Histori Saribu Rumah Gadang di Nagari Koto Baru, Solsel


Rabu, 28 Oktober 2020 - 22:47:32 WIB
Histori Saribu Rumah Gadang di Nagari Koto Baru, Solsel Ilustrasi.

HARIANHALUAN.COM-Kawasan Saribu Rumah Gadang (SRG) di Nagari Koto Baru Kecamatan Sungai Pagu Kabupaten Solok Selatan (Solsel) merupakan destinasi wisata adat dan budaya di Provinsi Sumatera Barat (Sumbar). Kawasan SRG di Nagari Koto Baru memiliki jumlah rumah adat tradisional (rumah gadang.red) terbanyak dalam satu kawasan yang masih berdiri sejak ratusan tahun lalu.

Pengamat Adat Budaya Alam Surambi Sungai Pagu, Hasmurdi Hasan ketika dihubungi Harianhaluan.com, Rabu (28/10/2020) mengungkapkan keberadaan kawasan SRG di Nagari Koto Baru merupakan salah satu Koto yang terdapat di seiliran sungai Batang Bangko. Tidak hanya itu namun, juga ada Kapalo Koto Kapau, Koto Baringin, Koto Bira dan Koto di Bawuah, disebut Koto di Bawuah karena posisinya berada di bagian paling hilir sungai Batang Bangko.

“Seiring berjalannya waktu penduduk semakin banyak pemukiman semakin padat, persyaratan menurut adat telah terpenuhi dari Koto menjadi Nagari, syarat Koto menjadi Nagari harus memiliki minimal suku nan ampek, ba Balai ba Musajid, ba labuah ba Tapian. Kisaran abad ke 16 M, maka Koto di bawuah dimekarkan menjadi Koto Baru yang kita kenal sekarang ini,” katanya.

Menurutnya, Alam Minangkabau tergambarkan secara utuh di Alam Surambi Sungai Pagu,seperti: Wilayah Adatnya ba Alam, ba Luhak, ba Rantau, ba Koto dan Nagari. Ba Daulat Rajo Alam, ba Rajo Nan Barampek imbalan Basa Ampek Balai di Minangkabau dan semua ragam Rumah Adat yang ada di Minangkabau terdapat disini.  

Alam Surambi Sungai Pagu, Alamnya di Pasir Talang sebagai pusat pemerintahan adat tepatnya di Malayu Kampuang Dalam. Surambinya di Pasisie Banda Nan Sapuluah. Sungainya Batang Bangko dan Batang Suliti (ini gambaran secara sosiologis penyebaran penduduk Sungai Pagu), dalam pepatah adat dikatakan,” Perahunya Sungai Pagu muatannya Bangko jo Suliti”. Pagunya di Koto Parik Gadang Diateh.

Hasmurdi menegaskan, Nagari Koto Baru merupakan satu wilayah otonomi adat yang berdiri sendiri hasil pemekaran dari pemerintahan adat Alam Surambi Sungai Pagu. Pemerintahan adatnya bercorak Bodi – Caniago, Penghulunya duduk sehamparan tagak sapamatang atau sama tinggi derajatnya, dan setiap suku memiliki koordinator yang disebut Muncak, ada sebelas muncak terdapat di Nagari Koto Baru sesuai dengan jumlah sukunya.

Muncak suku Malayu 4 (Ampek) Nyinyiek; Dt.Rajo Adil muncak suku Malayu, Dt.St.Majolelo muncak suku Koto Kaciak, Dt.Rangkayo Majolelo muncak suku Durian, dan Dt.Sampono Batuah muncak suku Bariang. Muncak suku Panai 3 (tigo) Ibu; Dt.Rang Batuah Basa muncak suku Panai Tanjuang, Dt. Rajo Panghulu muncak suku Panai Tangah, dan Dt.Rajo Pahlawan muncak suku Panai Lundang. Muncak suku Tigo Lareh 4 Kampai; Dt.Bando Labiah muncak suku Sikumbang, Dt.Rajo Indo muncak suku Koto Anyigh, Dt. Bando Sati muncak suku Caniago, dan Dt.Rajo Bagindo muncak suku Kampai. 

Sedangkan dalam sistem pemerintahan adat Alam Surambi Sungai Pagu bercorak Koto – Piliang, ba Pucuak Bulek Barurek Tunggang, ba Rajo nan barampek, ba Tambilang nan barampek di Pauah Duo dan Balantak tuo di Lasuang Batu.

Nagari Koto Baru sebagaimana juga nagari-nagari yang terdapat di Luhak Nan Tigo mempunyai otonomi tersendiri di bawah kekuasaan Penghulu, sesuai pepatah adat “Luhak dibari Ba Panghulu Rantau di bari Barajo”.
Jadi terpisah dengan dengan sistem Rajo Nan Barampek di Alam Surambi Sungai Pagu (ASSP), dan hubungan Penghulu di Nagari Koto Baru dengan Raja-Raja di ASSP hanyalah merupakan hubungan kekerabatan atau yang di sebut ba sapiah ba Balahan. 

“Hal ini bisa dilihat dalam upacara adat, seperti Dt.Marajo dari suku Malayu Koto Bira kalau bertemu dengan Bagindo Sultan Besar kerabat Raja suku Malayu Sungai Pagu bersalaman dengan mengulurkan tangan sambil membelakangi badan. Sebelas anak suku yang ada di Nagari Koto Baru berasal dari 4 induk suku yang ada di Sungai Pagu, dan sebagian penghulunya berasal dari Nyinyiek Kurang Aso 60,” ungkapnya.

Kemudian, imbuhnya dahulu daratan Koto Baru menyatu dengan daratan Pasar Muarolabuah, sungai Batang Bangko alirannya kearah Kampuang Palak melalui bagian Barat SMP 1 dan Tangsi/ Rutan bertemu dengan Batang Suliti, pertemuan Batang Bangko dengan sungai Batang Suliti dinamakan muaro Kaporo, sedangkan daerah Gaduang Batanglabuah di sebut Tanjuang Malego, dalam pepatah adat dikatakan, “ Labuahan Rajo nan batigo, ingatan kato nak jaan kabua, supayo kito nak jaan basangketo”. 

Pada abad ke-19 oleh Belanda Sungai Batang Bangko dibuat Sodetan / Kanal  ke arah Timur, alirannya bertemu dengan Sungai Batang Suliti di Kiambang setelah Jembatan Besi yang ada sekarang. Pembuatan Kanal Sodetan ini membelah Sebagian besar tanah ulayat kaum suku Malayu yang terdapat disepanjang Batang Bangko mulai dari Batang Labuah sampai ke Jembatan Basi sekarang. Sebelum dibuat Kanal Sodetan Batang Bangko, jalan/ Labuah yang digunakan untuk menuju Koto Baru melalui Batang Labuah yang waktu itu tidak perlu menyeberangi Sungai. Lapangan Bancagh adalah merupakan alun alun yang terdapat dibagian depan Koto Baru. 

Masjid Raya di Koto Baru yang ada sekarang dahulu hanyalah merupakan sebuah Surau yang bernama Surau Srikandi, Surau dibangun menjadi Masjid Raya sebagai ujud pemenuhan persyaratan sebuah Nagari, dan bentuknya berbeda dengan Arsitektur Masjid Kurang Aso 60 di Pasirtalang, Masjid Raya Koto Baru serupa dengan Masjid yang terdapat di Rao Rao Sungai Tarab kedudukan Dt.Bandaro Putiah /Tuan Titah junjungan adat Koto Piliang, sedangkan masjid Kurang Aso 60 berbentuk masjid tradisional Minangkabau yang atapnya serupa dengan Masjid yang terdapat di Lima Kaum Batu Sangkar kedudukan Dt.Bandaro Kuniang / Gajah Gadang Patah Gadiang junjungan adat Bodi – Caniago.

Balai adat atau Balai Balai di Koto Baru sebagai tempat musyawarah adat, bangunannya tidak memiliki Anjuang pertanda adat yang digunakan adalah adat Dt.Parpatiah Kelarasan Bodi – Caniago. Dahulunya di ASSP hanya ada satu Balai adat yaitu di Pasirtalang, bangunannya memiliki Anjuang tiga tingkat menandakan adat yang digunakan adat Dt. Ketumanggungan Kelarasan Koto – Piliang, sedangkan di Pauah Duo ada juga tempat bermusyawarah yang di sebut Medan Nan Bapaneh, berupa lapangan terbuka ba atok langik badindiang bukik.

Selanjutnya, dengan semangat kebersamaan menunjukan jati diri sebagai masyarakat adat yang mempunyai otonomi Nagari tersendiri, dan memperlihatkan kepada balahannya yang berada di Pasirtalang, bahwa mereka juga bisa maju, maka setiap kaum berlomba lomba mendirikan Rumah Gadang Kaumnya di setiap suku, sehingga mewujudkan sebuah pemukiman tradisional Minangkabau yang terhimpun pada suatu daratan.

“Kondisi pemekaran Nagari Koto Baru ini menimbulkan rasa kurang harmonis dengan  sebagian warga yang ada di Pasirtalang, karena memisahkan diri dari limbago adat yang selama ini berlaku di ASSP. Kondisi ini di manfaatkan oleh penjajah Belanda dengan politik Devide Et Ampera politik memecah belah sehingga terjadi perpecahan antara masyarakat Pasirtalang dengan masyarakat Koto Baru, akibatnya sering terjadi perkelahian antara pemuda kedua kampung, kondisi ini masih bisa dirasakan sampai dengan akhir tahun 70-an,” sebutnya.

Nah, untuk kawasan SRG yang dicanangkan oleh Meutia Hatta pada 2004 adalah gagasan Brigjend (Purn). Armein Ahmad, Dt.Nan Bakupiah berdasarkan contoh istilah yang digunakan di Lombok NTB yaitu: Daerah Seribu Masjid. Menyaksikan begitu banyak dan rapatnya keberadaan Rumah Gadang di Koto Baru, maka kawasan ini disebut SRG. 

Hasmurdi Hasan mengatajan, pada Kawasan yang relatif terbatas aneka ragam Rumah Gadang terdapat disini, namun kalau diperhatikan secara teliti, akan bisa membedakan tipologi setiap Rumah Gadang berdasarkan modelnya. 

“Rumah Gadang suku Malayu 4 Nyinyiek, Malayu, Koto Kaciak, Bariang, dan Durian, kebanyakan bangunannya berupa Rumah Gadang ba Anjuang, sedangkan Rumah Gadang suku lain tidak memiliki Anjuang. Penggunaan Anjuang pada Rumah Gadang suku Malayu 4 Nyinyiek menandakan bahwa mereka masih berkaitan dengan kerabat keturunan suku Malayu Daulat Raja Alam di ASSP,” bebernya.

Di Koto Baru juga banyak terdapat Rumah Gadang ba Barando/ Serambi, berbeda dengan di daerah Pasirtalang dan Sako Luhak nan Tujuah tidak terdapat satupun Rumah Gadang ba barando, kondisi ini menandakan bahwa Pasirtalang adalah  merupakan Alam tersendiri  dalam Alam Minangkabau. Tipology Rumah Gadang Panjang juga terdapat di Koto Baru, di Tigo Lare terdapat Rumah Gadang ba Puncak 7 ba Janjang satu di tangah, di Malayu Bawa Anau terdapat Rumah Gadang Bapuncak 7 ba Janjang di tangah yang terkenal dengan sebutan Rumah Gadang Gajah Maram, di Kapalo Koto terdapat Rumah Gadang ba Puncak 6 ba Janjang tigo. Sedangkan Surau Menara yang terdapat di dekat Lapangan Bancagh keberadaannya sezaman dengan surau Srikandi yang sekarang telah menjadi Masjid Raya Koto Baru. (*)

Reporter : Jefli / Editor : Dodi

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]