Ahli Wabah: Kasus Covid-19 Naik Turun karena Sering Terlambat Rapid Test


Rabu, 28 Oktober 2020 - 16:44:22 WIB
Ahli Wabah: Kasus Covid-19 Naik Turun karena Sering Terlambat Rapid Test Ahli Wabah, dr Pandu Riono.

HARIANHALUAN.COM - Problem perjalanan pandemi virus Corona atau Covid-19 di Indonesia adalah gelombang pertama belum terselesaikan. Namun, jumlah virus masih terus melonjak. Ditambah kerap terlambatnya melakukan testing kepada orang yang bergejala.

Hal itu diungkapkan Ahli Wabah, dr. Pandu Riono dalam peluncuran Gerakan Solidaritas Sejuta Tes Antigen untuk Indonesia bertajuk "Jalan Menuju Pandemi Terkendali" melalui aplikasi Zoom bersama Jurnalis Ubah Laku, Rabu (28/10/2020).

"Naik turun kasus Corona di Indonesia karena testingnya. Jadi problemnya testing (rapid test), sehingga jika diumumkan sekarang sudah 900 kasus, dan 500 kasus. Itu bukanlah kasus hari ini, tapi itu kasus beberapa hari yang lalu karena kapasitas testing bervariasi," ungkap Pandu.

Pandu menegaskan, testing yang terlambat dilakukan sangat merugi pandemi Covid-19. Lantaran, mereka dari ilmu wabah mengalami kesulitan dalam membuat kurva pandemi. Saat ini masalahnya adalah jumlah tes, karena tingkatnya masih rendah. Dalam Minggu 41 sekitar 103 tes per 1 juta penduduk.

"Jadi hanya 70 persen, kita harus lebih dari itu. Ini persyaratan minimal bukan optimal. Dan yang paling penting juga angka penularannya masih tinggi, jadi orang yang suspect atau bergejala dites sekitar 13,6 persen hasilnya terkonfirmasi membawa virus," beber Pandu.

Dengan demikian, kata Pandu, maka tidak heran orang yang suspect terus menularkan virus. Mungkin tidak bergejala sebelumnya atau bergejala ringan sehingga hanya sedikit yang masuk rumah sakit. Sehingga membuat rumah sakit sering kewalahan jika terjadi lonjakan kasus.

"Dua Minggu yang lalu pada bulan Agustus karena dua kali liburan panjang terjadi lonjakan kasus. Membuat ICU rumah sakit penuh. Kalau ini terus terjadi tentu sangat menyedihkan karena banyak yang meninggal," ucap Pandu.

Meskipun demikian, Pandu menyebutkan, para tenaga medis terus berupaya menurunkan angka kematian Covid-19. Maka akan sulit jika pemerintah hanya fokus pada penekanan kasus di rumah sakit, yang perlu dilakukan adalah fokus menemukan orang yang membawa virus. Karena orang-orang tersebut yang menularkan.

"Jadi salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mendeteksi mereka adalah testing. Karena sebagian besar dari mereka tidak bergejala, kalau sudah masuk rumah sakit lebih mudah mendeteksi tapi itu sudah terlambat karena kalau sudah pakai ventilator sulit tertolong," ulas Pandu.

Pandu melanjutkan, jika dilihat standar WHO minimal ada keterlambatan di seluruh Indonesia dalam masalah testing. Sejak ada seseorang yang bergejala karena ada jeda saat diambil swabnya sampai 3 dan 4 hari. Sehingga saat swab diperiksa karena PCR masih terbatas jedanya akan makin panjang.

"Baik dari hasil swab dan laporan. Jadi ada tiga jeda membuat keterlambatan terus dalam testing. Selalu ada masalah dalam testing PCR kita. Jadi kita butuh inovasi yang lebih cepat dan akurat. Kalau tes cepat antibodi itu juga terlambat karena yang dideteksi bukan orang membawa virus tapi orang yang sudah mempunyai antibodi jadi riwayat terinfeksi," ungkap Pandu.

Pandu membeberkan seringkali orang yang terlambat pembentukannya seminggu atau 10 hari setelah terinfeksi. Maka pada awal ketika ingin mengetahui orang dengan virus Corona kerap dikatakan non reaktif, padahal mereka membawa virus.

"Nah itu yang terjadi sekarang, diperjalanan pakai rapid test. Atau pada awal pandemi rapid test banyak sekali, sehingga membuat non reaktif dibiarkan terus karena hasil tes tidak memberikan yang akurat dalam mengatasi pandemi," tukasnya. (*)

Reporter : Milna Miana /  Editor : Milna Miana

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]