak perlu dilakukan untuk COVID-19.

Jika keduanya bisa digunakan, sebaiknya pilih rapid test atau serologi untuk deteksi virus corona? Bagaimana dengan akurasinya?

Dikutip dari situs Centers for Disease Control and Prevention (CDC), serologi dan rapid test sebetulnya hampir sama. Rapid test merujuk pada commercial antibody test yang mudah diakses masyarakat.

Serologi dan rapid test sama-sama menggunakan sampel berupa tetesan darah untuk mengetahui adanya antibodi dalam tubuh. Antibodi adalah protein khusus yang dibentuk tubuh untuk merespon adanya infeksi.

"CDC menggunakan tes serologi untuk mengevaluasi kinerja tes antibodi komersial yang beredar di masyarakat. Antibodi bisa dideteksi dalam darah pada orang yang telah terinfeksi virus corona," tulis CDC dilihat detikcom pada Rabu (28/10/2020).

Antibodi memungkinkan tubuh melakukan pertahanan saat terinfeksi virus atau bakteri. Produksi antibodi perlu waktu beberapa hari atau minggu bergantung pada reaksi tubuh.

CDC awalnya mengembangkan tes serologi yang dilakukan di laboratorium untuk mengetahui jumlah orang di Amerika yang terinfeksi virus corona. Pada uji serologis, sampel darah dimasukkan dalam tabung khusus yang dibawa ke laboratorium untuk diuji.

Tes serologi CDC adalah ELISA based test menggunakan protein virus corona yang telah dimurnikan sebagai antigen. Mekanisme ini untuk menekan risiko hasil tes serologi dipengaruhi cross-reactivity.

Kondisi cross-reactivity merujuk pada terdeteksinya antibodi virus corona dalam tubuh namun bukan untuk COVID-19. Antibodi muncul sebagai perlindungan menghadapi virus corona lain yang mengakibatkan gangguan tidak terlalu parah.

Dengan mekanisme tersebut, serologi memiliki tingkat akurasi lebih dari 99 persen dan kepekaan lebih dari 96 persen. Serologi bisa digunakan untuk mengidentifikasi COVID-19 pada mereka yang terinfeksi 1-3 minggu sebelumnya.

Mekanisme inilah yang membedakan serologi dengan rapid test untuk mengetahui infeksi COVID-19 dalam tubuh. Rapid test menggunakan alat sehingga mekanisme lebih praktis dan hasil diperoleh lebih cepat.

Namun sama dengan serologi, rapid test tidak disarankan untuk deteksi COVID-19 yang baru terjadi. Antibodi yang hendak diketahui dari rapid test dan serologi dikhawatirkan belum terbentuk, sehingga mempengaruhi akurasi hasil.

Serologi dan rapid test sebetulnya sangat diperlukan asal dilakukan sesuai kebutuhan penanganan virus corona. CDC menjelaskan, hasil tes antibodi sangat penting untuk mendeteksi infeksi COVID-19 yang pernah terjadi.

Terutama pada kasus COVID-19 tanpa atau dengan sedikit gejala. Terkait serologi, CDC telah mendesain dan mengesahkan metode tersebut untuk riset dan pengawasan. (*)


 

 Sumber : detik.com /  Editor : Rahma Nurjana

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]